11.03.2022

Kekuatan Orang Dalam

Sejak semester lalu, entah sudah beberapa kali saya dipaparkan dengan kasus tentang the power of insider alias kekuatan orang dalam. Mulai dari mahasiswa semester akhir yang nulis kutipan "kunci kesuksesan adalah orang dalam" di halaman motto di draft skripsinya; sampai dengan mahasiswa yang sepertinya ingin menguji saya dengan sengaja nyontek di kelas saya lalu minta perlindungan atasan saya. 

Untuk kejadian yang saya sebutkan pertama di atas, alhamdulillah anaknya dengan kesadaran sendiri mengganti isi halaman motto dengan kutipan lain yang lebih berkualitas dan memotivasi di skripsi finalnya. Halaman motto memang terserah mahasiswa tapi ini cukup memberikan gambaran kepada saya betapa insecure-nya anak-anak kami dengan hal tersebut sampai kepikiran bikin halaman motto dengan kalimat tersebut. Bukankah apa yang dikeluarkan adalah hasil dari apa yang masuk ke dalamnya? Sudah sangat bisa dipastikan bahwa anak tersebut terpapar begitu banyak kasus kesuksesan atas andil "kekuatan orang dalam" dalam hidupnya sampai dengan begitu yakin menganggap itu adalah hal yang inspiratif dan keren untuk dituliskan di halaman motto hidup penulis. Terus terang, sedih menyadari ini.

Untuk kasus yang saya sebutkan belakangan, terus terang masalahnya belum selesai sampai saya menulis postingan ini. Untungnya atasan saya normal, jadi tidak ikut campur. Tentang kasus ini sebenarnya saya sudah punya firasat kurang baik mengenai mahasiswa ybs. Selama perkuliahan sikapnya seringkali terlihat tidak respek: main hp saat saya menjelaskan, selalu berlama-lama saat izin keluar, beberapa kali ketangkap memutar mata (eye-rolling behavior).. Cuma selama setengah semester itu saya males nanggapinnya. Saya suka mengajar, jadi rasanya sayang kalau sampai mengorbankan mood baik untuk 1 kelas gegara 1 anak menyebalkan kayak gitu. Toh menurut saya, dia sendiri yang rugi karena sengaja meninggalkan ilmu.

Tindakan tidak respeknya yang terakhir, ya, pas nyontek itu. Padahal udah jelas-jelas diingatkan berkali-kali, sejak dari kontrak perkuliahan sampai sesaat sebelum ujian berlangsung. Yes, just before the exam!! Jadi bohong banget ketika dia ngaku ke atasan saya kalau dia tidak sengaja. Dan ini juga makin menunjukkan sikap tidak respeknya selama ini: melangkahi saya. Bikin masalah dengan saya, tapi minta pembelaan dari atasan saya. Dia tahan nunggu berjam-jam untuk ketemu sama atasan saya yang sibuk, tapi baru ngirim permintaan maaf (yang belum saya yakini ketulusannya) 5 hari pasca kejadian. Itupun di hari libur. Benar-benar ngerusak mood. Seremeh itu perlakuannya kepada saya. Tapi biasanya tetap kualat sih, anak kayak gitu.

Selain dua cerita di atas sebenarnya ada beberapa kejadian lain yang menggelitik otak saya buat mikir. Salah satunya ketika saya ditanyai mahasiswa tentang tanggapan saya terkait kekuatan orang dalam ini. Di semester ini, pertanyaan sekitar masalah tsb setidaknya sudah saya dapatkan dari 3 kelas yang berbeda. Saya senang mereka bertanya sehingga saya berkesempatan menyampaikan pendapat saya, yang semoga membukakan mata mereka. Namun di sisi lain, saya merasa sedih dan miris, karena ini menandakan betapa mereka merasa begitu tidak aman dengan masa depan mereka akibat faktor "orang dalam" ini. Terlebih faktor ini sangat nyata terjadi di sekitar kami sehari-hari. Faktor yang sangat tidak bisa diabaikan namun menjadi rahasia umum yang pantang dibuka kecuali sudah siap dengan gejolak sosial yang mengerikan. Sungguh menyedihkan.

