5.31.2021

Menjelang Juni

Juni, bulan keenam dalam tahun Masehi. Tanpa terasa, tahun 2021 sudah nyaris 1 semester. Pandemi masih berlangsung. Bahkan bisa dibilang semakin mengkhawatirkan karena kasus meningkat dari hari ke hari. 

Kalau perkuliahan dimulai Januari, maka bulan Juni adalah masa ujian akhir semester. Masanya evaluasi. Walaupun evaluasi dapat dilakukan kapanpun, tentu saja, namun sah-sah saja kalau mau mengevaluasi di pertengahan tahun. Apa saja yang sudah berhasil dilakukan? Apa saja yang belum tercapai? Apa kendalanya dan bagaimana solusinya?

Bertanya kepada diri sendiri secara konstan memang diperlukan. Evaluasi diri. Muhasabah. Self reflection. Paling tidak untuk menyadarkan diri sendiri bahwa saat ini bisa dijalani dengan lebih baik dari sebelumnya. Selain itu juga supaya ingat lagi dengan niat. Kalau awalnya kurang baik, diperbaiki. Kalau awalnya baik, dijaga supaya tidak bengkok. Maklum godaan datang dari segala penjuru. Harus menyertakan Allah supaya kuat.

Buat saya, Juni nanti agak mendebarkan. Soalnya ananda insyaAllah akan memulai petualangan MPASI nya. Sekarang saja (5m) mulutnya selalu kelihatan ngunyah-ngunyah tiap melihat orang makan. Kelihatan antusias. Itu insyaAllah pertanda baik. Yang bikin berdebar adalah kemampuan dan pengetahuan dan minat dan tekad saya sebagai bundanya dalam hal masak-memasak, huhu. Saya insyaAllah bisa masak, hanya saja tidak (atau belum) suka masak. Apalagi masak masakan yang perlu waktu lama di dapur, seperti bubur. Heuheu

Gara-gara memikirkan masalah tersebut, saya mencoba mencari solusinya mulai dari googling, nonton youtube, sampai nanya teman yang lebih berpengalaman. Alhamdulillah lumayan dapat pencerahan sedikit, walaupun masih ragu sama kemampuan diri, hiks. Alat tempur pun disiapkan.. semoga menjadi solusi permasalahan. 

Eh udah dulu ah. Ngantuk. InsyaAllah kalau panjang umur, besok Juni nyambung lagi. 

Read more…

4.05.2021

Curhat Busui: Ngotorin Pantat Botol

Udah minum berbagai ASI-booster, hasilnya tetap segitu aja. Istilahnya, "ngotorin pantat botol". Mana susah nyimpannya karena wadah plastiknya lebih makan tempat daripada isinya. 

Kadang liat hasil ASIP busui-busui lain yang bisa sampai 200-300 cc sekali pompa untuk 1 pd, wadah, hatiku ngiri. Sekadar ngiri ya, insyaAllah ndak dengki kok. Tapi dipikir-pikir lagi, ya tiap orang ada ceritanya masing-masing, rejekinya masing-masing.

ASIP saya memang sedikit, tapi syukur tak terhingga, masih bisa menyusui dengan lancar, bayi cukup asi (insyaAllah), masih bisa dan boleh WFH jadi bisa tetap direct breastfeeding. Suami dan ortu sy sehat, Alhamdulillah..

Intinya, harus fokus sama proses dan nikmat yang udah Allah kasih. Masalah hasil, kalau rejeki akan ada aja jalannya, insyaAllah.

Btw saya nulis ini buat nyemangatin diri sendiri sebenarnya. Tapi kalau bisa berbagi hikmah dengan teman-teman kan bagus juga ya. 

Semangat!!


Ditulis sebagai status WA tanggal 13 Maret 2021.

Read more…

2.18.2021

Langit

Langit pagi ini

Terang, namun suram

Surya bersembunyi di balik awan

Yang menggumpal bak permen kapas

Hujan tidak, terikpun tidak

Sendu


Teringat mimpi semalam tadi

Tentang badai yang tiba-tiba datang

Menggulung dan hitam, seram

Mendekat dan mengitari, menakutkan

Untunglah hanya mimpi


Pagi jelang siang, 17-02-2021 

Read more…

2.05.2021

Nikmat = Cobaan (?)

"Kalian ndak bakal punya anak, katanya", kata saudari saya tadi. Ekspresi dan nada bicaranya biasa saja, tidak kentara. Saya yang syok mendengar ceritanya dikatai seperti itu oleh seseorang, yang tak bisa mengendalikan air mata. Kok tega-teganya, ada manusia, sesama perempuan pula, ngomong menjatuhkan seperti itu dalam pertemuan non-medis alias ketemuan biasa saja, bukan konsultasi dokter atau kondisi yang relevan. 

