12.15.2020

Sabro

Sebagai INFJ, salah satu hal yang paling mengusik saya adalah masalah ketidakadilan. Bukankah menyebalkan ketika suatu pihak yang tidak ikut andil atau berperan sedikit sekali namun diberikan kredit yang besar? Sementara itu, yang berandil besar, berperan penting, tidak dianggap atau perannya dikecilkan. 

Entahlah, mungkin ini juga bagian dari pengalaman masa lalu yang membentuk saya saat ini. Ya, bukankah semuanya begitu?! Tapi terus terang saja, hal-hal seperti ini membuat saya muak. Jika saja tidak mengenal Islam dan tidak mempercayai Allah, mungkin rasanya ingin protes setiap saat, menuntut keadilan dunia yang rasanya tidak akan mungkin terpenuhi karena standar keadilan tiap orang berbeda. Ujung-ujungnya, yah, harus sabar. Sebuah kata yang mudah tapi sulit, setidaknya untuk saya dalam masalah ini.

Bagi saya, yang lebih menyakitkan adalah ketika saya merasa orang yang saya sayangi diperlakukan tidak adil. Rasanya kepikiran terus, sakit hati. Tapi lagi-lagi, ketika orang yang bersangkutan justru lebih sabar, saya bisa apa? Ya cuma bisa ikut-ikutan sabar walaupun hati ini mandeg luar biasa.. haha

Read more…

11.20.2020

Dilema Utang Piutang

Jaman sekarang, jika seseorang "dianggap" punya uang, maka dengan mudah orang lain yang mengenalnya akan meminjam uang, bahkan tanpa alasan yang sangat penting dan sangat mendesak. Alasannya, karena seseorang itu orang berkecukupan. "Pelit amat, segitunya sampai tidak mau meminjamkan". Ini label paling umum untuk orang yang tidak mau meminjamkan. 

Lucunya, yang biasanya sulit dihubungi tiba-tiba menghubungi dengan sangat santun sekali. Padahal biasanya kalau dihubungi bisa berhari-hari tidak membalas. Sekalinya sudah dapat pinjaman, perangainya bisa berubah 180 derajat, atau bisa jadi itu berarti balik lagi ke perangai lama. Sulit dihubungi. Saat dihubungi, ya kapan-kapan "mood" mau balas, baru dibalas. Bahkan kadang ada yang tega-teganya sengaja ganti nomor atau bahkan memblokir. Sungguh luar biasa.

Yang menyakitkan, tidak sedikit yang bermudah-mudah minjam uang cuma untuk berfoya-foya, gegayaan, biar eksis, supaya tidak jenuh. Begitu yang meminjamkan uang merasa panas karena ternyata uang yang sudah bersusah payah dikumpulkan untuk dana darurat atau tabungan atau apapun (tapi tetap dipinjamkan) ternyata dipakai untuk hal-hal seperti itu, yang dipinjami bisa dengan entengnya berkata, "Marah-marah aja nih. Makanya jalan-jalan dong". What the ???

Belum lagi kalau sudah urusan tagih-menagih. Ini urusan super duper sensitif. Salah pilih kata, bisa-bisa yang berhak justru yang dianggap seperti pihak yang menzalimi, pelit, dan dingin hati. "Tega bener dah, nagih orang susah. Sombong, mentang-mentang lagi di atas. Bermurah hati dong harusnya. Dunia berputar, sob". Mulai deh playing victim. Padahal dia sendiri yang berjanji kapan akan sanggup membayar, harusnya bersyukur ketika diingatkan. Kenapa? Karena dalam Islam, utang dibawa mati! Mati syahid sekalipun, akan tertahan di pintu surga kalau tidak membayar utang (apalagi kalau tidak syahid!). Seserius itu urusan utang-piutang dalam Islam. 

Sebenarnya mudah. Kalau sudah berusaha mengumpulkan uang dengan niat bulat untuk membayar utang, insyaAllah Allah akan mudahkan. Kalaupun kondisinya belum memungkinkan, ya harusnya tetap jaga komunikasi dengan yang memberi pinjaman. Minimal kabari lah kapan bisanya. Jangan digantung, jangan menghilang. Orang kan juga perlu. Memang sih, kalau orang yang memberi pinjaman itu ikhlas, Allah pasti bantu dan balas kebaikan hatinya, tapi tetap, itu bukan urusan si peminjam, kan?! Urusan si peminjam adalah berfokus untuk membayar utang, bukan malah ngutangin dan menilai niat ikhlas si pemberi bantuan utang! Mau dia riya' kek, berat hati kek, apa kek, itu bukan urusan. Asal tidak ada unsur riba', harusnya malah harusnya bersyukur sudah dibantu, terlepas dari apapun motifnya. Bahkan sekalipun ada unsur riba'nya (yang sudah disepakati oleh yang berutang saat akad awal peminjaman), yang berutang wajib membayar sesuai akad, kecuali si pemberi piutang sudah tobat. Masalah dosa riba', itu urusan dengan Allah. Malah harusnya tambah takut. Sudah terjerat riba', berniat tidak membayar kewajiban pula.. 