Contoh lain sepertinya tidak perlu disebutkan. Terlalu banyak.

***

Malam ini saya terdorong untuk menulis ini, gegara baca sebuah surat dan melihat fenomena², membaur jadi satu. Tadi sempat mikir gini, "kenapa ya hidup ini begitu tidak adil?". Banyak kasus orang kompeten yang kalah saing dengan orang yang tidak kompeten tapi punya privilege orang dalam (yang entah didapat dari hubungan keluarga ataupun karena keahlian menjilat). Why? Just why???

Ini cukup mengganggu karena saya melihat generasi muda jadi malah berlomba mencapai/ mendapatkan sesuatu yang bersifat superfisial (tapi dianggap bisa jadi modal untuk mendapatkan kunci kesuksesan: "kekuatan orang dalam"), bukannya berlomba meningkatkan mutu diri dan mengaplikasikan ilmu yang berharga untuk dunia maupun akhirat nanti..

Ah, akhirat. Kata ini mengingatkan saya. Kehidupan dunia memang bisa jadi sangat tidak adil, tapi Allah Maha Adil. Kekuatan-orang-dalam tidak akan ada apa-apanya dengan kekuatan Yang Maha Kuat, Maha Perkasa, dan Maha Kuasa. Jadi lakukan saja yang terbaik yang bisa dilakukan untuk akhirat, minta tolong sama Allah. Jangan terlalu pusing mikirin dunia (tapi nulis gini perlu juga buat healing mengurai pening. Heuheu)

Dah dulu deh. Ngantuk 👋

Read more…

9.29.2022

Tentang Nama

Hai. Perkenalkan, nama saya Delyanet. Akrab disapa "Yanet". Kalau di rumah, saya biasa dipanggil "adek". Itu panggilan sayang oleh Mama, Bapak, dan Kakak. Tapi terus terang, meskipun itu panggilan sayang, saya sebenarnya tidak suka dipanggil "adek" oleh orang lain, kecuali jika ditambah nama saya, yaitu "Adek Yanet". Lengkap. Sepupu-sepupu saya sebelah Bapak dan abang ipar saya selalu memanggil saya demikian. Saya merasa lebih dihargai seperti itu. Ada identitas nama di belakangnya. Bukan cuma "adek".

Cuma "adek" itu seringkali bikin rancu. Pertama, belum tentu saya "adek"nya yang manggil, dalam artian, belum tentu pangkat kekeluargaan saya lebih rendah dari yang manggil. Kalau masalah usia sih bisa saja saya lebih muda. Itu karena mama saya bungsu dan nenek saya bukan anak sulung, sehingga banyak saudara sepupu saya (dari saudara kandung mama maupun saudara sepupunya mama) yang usianya jauh lebih tua bahkan punya anak yang usianya seumuran/lebih tua dari saya. Artinya, ada keponakan saya yang lebih tua. Ketika panggilan "adek" tidak diiringkan dengan nama saya, nih keponakan-keponakan jadi bingung manggil saya siapa. Alhasil, keponakan saya yang lebih tua memanggil saya "adek" juga. Kan minta kualat hihihu

Kedua, kebingungan lain yang paling sering muncul adalah ketika pangkat disematkan ke saya. Misal, kakak jadinya Kak Adek (harusnya Kak Yanet); mak usu jadinya Mak Su Adek (harusnya Mak Su Yanet); tante jadinya Tante Adek (harusnya Tante Yanet), dst. Aneh kan? Padahal jelas-jelas nama saya Yanet. Kinipi jidi bigitii

Ketiga, karena jelas, panggilan "adek" itu terlalu umum, alias pasaran. Jadi ceritanya pernah nih, ada senior jaman SMA dulu mau main ke rumah. Saya kasih lah alamat saya. Tapi berhubung waktu itu saya belum punya hp, jadi ybs cuma bisa nanya tetangga saya waktu belum yakin sama rumah yang mana. Pas senior itu nanya, "Pak, rumahnya Delyanet yang mana ya?", lha tetangga saya malah jawab "ndak tau". Menurut cerita senior saya itu, ybs akhirnya memberanikan diri ngetuk rumah saya, dan alhamdulillah benar. Pas ketemu, dia langsung protes "tak tekenal kau ni, Net". Wkwk. Ember!