Bahkan dokter pun kalau ngasih tau kabar seperti itu ada etikanya..

Saya sering merasa heran. Kenapa ya, orang-orang dengan lisan tajam seperti itu tidak Allah ambil nikmat yang membuatnya sombong. Bahkan banyak yang malah dikasih lagi dan lagi. Kayak lancar aja, gitu. Seperti yang ngatain saudari saya itu, anaknya 3. Dulu saya pernah juga dikomen serupa oleh yang beranak 4. Bukan menyamaratakan orang beranak banyak, karena banyak juga teman-teman saya yang beranak banyak tapi tidak berlisan jahat, malah memberi support terus. Di sisi lain, ada juga yang belum punya anak (bahkan belum menikah!) yang kalau komentar menusuk perasaan. Kayak dulu ada yang nanya saya dan suami di depan orang ramai, "Emangnya kalian nggak pengen punya anak yah? Kok lama banget", sementara itu dia sendiri belum nikah. Duuh.. tapi emang karirnya bagus sih. Mungkin itu yang bikin ia ngerasa superior.

Intinya, semua tergantung pribadi karena pelaku kejadian ini hanya oknum.

Lalu barusan teringat istilah istidraj. Ya Allah, ngeri. Naudzubillahi min dzalik..

Read more…

1.31.2021

Kado Untuk Hasnasofia

Hasnasofia hari ini berusia 40 hari, alhamdulillah. Mumpung ingat, saya mau berterima kasih kepada karib-kerabat yang meluangkan waktu dan rezekinya memberikan kado untuk ananda kedua kami, Hasnasofia. Sebenarnya didoakan saja, kami sudah sangat berterima kasih. Mau disebutkan semua yang mendoakan baik, tak sanggup, jadi yang sanggup disebutkan saja deh. Hehe. 

Salah satu kado yang Hasnasofia terima


Baiklah, langsung saja. Hasnasofia mengucapkan terima kasih kepada:

- Tante Desmy Adelia, yang selain membantu kelahiran Hasnasofia, membagi asip-nya Ceisya dan Bang Rafif buat Hasnasofia, juga ngasih alat sterilizer, kasur perahu gambar dino, dan cooler bag.
- Tante Tartila, yang meskipun jauh di Jakarta, sempat-sempatnya ngirimin stroller bayi, masyaAllah..
- Oom Garciac Febrianto, Tante Endah Panca Utami, Kak Yoen dan kak Gwen yang datang dari Mempawah ngasih set lengkap peralatan makan bayi.
- Tante Novia Astriana Kolopaking dari Melawi yang ngirimin gendongan kaos yang bahannya adem sekali.
- Tante Maria Wulan dari Sukadana yang ngasih handuk dari serat bambu dan botol susu.
- Kak Farlita Elmahera dan Bang Agung yang ngasih al quran digital dengan ukiran nama Hasnasofia.
- Makmok Yanti, Kak Caca, Kak Ara, dan Syakil yang ngasih kaos dalaman.
- Tante Rindha Rentina Darah Pertami di Jember, yang ngirimin set minum tupperware seri little pony.
- Teman-temannya Uan yang ngasih angpao.
- Maklong dan Paklong yang ngasih beberapa helai baju bayi yang girly dan cantik-cantik.
- Aki dan Uan yang ngasih angpao untuk beli AC.
- Yanda yang beliin tempat tidur cantik lengkap dengan kelambu dan kasur tebalnya.

Alhamdulillah.

Terima kasih untuk semua yang mendoakan kebaikan untuk Hasnasofia, tapi tidak dapat disebutkan satu per satu. Semoga dibalas dengan kebaikan yang berlipat ganda, aamiin

Read more…

12.15.2020

Sabro

Sebagai INFJ, salah satu hal yang paling mengusik saya adalah masalah ketidakadilan. Bukankah menyebalkan ketika suatu pihak yang tidak ikut andil atau berperan sedikit sekali namun diberikan kredit yang besar? Sementara itu, yang berandil besar, berperan penting, tidak dianggap atau perannya dikecilkan. 

