6.20.2022

Masaku, Masamu

Setiap fase punya masa.

Dulu, saat orang tercintaku sakit, dia dengan teganya bertanya tanpa dosa, "memangnya dikasih makan apa, bisa sakit begitu?"
Lalu dia pun berlalu, tak membantu.

Aku belajar.
Barang branded tak mencerminkan akhlak.
Pekerjaan berkelas tak menunjukkan moral.
Empati lebih mahal dari itu. Tak dapat dibeli.

Sekarang keadaan berbalik padanya.

Aku takkan mengatakan hal yang sama, atau bersikap serupanya. 
Aku hanya akan mendoakan kesembuhan dengan tulusku, dalam diam dan geramku.

Semoga dia belajar sesuatu.

Jikapun tidak, tak mengapa. 
Dia mengajariku, satu.
Untuk selalu menjaga lisanku.

~ Sambas, 20 Juni 2022

Read more…

6.17.2022

Awan


Awan adalah momen
Kamu dan aku dapat menikmati tariannya bersama
Saat kita berdekatan ataupun berjauhan
Dalam satu waktu ataupun berbeda masa

Namun ingatlah
Apa yang kulihat takkan sama persis dengan apa yang kamu lihat
Tempatku berdiri akan menentukan sudut pandangku
Begitupun denganmu

Bilapun kita pernah berdiri di titik yang sama, pastilah detiknya berbeda
Kamu duluan, atau mungkin belakangan
Bilapun gambar mampu mengabadikan titik dan detik yang persis sama, bisa jadi persepsi kita berbeda

Jadi nikmatilah

(Sambas, 17 Juni 2022. Jum'at pagi saat gerimis)

Read more…

5.19.2022

Syukur

Bersyukurlah atas segala yang kita miliki meski terasa tidak sempurna..

Di luar sana, ada yang dalam diam berusaha kuat, mengumpulkan tenaga dan semangat, tak henti berdoa, sambil tetap tersenyum. Begitu senyap sehingga ketika mereka bercerita kepada kita tentang kesulitan yang mereka hadapi, kita akan kaget karena tak pernah menyangka.. 

Betapa tegarnya mereka, dan betapa beruntungnya kita..

Read more…

5.13.2022

Harap

Tidak dihitung
Diabaikan
Tidak dianggap berharga
Dikhianati
Semua itu pasti pernah kita alami
Setidaknya barang sekali

Luka-luka itu tidak terlihat kasat
Tidak berdarah, seperti tidak memerlukan obat
Tapi ada, menunggu untuk dirawat

Waktu mungkin diciptakan untuk memberi jeda
Benang-benang fibrin terangkai untuk menutup luka
Memori otak yang terbatas untuk memaksa lupa
Meskipun seringkali luka batin tetap menganga
Ditandai rasa sulit percaya pada manusia
Atau menarik diri dari kehidupan nyata

Benarlah kata Ali bin Abi Thalib, salah satu sahabat dari manusia paling mulia
"Aku sudah merasakan semua kepahitan hidup dan yang paling pahit adalah berharap kepada manusia"

Read more…

5.05.2022

Sangka

Aku tidaklah sebaik yang aku sangkakan pada diriku sendiri
Demikian pula kamu, tidaklah sebaik yang kamu sangkakan pada dirimu sendiri
Kita semua sama
Kita memiliki kecenderungan untuk merasa benar
Setidaknya dari satu sudut pandang: kita sendiri

Kita mengatakan hal yang tidak seharusnya
Melakukan yang tidak sepatutnya
Atau mungkin tidak melakukan hal yang sepatutnya
Tapi seringkali kita lupa
Hanya mengingat betapa buruknya perlakuan orang lain kepada kita
Tanpa mengingat awal segalanya bermula

Itulah manusia
Pelaku dari khilaf, salah, dan lupa
Kalau kamu lupa tentang itu, semoga ingat membaca ini lagi

#sebuah self-reminder
4 Syawal 1443 H

Read more…

3.28.2022

Pengalaman Vaksin Pertama

Hari ini, setelah 2 tahun lebih pandemi berlangsung, akhirnya saya vaksin juga. Alhamdulillah

Gimana pengalamannya? 