Itu masih belum apa-apa sih. Ada lagi cerita yang lebih kocak dari nama saya ini. Jadi entah sejak kapan, nama saya tiba-tiba dianggap macho oleh sebagian orang. Mungkin karena mirip Del Piero dan Herjunot Ali. Alhasil, kenalan baru --yang dulunya suka bola atau suka nonton atau kurang survei atau murni lagi khilaf-- akan menyapa saya dengan sebutan "pak", "abang", atau "mas". 

Dulu, saya mudah sensi kalau disapa begitu. "Bang Yanet", kata seseorang di fb. Dih, kagak kenal manggil gue abang, apaan tuh. Padahal udah jelas-jelas foto profil pakai wajah sendiri: berjilbab, senyum-senyum, sambil bawa payung. Kurang feminin apa lagi cobaa. Saking emosinya, langsung hapus pertemanan, plus kasih kata "binti" sekalian di nama profil. Pokoknya kalau ada yang salah lagi, bener-bener dah.. (gara-gara dulu kelewat ramah, cuma karena kuliah di satu tempat yang sama, main tambah pertemanan aja)

Pernah juga, diundang acara apaa gitu, oleh organisasi yang dulu aktif saya ikutin pas kuliah. Diundangannya ditulis "kepada "Bapak Delyanet"". Pas ngantar sebenarnya udah dikasih tau oleh Bapak saya (waktu itu saya sedang tidak di rumah). Jadi yang ngantarin undangan nanya, "Bapak Delyanet ada?" Dijawab Bapak saya, "Bapaknya Delyanet itu saya. Delyanet itu anak perempuan saya", lah undangannya tetap dikasihkan tanpa dikoreksi. Dicoret kek, kata "Bapak"nya. Duh gregetan. Plus, perasaan di buku alumni ada foto deh. Akhirnya acaranya tidak saya hadiri. Ya, kan ngundang "Bapak Delyanet"

Tapi itu dulu sih. Cerita lama. Sekarang lebih santai. Paling ya ketawain aja lah. Kan kasian, mereka belum tahu arti nama saya. Bagus loh artinya. Kapan-kapan deh saya cerita tentang itu. Sekarang mau cerita tentang ini dulu.

Jadi sebenarnya tulisan ini terpicu dari kejadian kemarin, waktu dihubungi oleh nomor asing yang meminta konfirmasi kelengkapan berkas kerjaan. Oh, ini bukan yang pertama kali. Saya pun dipanggil "Bapak". Yes, Bapak Delyanet, katanya. Padahal udah jelas-jelas pakai foto profil feminim di akun kerja. Hihi. Tapi berhubung ini urusan kerjaan dan belum tentu juga ketemu sama orangnya, jadi saya iyain aja biar tidak terlalu awkward. Saya maklum sih, kerjaan banyak bikin mata siwer. Udah sering ngalamin. Lagian yang penting infonya nyampai, insyaAllah. No hurt feeling, cuman jadi tergelitik pengen nulis, hehe

Last but not least. Ini ada juga cerita berkesan tentang mahasiswa terkait nama saya. Kejadiannya tahun lalu. Jadi ceritanya nih dia ketua kelas. Niatnya sih bagus, mau silaturahmi dulu sama dosennya sebelum ngajar. Beramah tamah gitu lah. Bahasanya sebenarnya sopan dan cukup luwes. Cuma yaa, itu, kurang survei. Masak saya dipanggil "Pak" dong. Terus, waktu saya bilang, "saya bukan bapak-bapak, ya" (ya maksudnya, saya ibu-ibu), eh ybs malah jawab, "oh baik, maaf ya bang". Jederrrr!! 🤣  


Read more…

6.20.2022

Masaku, Masamu

Setiap fase punya masa.

Dulu, saat orang tercintaku sakit, dia dengan teganya bertanya tanpa dosa, "memangnya dikasih makan apa, bisa sakit begitu?"
Lalu dia pun berlalu, tak membantu.