Entahlah, mungkin ini juga bagian dari pengalaman masa lalu yang membentuk saya saat ini. Ya, bukankah semuanya begitu?! Tapi terus terang saja, hal-hal seperti ini membuat saya muak. Jika saja tidak mengenal Islam dan tidak mempercayai Allah, mungkin rasanya ingin protes setiap saat, menuntut keadilan dunia yang rasanya tidak akan mungkin terpenuhi karena standar keadilan tiap orang berbeda. Ujung-ujungnya, yah, harus sabar. Sebuah kata yang mudah tapi sulit, setidaknya untuk saya dalam masalah ini.

Bagi saya, yang lebih menyakitkan adalah ketika saya merasa orang yang saya sayangi diperlakukan tidak adil. Rasanya kepikiran terus, sakit hati. Tapi lagi-lagi, ketika orang yang bersangkutan justru lebih sabar, saya bisa apa? Ya cuma bisa ikut-ikutan sabar walaupun hati ini mandeg luar biasa.. haha

Read more…

11.20.2020

Dilema Utang Piutang

Jaman sekarang, jika seseorang "dianggap" punya uang, maka dengan mudah orang lain yang mengenalnya akan meminjam uang, bahkan tanpa alasan yang sangat penting dan sangat mendesak. Alasannya, karena seseorang itu orang berkecukupan. "Pelit amat, segitunya sampai tidak mau meminjamkan". Ini label paling umum untuk orang yang tidak mau meminjamkan. 

Lucunya, yang biasanya sulit dihubungi tiba-tiba menghubungi dengan sangat santun sekali. Padahal biasanya kalau dihubungi bisa berhari-hari tidak membalas. Sekalinya sudah dapat pinjaman, perangainya bisa berubah 180 derajat, atau bisa jadi itu berarti balik lagi ke perangai lama. Sulit dihubungi. Saat dihubungi, ya kapan-kapan "mood" mau balas, baru dibalas. Bahkan kadang ada yang tega-teganya sengaja ganti nomor atau bahkan memblokir. Sungguh luar biasa.

Yang menyakitkan, tidak sedikit yang bermudah-mudah minjam uang cuma untuk berfoya-foya, gegayaan, biar eksis, supaya tidak jenuh. Begitu yang meminjamkan uang merasa panas karena ternyata uang yang sudah bersusah payah dikumpulkan untuk dana darurat atau tabungan atau apapun (tapi tetap dipinjamkan) ternyata dipakai untuk hal-hal seperti itu, yang dipinjami bisa dengan entengnya berkata, "Marah-marah aja nih. Makanya jalan-jalan dong". What the ???

Belum lagi kalau sudah urusan tagih-menagih. Ini urusan super duper sensitif. Salah pilih kata, bisa-bisa yang berhak justru yang dianggap seperti pihak yang menzalimi, pelit, dan dingin hati. "Tega bener dah, nagih orang susah. Sombong, mentang-mentang lagi di atas. Bermurah hati dong harusnya. Dunia berputar, sob". Mulai deh playing victim. Padahal dia sendiri yang berjanji kapan akan sanggup membayar, harusnya bersyukur ketika diingatkan. Kenapa? Karena dalam Islam, utang dibawa mati! Mati syahid sekalipun, akan tertahan di pintu surga kalau tidak membayar utang (apalagi kalau tidak syahid!). Seserius itu urusan utang-piutang dalam Islam. 

Sebenarnya mudah. Kalau sudah berusaha mengumpulkan uang dengan niat bulat untuk membayar utang, insyaAllah Allah akan mudahkan. Kalaupun kondisinya belum memungkinkan, ya harusnya tetap jaga komunikasi dengan yang memberi pinjaman. Minimal kabari lah kapan bisanya. Jangan digantung, jangan menghilang. Orang kan juga perlu. Memang sih, kalau orang yang memberi pinjaman itu ikhlas, Allah pasti bantu dan balas kebaikan hatinya, tapi tetap, itu bukan urusan si peminjam, kan?! Urusan si peminjam adalah berfokus untuk membayar utang, bukan malah ngutangin dan menilai niat ikhlas si pemberi bantuan utang! Mau dia riya' kek, berat hati kek, apa kek, itu bukan urusan. Asal tidak ada unsur riba', harusnya malah harusnya bersyukur sudah dibantu, terlepas dari apapun motifnya. Bahkan sekalipun ada unsur riba'nya (yang sudah disepakati oleh yang berutang saat akad awal peminjaman), yang berutang wajib membayar sesuai akad, kecuali si pemberi piutang sudah tobat. Masalah dosa riba', itu urusan dengan Allah. Malah harusnya tambah takut. Sudah terjerat riba', berniat tidak membayar kewajiban pula.. 