Hmm. Aslinya sih biasa saja: ngambil antrian, nunggu dicek administrasi dan kesehatan, nunggu lagi dipanggil untuk disuntik, di-cus, nunggu lagi untuk dapat surat keterangan sudah vaksin. Simpel. Nyatanya tidak sesimpel itu. Atau mungkin lebih tepatnya, tidak sesingkat dan sesebentar itu. Walaupun benar urutannya begitu tapi ngantrinya asli lamaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

Disclaimer: Ini pengalaman saya. Tiap orang beda-beda.

Saya datang bersama suami dan anak bayi. Saya mulai ngantri pukul 8.30. Saya ingat waktunya karena ada jam dinding di lokasi pelaksanaan. Saya dapat nomor antrian 77. Okelah. Nunggu nunggu nunggu, pukul 9-an dipanggil di meja registrasi untuk administrasi dan pemeriksaan kesehatan. Administrasi mudah, cuma perlu bawa fotokopi KTP. Dah, itu saja. Periksa kesehatan juga cuma periksa tensi atau tekanan darah dan suhu tubuh, plus ditanya-tanya riwayat kesehatan. Tidak ada masalah, insyaAllah. 
*tapi tadi pas sesi ini saya lupa bilang kalau saya busui, jadi baru dikasih tahu pas di bagian penyuntikan. 

Dah, ngantri bagian pertama selesai. Berkas sudah dikasihkan ke meja admin bagian penyuntikan. Di sini nih yang nyesek banget. Masuk berkas anggap saja sekitar pukul 9.30 an. Anak dan suami saya masih ceria menanti dari ujung kursi yang lebih terbuka sirkulasinya. Kami memang sengaja duduk terpisah, soalnya ramai. Kasian anak bayi belum 2 tahun belum bisa pakai masker. Saya yang pakai masker saja rasanya pengen duduk jauh-jauhan dari orang, tapi kan susah. Jadi untuk meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan, bayi dijaga jarak dengan orang lain..

Mau vaksinasi kok bawa bayi? 
Jawabnya jelas: TERPAKSA. Jangan nanya lebih lanjut, karena saya malas mau cerita lebih panjang lebar dari sekarang. Intinya, maunya tidak dibawa tapi mau tidak mau dibawa. Kalau masih mau nyolot juga, mending berhenti deh baca postingan ini. Saya cuma mau cerita. Key

Oke lanjut.

Sudah sejak duduk nunggu, saya punya firasat kurang nyaman. Apalagi ada uwan-uwan (panggilan untuk nenek-nenek di sini) yang mungkin usianya sudah 70an karena udah bungkuk banget, yang mengeluhkan kenapa beliau lama sekali dipanggil untuk disuntik. Meskipun saya punya firasat tidak nyaman, tapi kan harus tetap berpikir positif. Saya membatin, mungkin perasaan uwannya saja. Jadi saya ajak uwannya ngobrol tipis-tipis. Dari mulai vaksin keberapa, sampai cerita tentang cucunya yang ikut mengantarkannya vaksin. Mungkin pukul 10 lewat 20 menitan, akhirnya beliau dipanggil untuk suntik. Beliau ini nomor urut 64 kalau tidak salah. Saya membatin, sebentar lagi saya, insyaAllah..

Tapi tunggu punya tunggu, saya jadi kesal sendiri. Soalnya perasaan saya kok banyak yang jauh belakangan dari saya bisa duluan. Tapi oke mungkin ini hanya perasaan saya. Jiwa-jiwa plegmatis saya yang menginginkan perdamaian, bekerja dengan keras. Saya mencoba menenangkan diri, mungkin setelah ini saya. Atau, itu kasian si ibunya, berkas yang masuk banyak banget. Atau, mungkin harus diatur per jenis vaksin, makanya lama. Apalagi yang bagian penyuntikan ini cuma 1 petugas saja. Saya berusaha tenang. Yah, saya bukan tipe yang bakalan grasa-grusu minta cepat, minta keistimewaan atau sejenis itu. Saya tipe orang berusaha mengikuti peraturan, karena beberapa hal yang paling saya benci adalah ketidakteraturan dan kegaduhan yang tidak perlu. 