Aku belajar.
Barang branded tak mencerminkan akhlak.
Pekerjaan berkelas tak menunjukkan moral.
Empati lebih mahal dari itu. Tak dapat dibeli.

Sekarang keadaan berbalik padanya.

Aku takkan mengatakan hal yang sama, atau bersikap serupanya. 
Aku hanya akan mendoakan kesembuhan dengan tulusku, dalam diam dan geramku.

Semoga dia belajar sesuatu.

Jikapun tidak, tak mengapa. 
Dia mengajariku, satu.
Untuk selalu menjaga lisanku.

~ Sambas, 20 Juni 2022

Read more…

6.17.2022

Awan


Awan adalah momen
Kamu dan aku dapat menikmati tariannya bersama
Saat kita berdekatan ataupun berjauhan
Dalam satu waktu ataupun berbeda masa

Namun ingatlah
Apa yang kulihat takkan sama persis dengan apa yang kamu lihat
Tempatku berdiri akan menentukan sudut pandangku
Begitupun denganmu

Bilapun kita pernah berdiri di titik yang sama, pastilah detiknya berbeda
Kamu duluan, atau mungkin belakangan
Bilapun gambar mampu mengabadikan titik dan detik yang persis sama, bisa jadi persepsi kita berbeda

Jadi nikmatilah

(Sambas, 17 Juni 2022. Jum'at pagi saat gerimis)

Read more…

5.19.2022

Syukur

Bersyukurlah atas segala yang kita miliki meski terasa tidak sempurna..

Di luar sana, ada yang dalam diam berusaha kuat, mengumpulkan tenaga dan semangat, tak henti berdoa, sambil tetap tersenyum. Begitu senyap sehingga ketika mereka bercerita kepada kita tentang kesulitan yang mereka hadapi, kita akan kaget karena tak pernah menyangka.. 

Betapa tegarnya mereka, dan betapa beruntungnya kita..

Read more…

5.13.2022

Harap

Tidak dihitung
Diabaikan
Tidak dianggap berharga
Dikhianati
Semua itu pasti pernah kita alami
Setidaknya barang sekali

Luka-luka itu tidak terlihat kasat
Tidak berdarah, seperti tidak memerlukan obat
Tapi ada, menunggu untuk dirawat

Waktu mungkin diciptakan untuk memberi jeda
Benang-benang fibrin terangkai untuk menutup luka
Memori otak yang terbatas untuk memaksa lupa
Meskipun seringkali luka batin tetap menganga
Ditandai rasa sulit percaya pada manusia
Atau menarik diri dari kehidupan nyata

Benarlah kata Ali bin Abi Thalib, salah satu sahabat dari manusia paling mulia
"Aku sudah merasakan semua kepahitan hidup dan yang paling pahit adalah berharap kepada manusia"

Read more…

5.05.2022

Sangka

Aku tidaklah sebaik yang aku sangkakan pada diriku sendiri
Demikian pula kamu, tidaklah sebaik yang kamu sangkakan pada dirimu sendiri
Kita semua sama
Kita memiliki kecenderungan untuk merasa benar
Setidaknya dari satu sudut pandang: kita sendiri

Kita mengatakan hal yang tidak seharusnya
Melakukan yang tidak sepatutnya
Atau mungkin tidak melakukan hal yang sepatutnya
Tapi seringkali kita lupa
Hanya mengingat betapa buruknya perlakuan orang lain kepada kita
Tanpa mengingat awal segalanya bermula

Itulah manusia
Pelaku dari khilaf, salah, dan lupa
Kalau kamu lupa tentang itu, semoga ingat membaca ini lagi

#sebuah self-reminder
4 Syawal 1443 H

Read more…

3.28.2022

Pengalaman Vaksin Pertama

Hari ini, setelah 2 tahun lebih pandemi berlangsung, akhirnya saya vaksin juga. Alhamdulillah

Gimana pengalamannya? 

