5.18.2015

Kondangan Icha di Bandung

Kamis lalu saya dan teman-teman berangkat ke Bandung untuk memenuhi undangan resepsi pernikahan Icha, teman sekelas pasca ARL. Rombongan kami hanya 5 orang yaitu Pak Guriang, Anggi, Saya, Kanda, dan Artum. Teman-teman pasca lain tidak dapat hadir karena terkendala lokasi.

Ke Bandung
Full team!
Ki-ka: Artum, Pak Guriang, Anggi, Jani, Yanet

Usai sholat subuh, saya dan suami dijemput oleh Pak Guriang dan Anggi, lalu menjemput Artum. Sebenarnya rencana berangkat lebih awal untuk menghindari macet, maklum hari libur. Tapi karena satu dan lain hal, kami baru berangkat dari Bogor sekitar setengah enam pagi. Untunglah jalanan tidak terlalu padat, tapi juga tidak terlalu lengang sih. Perjalanan kami terhitung lancar.

Resepsi dimulai pukul 11 sampai 2 siang. Kami masih punya waktu yang cukup untuk perjalanan santai. Dua kali singgah di rest area untuk beristiahat, belanja cemilan, dan buang air kecil, satu kali sekalian isi bensin 200 ribu. Pemandangan menuju Bandung cukup menghibur hati, apalagi sambil bercanda dengan teman-teman.. :)

Sawah terasering
Pemandangan sawah terasering selalu membuat saya kagum.
Maklum Pontianak tanahnya datar.. #sepok

Sampai di Bandung, alhamdulillah tiada kurang suatu apapun. Saya sebagai penumpang perempuan satu-satunya, mulai merapikan riasan di dalam mobil tepat ketika memasuki gerbang kota. Bedak saya sudah berganti minyak di-puk puk kertas minyak dan bedak, lipstik tipis yang hilang karena makan kue dan camilan selama di perjalanan dipulas ulang. Saya menambahkan sedikit pemulas mata berwarna gelap di sudut mata sebagai aksen. Sebenarnya tidak akan terlalu nampak karena warnanya natural dan tertutup jilbab, tapi cukuplah memberi sedikit warna supaya agak berbeda dari keseharian. Ini kan undangan! :D

Acara yang akan kami hadiri berlangsung di salah satu gedung di Jalan Aceh, dekat dengan Gedung Sate (dilihat dari peta undangan). Perjalanan agak terhambat karena ada demo damai yang dilakukan massa HTI yang berkonvoi jalan kaki di sekitar Gedung Sate. Cukup ramai. Berhubung kami berlima bukan orang Bandung, (Anggi dan Artum biasa ke Bandung tapi tidak hafal jalan) jadi muter-muter deh nyari jalan alternatif ke Jalan Aceh. Alhamdulillah berkat aplikasi google map yang bisa ngomong di hape canggih Anggi, kami sampai di lokasi beberapa menit kemudian. Sampai di gedung resepsi (atau lebih tepatnya pesta pernikahan), kami parkir agak jauh dari pintu masuk karena masih akan berbenah, ke kamar kecil, dan merapikan diri. Ada juga yang kongsi pakai parfum, hehe. Seragam deh baunya.. :p *bukan saya* :D

Kami tidak terlalu lama di sana. Setelah menuliskan nama di buku tamu, masuk gedung, dan berdiri sebentar menikmati suasana, kami segera masuk antrian ke pelaminan untuk mengucap selamat kepada pengantin baru dan orang tua di pelaminan, lalu makan, tukar suvenir, lalu pulang. Kami tidak keliling mencicip makanan yang ada seperti waktu pesta pernikahan Tya dulu, soalnya sudah kenyang makan nasi. Alhamdulillah, nikmat sekali sajiannya. :)

Para pria
Ini waktu baru masuk gedung. Eh, posisi tangannya beda-beda ya.. :D

Oh ya. Saya terkesan dengan Mamanya Icha yang menyapa saya dan suami dengan ramah. Ternyata beliau masih ingat dengan saya dan suami. Aww.. Padahal baru bertemu satu kali waktu wisuda Icha dulu. Saya tak menyangka. :) Sayangnya tidak bisa berfoto dengan pengantin karena ramai. :(  Tapi tak apa, yang penting sudah memenuhi undangan sebagai perwakilan kelas. Alhamdulillah.. ^^

Untuk Icha dan Ayip, semoga jadi keluarga sakinah mawaddah warahmah, aamiin..

Di tengah pesta, kami ketemu beberapa dosen seperti Bu Is, Pak Ian, Bu Indung. Sempat lama berbincang dengan Bu Is dan Pak Ian karena kami mengambil sajian yang sama. Rupanya Pak Ian akan pulang bersama kami, jadi setelah foto-foto sebentar dengan Bu Is, kami (sekarang berenam) pulang.