Tapi waktu liat ada kenalan saya, yang saya yakin betul dia datang pukul 10 teng (yep, saya liat di jam dinding) tapi malah kenalan saya itu duluan yang dilayani, serta merta saya marah luar biasa. Maksud saya, itu bukan salah kenalan saya tsb, karena dia hanya mengikuti instruksi saja. Yang bikin saya meradang adalah sistemnya. Antri andalah sistem yang mengatur yang datang duluan yang dilayani duluan. First in first out. Kan gitu. Tapi ini kenapa jadi amburadul? Artinya sistem antrian tadi hanya omong kosong. 

Saya yang paling malas konfrontasi pun akhirnya kontrontrasi. Protes. Dengan elegan dong, ndak pakai teriak-teriak. Cukup ke satu petugas. Tujuannya jelas, saya sampaikan saya ini ngantri dari pukul 8.30 kenapa malah teman saya yang pukul 10 datang yang duluan dilayani. Akhirnya petugas tidak enak hati, tidak lama nama saya juga dipanggil untuk disuntik. 

Asli ini perasaan yang tidak menyenangkan. Seperti yang saya nyatakan sebelumnya, saya tidak ingin diistimewakan, didahulukan. Tidak. Itu bukan tipe saya. Saya tipe ikut peraturan. Jika harus antri, saya antri. Bahkan ketika bawa bayi, saya tidak akan koar-koar bawa bayi. Cukup orang lihat, mau kasih prioritas, maka alhamdulillah sekali. Tapi kalau tidak, ya mau gimana lagi. Tidak bisa maksa orang untuk berbaik hati.

Tadi bayi saya nangis sesengukan. Padahal bayi saya ini terhitung paling jarang nangis. Suami saya baru sakit, dilarang angkat berat tapi terpaksa gendong bayi setahun lebih, untuk menenangkannya. Kalau biasanya saya langsung tenangkan neng bayi, tadi tidak saya lakukan. Saya biarkan bayi kami menangis, dengan tetap dipeluk erat. Sengaja. Biar manajemennya liat, sadar, paham, atau minimal merasa bersalah.

Saya berterima kasih dan sangat bersyukur, vaksinasi ini gratis. Tapi harusnya ada sistem yang lebih baik. Pandemi sudah 2 tahun, nyaris 2 tahun juga vaksinasi ini berlangsung. Harusnya sudah ada sistem yang lebih baik dalam teknis pelaksanaannya. Misalnya petugas di bagian penyuntikan vaksin diperbanyak. Bukan di bagian registrasi atau pembuat suketnya saja yang perlu banyak. FYI, tadi petugas registrasi dan suket vaksin masing-masing sampai 3, tapi yang bagian nyuntik hanya 1 (dibantu 1 orang yang ngurus berkas). Satu petugas yang nyuntik vaksin ini menangani 4 vaksin berbeda: astrazenika, covovax, moderna, dan pfizer. Belum lagi dosis untuk tiap tahap vaksin berbeda. Pasti rempong. Harusnya manajemennya memperhatikan ini. Mana yang prioritas dan vital, harusnya itu yang dibanyakin. Gimana mau cepat selesai kalau yang penting malah hanya 1. Geram saya dibuatnya. 

Sebelum suket vaksin selesai, anak bayi kami tertidur dengan mata basah. Suket selesai saat waktu menunjukkan pukul 11 siang. Yang belum vaksin masih banyak, padahal di jadwal harusnya selesai pukul 11. Saya bersyukur sudah suntik, tapi hati tetap tidak plong. Entah ada berapa "saya" lainnya yang sudah, sedang, atau akan mengalami hal ini jika tidak ada perbaikan. Saya merasa harus melakukan sesuatu, minimal menuliskan ini. 

Mudah-mudahan ada orang penting yang baca yang tergerak untuk memperbaiki. Terutama di tempat kami ini. Semoga rebung tumbuh menjadi bambu..

Read more…

1.26.2022

Seharusnya...

Ketika ada seseorang yang bercerita kepadamu tentang betapa ia menyesali sesuatu, cobalah untuk menahan dirimu dari berkata "seharusnya waktu itu kamu begini dan begitu".

Kenapa? 