Hmm. Aslinya sih biasa saja: ngambil antrian, nunggu dicek administrasi dan kesehatan, nunggu lagi dipanggil untuk disuntik, di-cus, nunggu lagi untuk dapat surat keterangan sudah vaksin. Simpel. Nyatanya tidak sesimpel itu. Atau mungkin lebih tepatnya, tidak sesingkat dan sesebentar itu. Walaupun benar urutannya begitu tapi ngantrinya asli lamaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

Disclaimer: Ini pengalaman saya. Tiap orang beda-beda.

Saya datang bersama suami dan anak bayi. Saya mulai ngantri pukul 8.30. Saya ingat waktunya karena ada jam dinding di lokasi pelaksanaan. Saya dapat nomor antrian 77. Okelah. Nunggu nunggu nunggu, pukul 9-an dipanggil di meja registrasi untuk administrasi dan pemeriksaan kesehatan. Administrasi mudah, cuma perlu bawa fotokopi KTP. Dah, itu saja. Periksa kesehatan juga cuma periksa tensi atau tekanan darah dan suhu tubuh, plus ditanya-tanya riwayat kesehatan. Tidak ada masalah, insyaAllah. 
*tapi tadi pas sesi ini saya lupa bilang kalau saya busui, jadi baru dikasih tahu pas di bagian penyuntikan. 

Dah, ngantri bagian pertama selesai. Berkas sudah dikasihkan ke meja admin bagian penyuntikan. Di sini nih yang nyesek banget. Masuk berkas anggap saja sekitar pukul 9.30 an. Anak dan suami saya masih ceria menanti dari ujung kursi yang lebih terbuka sirkulasinya. Kami memang sengaja duduk terpisah, soalnya ramai. Kasian anak bayi belum 2 tahun belum bisa pakai masker. Saya yang pakai masker saja rasanya pengen duduk jauh-jauhan dari orang, tapi kan susah. Jadi untuk meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan, bayi dijaga jarak dengan orang lain..

Mau vaksinasi kok bawa bayi? 
Jawabnya jelas: TERPAKSA. Jangan nanya lebih lanjut, karena saya malas mau cerita lebih panjang lebar dari sekarang. Intinya, maunya tidak dibawa tapi mau tidak mau dibawa. Kalau masih mau nyolot juga, mending berhenti deh baca postingan ini. Saya cuma mau cerita. Key

Oke lanjut.

Sudah sejak duduk nunggu, saya punya firasat kurang nyaman. Apalagi ada uwan-uwan (panggilan untuk nenek-nenek di sini) yang mungkin usianya sudah 70an karena udah bungkuk banget, yang mengeluhkan kenapa beliau lama sekali dipanggil untuk disuntik. Meskipun saya punya firasat tidak nyaman, tapi kan harus tetap berpikir positif. Saya membatin, mungkin perasaan uwannya saja. Jadi saya ajak uwannya ngobrol tipis-tipis. Dari mulai vaksin keberapa, sampai cerita tentang cucunya yang ikut mengantarkannya vaksin. Mungkin pukul 10 lewat 20 menitan, akhirnya beliau dipanggil untuk suntik. Beliau ini nomor urut 64 kalau tidak salah. Saya membatin, sebentar lagi saya, insyaAllah..

Tapi tunggu punya tunggu, saya jadi kesal sendiri. Soalnya perasaan saya kok banyak yang jauh belakangan dari saya bisa duluan. Tapi oke mungkin ini hanya perasaan saya. Jiwa-jiwa plegmatis saya yang menginginkan perdamaian, bekerja dengan keras. Saya mencoba menenangkan diri, mungkin setelah ini saya. Atau, itu kasian si ibunya, berkas yang masuk banyak banget. Atau, mungkin harus diatur per jenis vaksin, makanya lama. Apalagi yang bagian penyuntikan ini cuma 1 petugas saja. Saya berusaha tenang. Yah, saya bukan tipe yang bakalan grasa-grusu minta cepat, minta keistimewaan atau sejenis itu. Saya tipe orang berusaha mengikuti peraturan, karena beberapa hal yang paling saya benci adalah ketidakteraturan dan kegaduhan yang tidak perlu. 