Sayangnya, banyak yang berutang malah melarikan diri atau pura-pura lupa. Tidak sedikit yang malah menyakiti hati si pemberi pinjaman dengan kata-kata, sikap, dan respon yang tak pantas, seperti playing victim. Apakah lupa dengan masa depan di akhirat? Naudzubillah. Jangan sampai saya dan pembaca blog ini seperti itu.

Read more…

11.05.2020

"Aku Tahu Siapa Yang Perlu Ini.."

Beberapa waktu lalu, mata saya ditakdirkan untuk membaca postingan nasihat di instagram berikut. Sengaja saya screenshot. Terutama karena pengen nyentil beberapa orang yang rasanya perlu disentil..



Jadi ceritanya, saya masih merasa geram dengan beberapa orang yang lisannya senang menghasut dan menggangu ketentraman hati. Rasanya pengen saya kirimkan ss ini ke orang-orang tsb buat ngingatin. Sayangnya (atau "untungnya"(?)) Saya terlalu pengecut untuk berkonfrontasi langsung seperti itu. Terutama karena dulu pernah mencoba, eh, yang disentil gagal menangkap maksudnya (atau pura-pura kurang cerdas, saya juga kurang paham), kan jadi kesal sendiri, wkwk. Sementara itu, mau dijadikan status WA, ah nanti malah orang lain yang tak kena-mengena urusan yang tersinggung. Apalagi bisa dipastikan, orang-orang yang dituju malah sudah tidak pernah melihat status WA saya belakangan ini. Kalau FB sih memang sudah jarang buka. Ya mungkin karena "berteman" dengan orang-orang tersebut, jadi males. Jadilah foto-foto ss ini hanya tersimpan di memori hp..

***

Takdir. Beberapa hari lalu, saya menonton salah satu video Mufti Menk. Judulnya, I Know Someone Who Need This. Rasanya tersentak karena dapat pemahaman itu. Ilmu yang sebenarnya sudah lama "diketahui", tapi karena baru relevan dengan hidup, jadi baru meninggalkan pemahaman yang berkesan.


Begitulah. Kadang kita pikir ada orang lain yang perlu sebuah nasihat atau teguran atau sindiran, lalu melupakan bahwa sebenarnya kitalah yang memerlukannya. Ya, mungkin orang lain juga memerlukan ini, termasuk orang-orang yang terlintas di benak kita sebelumnya, tapi yang pasti, Allah mengirimkan sentilan tersebut spesial untuk kita. Mungkin supaya kita ingat untuk tidak menjadi seperti orang yang sifatnya tidak kita sukai, naudzubillah. Kadang kan gitu ya. Kita tidak suka sikapnya si A, tapi tanpa sadar kita malah bertingkah seperti itu juga. Naudzubillah..

Memang berat dan sulit untuk tidak terbawa perasaan, apalagi kalau sampai sempat depresi dan trauma karena sikap dan lisan orang-orang toxic. Tapi biarlah, insyaAllah saya akan belajar pelan-pelan. Seperti kata suami, biarkan orang lain berkata dan berasumsi semaunya tentang kita. Yang penting kita jangan seperti itu..

Mengenai masalah sharing/berbagi, harus selalu meluruskan niat. Berbagi bukan untuk semata-mata mengingatkan apalagi menyentil orang lain, melainkan untuk diri sendiri dulu. Berbagi adalah tentang memberikan semampunya. Kalaupun misal yang menerima tersentuh, alhamdulillah, mudah-mudahan jadi amal, aamin.. 

Saatnya fokus untuk perbaikan diri sendiri. Kalau masih disakiti, minta tolong sama Allah saja. :)

Read more…

10.28.2020

Overweight (?)

Beberapa waktu belakangan ini, saya merasa lebih berat dari seharusnya. Beberapa kali saya pernah mengungkapkan ini kepada beberapa orang. Kebanyakan responnya, "Nanti setelah melahirkan juga turun lagi kok. Kan bisa diet.

Masalahnya, saat ini bukan badan saya yang saya khawatirkan, melainkan risikonya. Setelah melahirkan, kalau menjaga makan dan rajin olahraga, insyaAllah bb bisa mengikuti sehat. Saya yakin itu. Istilahnya, no pain no gain lah. Selama mau berusaha, insyaAllah bisa. Yang mengganggu pikiran saat ini, kalau sampai overweight, ada beberapa risiko yang "mungkin" mengiringinya bagi bayi maupun ibu. Saya takkan menyebutkannya. Memikirkan persalinan saja membuat saya tegang, ditambah memikirkan masalah ini, tambah tegang, heuheu..