Read more…

5.31.2021

Menjelang Juni

Juni, bulan keenam dalam tahun Masehi. Tanpa terasa, tahun 2021 sudah nyaris 1 semester. Pandemi masih berlangsung. Bahkan bisa dibilang semakin mengkhawatirkan karena kasus meningkat dari hari ke hari. 

Kalau perkuliahan dimulai Januari, maka bulan Juni adalah masa ujian akhir semester. Masanya evaluasi. Walaupun evaluasi dapat dilakukan kapanpun, tentu saja, namun sah-sah saja kalau mau mengevaluasi di pertengahan tahun. Apa saja yang sudah berhasil dilakukan? Apa saja yang belum tercapai? Apa kendalanya dan bagaimana solusinya?

Bertanya kepada diri sendiri secara konstan memang diperlukan. Evaluasi diri. Muhasabah. Self reflection. Paling tidak untuk menyadarkan diri sendiri bahwa saat ini bisa dijalani dengan lebih baik dari sebelumnya. Selain itu juga supaya ingat lagi dengan niat. Kalau awalnya kurang baik, diperbaiki. Kalau awalnya baik, dijaga supaya tidak bengkok. Maklum godaan datang dari segala penjuru. Harus menyertakan Allah supaya kuat.

Buat saya, Juni nanti agak mendebarkan. Soalnya ananda insyaAllah akan memulai petualangan MPASI nya. Sekarang saja (5m) mulutnya selalu kelihatan ngunyah-ngunyah tiap melihat orang makan. Kelihatan antusias. Itu insyaAllah pertanda baik. Yang bikin berdebar adalah kemampuan dan pengetahuan dan minat dan tekad saya sebagai bundanya dalam hal masak-memasak, huhu. Saya insyaAllah bisa masak, hanya saja tidak (atau belum) suka masak. Apalagi masak masakan yang perlu waktu lama di dapur, seperti bubur. Heuheu

Gara-gara memikirkan masalah tersebut, saya mencoba mencari solusinya mulai dari googling, nonton youtube, sampai nanya teman yang lebih berpengalaman. Alhamdulillah lumayan dapat pencerahan sedikit, walaupun masih ragu sama kemampuan diri, hiks. Alat tempur pun disiapkan.. semoga menjadi solusi permasalahan. 

Eh udah dulu ah. Ngantuk. InsyaAllah kalau panjang umur, besok Juni nyambung lagi. 

Read more…

4.05.2021

Curhat Busui: Ngotorin Pantat Botol

Udah minum berbagai ASI-booster, hasilnya tetap segitu aja. Istilahnya, "ngotorin pantat botol". Mana susah nyimpannya karena wadah plastiknya lebih makan tempat daripada isinya. 

Kadang liat hasil ASIP busui-busui lain yang bisa sampai 200-300 cc sekali pompa untuk 1 pd, wadah, hatiku ngiri. Sekadar ngiri ya, insyaAllah ndak dengki kok. Tapi dipikir-pikir lagi, ya tiap orang ada ceritanya masing-masing, rejekinya masing-masing.

ASIP saya memang sedikit, tapi syukur tak terhingga, masih bisa menyusui dengan lancar, bayi cukup asi (insyaAllah), masih bisa dan boleh WFH jadi bisa tetap direct breastfeeding. Suami dan ortu sy sehat, Alhamdulillah..

Intinya, harus fokus sama proses dan nikmat yang udah Allah kasih. Masalah hasil, kalau rejeki akan ada aja jalannya, insyaAllah.

Btw saya nulis ini buat nyemangatin diri sendiri sebenarnya. Tapi kalau bisa berbagi hikmah dengan teman-teman kan bagus juga ya. 

Semangat!!


Ditulis sebagai status WA tanggal 13 Maret 2021.

Read more…

2.18.2021

Langit

Langit pagi ini

Terang, namun suram

Surya bersembunyi di balik awan

Yang menggumpal bak permen kapas

Hujan tidak, terikpun tidak

Sendu


Teringat mimpi semalam tadi

Tentang badai yang tiba-tiba datang

Menggulung dan hitam, seram

Mendekat dan mengitari, menakutkan

Untunglah hanya mimpi


Pagi jelang siang, 17-02-2021 

Read more…

2.05.2021

Nikmat = Cobaan (?)