Dengan Bu Is

Emm.. Tepatnya tidak langsung pulang sih, tapi singgah-singgah dulu. Di perjalanan pulang, sempat singgah ke masjid Al Irsyad di Kota Baru Parahyangan Bandung untuk sholat.

di Masjid Al Irsyad
Di depan Masjid Al Irsyad Kota Baru Parahyangan Bandung

Setelah perjalanan dilanjutkan lagi, saya sempat tidur beberapa kali jadi kurang tahu mau dibawa ke mana. Pas bangun, sudah di Cianjur. Rupanya Anggi mengajak kami membeli nata de coco sebagai oleh-oleh. Katanya ia pernah beli nata de coco yang enak di Cianjur, jadi dia mengajak kami mencobanya.

Tapii... Anggi lupa jalan menuju ke tempat penjualan nata de coco nya. Jadi, harus muter-muter lagi. Saya sih tidak terlalu masalah karena cuma kebagian duduk manis, malah kasian sama Anggi yang menyetir. Mungkin dia pengen sekali makan nata de coco nya. Saya jadi penasaran dengan rasanya, seenak apa. Alhamdulillah setelah nyasar beberapa kali, akhirnya ketemu tempat usaha rumahan nata de coco atau manisan sari kelapa, milik Haji Roni Agus S. Sip! Sampai di sana, masing-masing kami membeli untuk oleh-oleh untuk dibawa pulang. Harga manisan sari kelapa alias nata de coco ini relatif murah, cuma 8 ribu per bungkus. Ada yang kolak, ada yang biasa. Yang biasa lebih tahan lama.

Manisan sari kelapa Cianjur
Penampakan nata de coco H. Agus S..

Selain nata de coco, ada banyak oleh-oleh lain, tapi saya tidak tertarik jadi hanya beli manisan sari kelapa (karena penasaran). Kami juga sempat singgah sebentar di sebuah supermarket, membeli cemilan lagi. Duh, perut, makan teruss..

Perjalanan berlanjut, saya tidak terlalu sadar karena lebih banyak tidur setelah cemilan habis. Pemandangan puncak pun berkabut, jadi tidak terlalu bisa dinikmati. Selain tidur, kadang saya mendengarkan Pak Ian cerita tentang banyak hal dan berdiskusi. Salah satunya tentang kuliah umum Dr Burley beberapa hari sebelumnya. Seru. Tapi setelah energi habis, ya saya tidur lagi. hehe.

Magrib pun tiba. Kami berhenti di masjid Atta'awun Puncak Pass, ternyata parkir penuh. Pak Guriang khawatir memarkirkan mobil adiknya yang kami tumpangi di pinggir jalan. Beresiko sih. Plus jalan padat merayap. Jalan turun via puncak memang ramai petang itu. Jadi batal singgah, lanjut jalan agar lebih cepat sampai di Bogor. Sholat dijama' di rumah.

Oh ya, kami sempat singgah sekejap beli peuyeumpuan. Harganya 15 ribu per kilo.

Peuyeum
Penampakan peuyeum yang dibeli..  

Sampai di Bogor sekitar pukul setengah 9 malam, kami mengantar Artum dulu di Sempur, lalu Pak Ian di Jalan Baru, lalu saya dan suami di Cibeureum Petir. Sampai di rumah kami sekitar jam 9 malam. Anggi dan Pak Guriang sempat singgah ke rumah, beristirahat sejenak, lalu bersama kami makan nasi dan mie goreng di warung cak Roni di depan kompleks, baru deh pisah. Pak Guriang masih harus melanjutkan perjalanan ke Cibubur. Anggi sudah menawarkan menginap di kosan nya (btw Anggi ini cowok lho ya!), tapi beliau menolak karena Ibunya menunggu di Cibubur.

Pulang ke rumah, huwah, rasanya badan pegal-pegal. Padahal tidak menyetir. Malam itu saya dan suami tepar, tertidur di ruang tamu. Besok paginya kami makan nata de coco dan peuyeum yang dibeli sambil tertawa-tawa mengingat cerita sehari sebelumnya. Saya akan merindukan momen ini.. :)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

4 comments:

  1. bner banget, kalo ke bandung jangan smpe luba beli peyeum

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Ikon gitu ya mas Galih. Rasanya enak sih. Eh, nata de coconya juga enak lho! Sayang kemarin cuman beli 2 bungkus...

      Delete
  2. Itu oleh-olehnya kok kesukaanku semua ya, hahaha
    Senang ya kalo bisa traveling rame-rame, bisa curhatan sepanjang jalan :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Uwiih, sama berarti kita mak.. :D *tos

      Iyaa, alhamdulillah bisa travelling sama2 lagi, walau anggota nya nggak lengkap.. ^^

      Delete

Terima kasih atas kunjungannya yaa. Salam kenal!

**Komentar dimoderasi karena banyak spam. Ihik!