Tapi waktu liat ada kenalan saya, yang saya yakin betul dia datang pukul 10 teng (yep, saya liat di jam dinding) tapi malah kenalan saya itu duluan yang dilayani, serta merta saya marah luar biasa. Maksud saya, itu bukan salah kenalan saya tsb, karena dia hanya mengikuti instruksi saja. Yang bikin saya meradang adalah sistemnya. Antri andalah sistem yang mengatur yang datang duluan yang dilayani duluan. First in first out. Kan gitu. Tapi ini kenapa jadi amburadul? Artinya sistem antrian tadi hanya omong kosong. 

Saya yang paling malas konfrontasi pun akhirnya kontrontrasi. Protes. Dengan elegan dong, ndak pakai teriak-teriak. Cukup ke satu petugas. Tujuannya jelas, saya sampaikan saya ini ngantri dari pukul 8.30 kenapa malah teman saya yang pukul 10 datang yang duluan dilayani. Akhirnya petugas tidak enak hati, tidak lama nama saya juga dipanggil untuk disuntik. 

Asli ini perasaan yang tidak menyenangkan. Seperti yang saya nyatakan sebelumnya, saya tidak ingin diistimewakan, didahulukan. Tidak. Itu bukan tipe saya. Saya tipe ikut peraturan. Jika harus antri, saya antri. Bahkan ketika bawa bayi, saya tidak akan koar-koar bawa bayi. Cukup orang lihat, mau kasih prioritas, maka alhamdulillah sekali. Tapi kalau tidak, ya mau gimana lagi. Tidak bisa maksa orang untuk berbaik hati.

Tadi bayi saya nangis sesengukan. Padahal bayi saya ini terhitung paling jarang nangis. Suami saya baru sakit, dilarang angkat berat tapi terpaksa gendong bayi setahun lebih, untuk menenangkannya. Kalau biasanya saya langsung tenangkan neng bayi, tadi tidak saya lakukan. Saya biarkan bayi kami menangis, dengan tetap dipeluk erat. Sengaja. Biar manajemennya liat, sadar, paham, atau minimal merasa bersalah.

Saya berterima kasih dan sangat bersyukur, vaksinasi ini gratis. Tapi harusnya ada sistem yang lebih baik. Pandemi sudah 2 tahun, nyaris 2 tahun juga vaksinasi ini berlangsung. Harusnya sudah ada sistem yang lebih baik dalam teknis pelaksanaannya. Misalnya petugas di bagian penyuntikan vaksin diperbanyak. Bukan di bagian registrasi atau pembuat suketnya saja yang perlu banyak. FYI, tadi petugas registrasi dan suket vaksin masing-masing sampai 3, tapi yang bagian nyuntik hanya 1 (dibantu 1 orang yang ngurus berkas). Satu petugas yang nyuntik vaksin ini menangani 4 vaksin berbeda: astrazenika, covovax, moderna, dan pfizer. Belum lagi dosis untuk tiap tahap vaksin berbeda. Pasti rempong. Harusnya manajemennya memperhatikan ini. Mana yang prioritas dan vital, harusnya itu yang dibanyakin. Gimana mau cepat selesai kalau yang penting malah hanya 1. Geram saya dibuatnya. 

Sebelum suket vaksin selesai, anak bayi kami tertidur dengan mata basah. Suket selesai saat waktu menunjukkan pukul 11 siang. Yang belum vaksin masih banyak, padahal di jadwal harusnya selesai pukul 11. Saya bersyukur sudah suntik, tapi hati tetap tidak plong. Entah ada berapa "saya" lainnya yang sudah, sedang, atau akan mengalami hal ini jika tidak ada perbaikan. Saya merasa harus melakukan sesuatu, minimal menuliskan ini. 

Mudah-mudahan ada orang penting yang baca yang tergerak untuk memperbaiki. Terutama di tempat kami ini. Semoga rebung tumbuh menjadi bambu..

Read more…

1.26.2022

Seharusnya...

Ketika ada seseorang yang bercerita kepadamu tentang betapa ia menyesali sesuatu, cobalah untuk menahan dirimu dari berkata "seharusnya waktu itu kamu begini dan begitu".

Kenapa? 