"Kalian ndak bakal punya anak, katanya", kata saudari saya tadi. Ekspresi dan nada bicaranya biasa saja, tidak kentara. Saya yang syok mendengar ceritanya dikatai seperti itu oleh seseorang, yang tak bisa mengendalikan air mata. Kok tega-teganya, ada manusia, sesama perempuan pula, ngomong menjatuhkan seperti itu dalam pertemuan non-medis alias ketemuan biasa saja, bukan konsultasi dokter atau kondisi yang relevan. 

Bahkan dokter pun kalau ngasih tau kabar seperti itu ada etikanya..

Saya sering merasa heran. Kenapa ya, orang-orang dengan lisan tajam seperti itu tidak Allah ambil nikmat yang membuatnya sombong. Bahkan banyak yang malah dikasih lagi dan lagi. Kayak lancar aja, gitu. Seperti yang ngatain saudari saya itu, anaknya 3. Dulu saya pernah juga dikomen serupa oleh yang beranak 4. Bukan menyamaratakan orang beranak banyak, karena banyak juga teman-teman saya yang beranak banyak tapi tidak berlisan jahat, malah memberi support terus. Di sisi lain, ada juga yang belum punya anak (bahkan belum menikah!) yang kalau komentar menusuk perasaan. Kayak dulu ada yang nanya saya dan suami di depan orang ramai, "Emangnya kalian nggak pengen punya anak yah? Kok lama banget", sementara itu dia sendiri belum nikah. Duuh.. tapi emang karirnya bagus sih. Mungkin itu yang bikin ia ngerasa superior.

Intinya, semua tergantung pribadi karena pelaku kejadian ini hanya oknum.

Lalu barusan teringat istilah istidraj. Ya Allah, ngeri. Naudzubillahi min dzalik..

Read more…

1.31.2021

Kado Untuk Hasnasofia

Hasnasofia hari ini berusia 40 hari, alhamdulillah. Mumpung ingat, saya mau berterima kasih kepada karib-kerabat yang meluangkan waktu dan rezekinya memberikan kado untuk ananda kedua kami, Hasnasofia. Sebenarnya didoakan saja, kami sudah sangat berterima kasih. Mau disebutkan semua yang mendoakan baik, tak sanggup, jadi yang sanggup disebutkan saja deh. Hehe. 

Salah satu kado yang Hasnasofia terima


Baiklah, langsung saja. Hasnasofia mengucapkan terima kasih kepada:

- Tante Desmy Adelia, yang selain membantu kelahiran Hasnasofia, membagi asip-nya Ceisya dan Bang Rafif buat Hasnasofia, juga ngasih alat sterilizer, kasur perahu gambar dino, dan cooler bag.
- Tante Tartila, yang meskipun jauh di Jakarta, sempat-sempatnya ngirimin stroller bayi, masyaAllah..
- Oom Garciac Febrianto, Tante Endah Panca Utami, Kak Yoen dan kak Gwen yang datang dari Mempawah ngasih set lengkap peralatan makan bayi.
- Tante Novia Astriana Kolopaking dari Melawi yang ngirimin gendongan kaos yang bahannya adem sekali.
- Tante Maria Wulan dari Sukadana yang ngasih handuk dari serat bambu dan botol susu.
- Kak Farlita Elmahera dan Bang Agung yang ngasih al quran digital dengan ukiran nama Hasnasofia.
- Makmok Yanti, Kak Caca, Kak Ara, dan Syakil yang ngasih kaos dalaman.
- Tante Rindha Rentina Darah Pertami di Jember, yang ngirimin set minum tupperware seri little pony.
- Teman-temannya Uan yang ngasih angpao.
- Maklong dan Paklong yang ngasih beberapa helai baju bayi yang girly dan cantik-cantik.
- Aki dan Uan yang ngasih angpao untuk beli AC.
- Yanda yang beliin tempat tidur cantik lengkap dengan kelambu dan kasur tebalnya.

Alhamdulillah.

Terima kasih untuk semua yang mendoakan kebaikan untuk Hasnasofia, tapi tidak dapat disebutkan satu per satu. Semoga dibalas dengan kebaikan yang berlipat ganda, aamiin

Read more…