Ah.. Mungkin karena saya masih belum hidup di "saat ini". Terlalu sibuk menyesali masa lalu dan mengkhawatirkan masa depan. Padahal hidup adalah saat ini. Sekali lagi, SAAT INI. Harusnya momen ini dinikmati dan dihayati sebaik mungkin. Senang alhamdulillah, susah pun alhamdulillah karena masih diberikan kewarasan. Toh senang dan susah beriringan, insyaAllah setelah kesulitan ada kemudahan. InsyaAllah..

Hmm. Baiklah. Ada bagusnya juga nulis di sini, hehe. Jadi sekalian merenung. Awalnya sih mau share ringan, siapa tahu ada pembaca yang suka langsung nge-judge bumil yang mengkhawatirkan bb nya naik tinggi itu sebagai wanita yang egois karena mikirin bb nya doang. Yah, mungkin-mungkin saja, karena niat dan motif tiap orang berbeda. Tapi tolong jangan langsung dipukul rata, karena ada juga yang justru lebih mikirin anaknya daripada dirinya sendiri. 

Saya bersyukur juga sih, ada yang komentar seperti yang saya sebutkan di atas. Ini membuka mata, walaupun sempat juga menimbulkan efek nyalahin diri sendiri (karena merasa "ih aku kok egois banget ya"). Tapi ambil hikmahnya, saya yakin seyakin-yakinnya, mereka begitu karena peduli. Sejauh ini belum ada yang menyakitkan hati karena nada dalam komentar tsb cenderung netral. Soalnya beda kan kalau orang yang nge-judge, biasanya nadanya nggak enak bet, shay! Mungkin karena sekarang kalau cerita, saya lebih selektif. Yang toxic parah, ya lewat. Daripada hatiku hancur mengenang dikau, yekan.. hehe

Read more…

10.19.2020

Semoga...

Malam ini saya pergi ke dokter, antrian panjang sekali. Beberapa ibu hamil terlihat duduk di tangga. Yang lainnya, termasuk saya yang datang belakangan, terpaksa berdiri.

Sementara itu, di kursi panjang ruang tunggu terlihat beberapa lelaki duduk dengan santai sambil main hp. Ada yang bersila, memakan tempat banyak. Pura-pura bodoh atau memang bodoh, hanya Allah yang tahu.

Dalam hati saya sempat merutuk, tapi ya sudahlah. Cari spot kecil di ujung kursi panjang untuk duduk, alhamdulillah dapat meskipun nyempil. 

Dalam hati saya berdoa, semoga keturunan saya berakhlak mulia. Dan untuk mereka para lelaki di cerita ini saya berdoa, semoga setelah mereka menjadi bapak, keegoisannya berkurang. Kasihan, untuk etika yang dasar seperti itu saja tidak peka. Dan juga untuk para pasangannya, semoga lebih berani menegur jika suami melakukan hal yang salah. Apa perlu perempuan lain yang negur (?) Naudzubillah. 

Ini juga catatan untuk kami (dan pembaca yang budiman) supaya ingat mengajarkan hal-hal dasar dan penting kepada keturunan kita. Masa depan dibentuk bersama. Semoga Allah meridhoi.

Read more…

9.02.2020

Mengubah Mindset dan Belajar Menerima

Seharusnya saya memosting ini semalam, tapi karena ngantuk berat, saya tidur lebih awal daripada biasanya. Hehe..

Jadi, ceritanya, kemarin sepertinya tema belajar saya adalah tentang syukur (lagi!). Mulai dari instagram sampai youtube, saya terpapar dengan sentilan tentang pentingnya bersyukur. Padahal yang sengaja saya buka rasanya (pada awalnya) tidak nyambung dengan hal ini. Tapi ujungnya bermuara di topik tersebut.

Read more…

8.31.2020

Saat Dilanda Cemas..

Beberapa waktu belakangan ini, saya sering diliputi rasa khawatir yang bisa dikategorikan agak berlebihan. Akibatnya, sering nangis. Mulai dari mikirin corona, kerjaan, keluarga, kehamilan, dan terbaru kemarin, teringat kepergian anak pertama kami dulu. Yang terakhir disebutkan ini karena faktor kangen sih. Pas tanggal 29 Agustus lalu ultahnya juga, pas kangennya ini waktu suami lagi perjalanan dinas luar kota. Udah deh, nangis lagi. Meskipun nangisnya positif --bukan ratapan, mengehujat Allah, atau perasaan negatif lain-- tapi efeknya ternyata tetap kurang baik bagi saya yang sedang tirah baring. Dan ini bikin saya agak panik lagi.

Read more…

Follow by Email