Read more…

5.31.2021

Menjelang Juni

Juni, bulan keenam dalam tahun Masehi. Tanpa terasa, tahun 2021 sudah nyaris 1 semester. Pandemi masih berlangsung. Bahkan bisa dibilang semakin mengkhawatirkan karena kasus meningkat dari hari ke hari. 

Kalau perkuliahan dimulai Januari, maka bulan Juni adalah masa ujian akhir semester. Masanya evaluasi. Walaupun evaluasi dapat dilakukan kapanpun, tentu saja, namun sah-sah saja kalau mau mengevaluasi di pertengahan tahun. Apa saja yang sudah berhasil dilakukan? Apa saja yang belum tercapai? Apa kendalanya dan bagaimana solusinya?

Bertanya kepada diri sendiri secara konstan memang diperlukan. Evaluasi diri. Muhasabah. Self reflection. Paling tidak untuk menyadarkan diri sendiri bahwa saat ini bisa dijalani dengan lebih baik dari sebelumnya. Selain itu juga supaya ingat lagi dengan niat. Kalau awalnya kurang baik, diperbaiki. Kalau awalnya baik, dijaga supaya tidak bengkok. Maklum godaan datang dari segala penjuru. Harus menyertakan Allah supaya kuat.

Buat saya, Juni nanti agak mendebarkan. Soalnya ananda insyaAllah akan memulai petualangan MPASI nya. Sekarang saja (5m) mulutnya selalu kelihatan ngunyah-ngunyah tiap melihat orang makan. Kelihatan antusias. Itu insyaAllah pertanda baik. Yang bikin berdebar adalah kemampuan dan pengetahuan dan minat dan tekad saya sebagai bundanya dalam hal masak-memasak, huhu. Saya insyaAllah bisa masak, hanya saja tidak (atau belum) suka masak. Apalagi masak masakan yang perlu waktu lama di dapur, seperti bubur. Heuheu

Gara-gara memikirkan masalah tersebut, saya mencoba mencari solusinya mulai dari googling, nonton youtube, sampai nanya teman yang lebih berpengalaman. Alhamdulillah lumayan dapat pencerahan sedikit, walaupun masih ragu sama kemampuan diri, hiks. Alat tempur pun disiapkan.. semoga menjadi solusi permasalahan. 

Eh udah dulu ah. Ngantuk. InsyaAllah kalau panjang umur, besok Juni nyambung lagi. 

Read more…

4.05.2021

Curhat Busui: Ngotorin Pantat Botol

Udah minum berbagai ASI-booster, hasilnya tetap segitu aja. Istilahnya, "ngotorin pantat botol". Mana susah nyimpannya karena wadah plastiknya lebih makan tempat daripada isinya. 

Kadang liat hasil ASIP busui-busui lain yang bisa sampai 200-300 cc sekali pompa untuk 1 pd, wadah, hatiku ngiri. Sekadar ngiri ya, insyaAllah ndak dengki kok. Tapi dipikir-pikir lagi, ya tiap orang ada ceritanya masing-masing, rejekinya masing-masing.

ASIP saya memang sedikit, tapi syukur tak terhingga, masih bisa menyusui dengan lancar, bayi cukup asi (insyaAllah), masih bisa dan boleh WFH jadi bisa tetap direct breastfeeding. Suami dan ortu sy sehat, Alhamdulillah..

Intinya, harus fokus sama proses dan nikmat yang udah Allah kasih. Masalah hasil, kalau rejeki akan ada aja jalannya, insyaAllah.

Btw saya nulis ini buat nyemangatin diri sendiri sebenarnya. Tapi kalau bisa berbagi hikmah dengan teman-teman kan bagus juga ya. 

Semangat!!


Ditulis sebagai status WA tanggal 13 Maret 2021.

Read more…

2.18.2021

Langit

Langit pagi ini

Terang, namun suram

Surya bersembunyi di balik awan

Yang menggumpal bak permen kapas

Hujan tidak, terikpun tidak

Sendu


Teringat mimpi semalam tadi

Tentang badai yang tiba-tiba datang

Menggulung dan hitam, seram

Mendekat dan mengitari, menakutkan

Untunglah hanya mimpi


Pagi jelang siang, 17-02-2021 

Read more…