Sayangnya, banyak yang berutang malah melarikan diri atau pura-pura lupa. Tidak sedikit yang malah menyakiti hati si pemberi pinjaman dengan kata-kata, sikap, dan respon yang tak pantas, seperti playing victim. Apakah lupa dengan masa depan di akhirat? Naudzubillah. Jangan sampai saya dan pembaca blog ini seperti itu.

Read more…

11.05.2020

"Aku Tahu Siapa Yang Perlu Ini.."

Beberapa waktu lalu, mata saya ditakdirkan untuk membaca postingan nasihat di instagram berikut. Sengaja saya screenshot. Terutama karena pengen nyentil beberapa orang yang rasanya perlu disentil..



Jadi ceritanya, saya masih merasa geram dengan beberapa orang yang lisannya senang menghasut dan menggangu ketentraman hati. Rasanya pengen saya kirimkan ss ini ke orang-orang tsb buat ngingatin. Sayangnya (atau "untungnya"(?)) Saya terlalu pengecut untuk berkonfrontasi langsung seperti itu. Terutama karena dulu pernah mencoba, eh, yang disentil gagal menangkap maksudnya (atau pura-pura kurang cerdas, saya juga kurang paham), kan jadi kesal sendiri, wkwk. Sementara itu, mau dijadikan status WA, ah nanti malah orang lain yang tak kena-mengena urusan yang tersinggung. Apalagi bisa dipastikan, orang-orang yang dituju malah sudah tidak pernah melihat status WA saya belakangan ini. Kalau FB sih memang sudah jarang buka. Ya mungkin karena "berteman" dengan orang-orang tersebut, jadi males. Jadilah foto-foto ss ini hanya tersimpan di memori hp..

***

Takdir. Beberapa hari lalu, saya menonton salah satu video Mufti Menk. Judulnya, I Know Someone Who Need This. Rasanya tersentak karena dapat pemahaman itu. Ilmu yang sebenarnya sudah lama "diketahui", tapi karena baru relevan dengan hidup, jadi baru meninggalkan pemahaman yang berkesan.


Begitulah. Kadang kita pikir ada orang lain yang perlu sebuah nasihat atau teguran atau sindiran, lalu melupakan bahwa sebenarnya kitalah yang memerlukannya. Ya, mungkin orang lain juga memerlukan ini, termasuk orang-orang yang terlintas di benak kita sebelumnya, tapi yang pasti, Allah mengirimkan sentilan tersebut spesial untuk kita. Mungkin supaya kita ingat untuk tidak menjadi seperti orang yang sifatnya tidak kita sukai, naudzubillah. Kadang kan gitu ya. Kita tidak suka sikapnya si A, tapi tanpa sadar kita malah bertingkah seperti itu juga. Naudzubillah..

Memang berat dan sulit untuk tidak terbawa perasaan, apalagi kalau sampai sempat depresi dan trauma karena sikap dan lisan orang-orang toxic. Tapi biarlah, insyaAllah saya akan belajar pelan-pelan. Seperti kata suami, biarkan orang lain berkata dan berasumsi semaunya tentang kita. Yang penting kita jangan seperti itu..

Mengenai masalah sharing/berbagi, harus selalu meluruskan niat. Berbagi bukan untuk semata-mata mengingatkan apalagi menyentil orang lain, melainkan untuk diri sendiri dulu. Berbagi adalah tentang memberikan semampunya. Kalaupun misal yang menerima tersentuh, alhamdulillah, mudah-mudahan jadi amal, aamin.. 

Saatnya fokus untuk perbaikan diri sendiri. Kalau masih disakiti, minta tolong sama Allah saja. :)

Read more…

10.28.2020

Overweight (?)

Beberapa waktu belakangan ini, saya merasa lebih berat dari seharusnya. Beberapa kali saya pernah mengungkapkan ini kepada beberapa orang. Kebanyakan responnya, "Nanti setelah melahirkan juga turun lagi kok. Kan bisa diet.

Masalahnya, saat ini bukan badan saya yang saya khawatirkan, melainkan risikonya. Setelah melahirkan, kalau menjaga makan dan rajin olahraga, insyaAllah bb bisa mengikuti sehat. Saya yakin itu. Istilahnya, no pain no gain lah. Selama mau berusaha, insyaAllah bisa. Yang mengganggu pikiran saat ini, kalau sampai overweight, ada beberapa risiko yang "mungkin" mengiringinya bagi bayi maupun ibu. Saya takkan menyebutkannya. Memikirkan persalinan saja membuat saya tegang, ditambah memikirkan masalah ini, tambah tegang, heuheu..

Ah.. Mungkin karena saya masih belum hidup di "saat ini". Terlalu sibuk menyesali masa lalu dan mengkhawatirkan masa depan. Padahal hidup adalah saat ini. Sekali lagi, SAAT INI. Harusnya momen ini dinikmati dan dihayati sebaik mungkin. Senang alhamdulillah, susah pun alhamdulillah karena masih diberikan kewarasan. Toh senang dan susah beriringan, insyaAllah setelah kesulitan ada kemudahan. InsyaAllah..

Hmm. Baiklah. Ada bagusnya juga nulis di sini, hehe. Jadi sekalian merenung. Awalnya sih mau share ringan, siapa tahu ada pembaca yang suka langsung nge-judge bumil yang mengkhawatirkan bb nya naik tinggi itu sebagai wanita yang egois karena mikirin bb nya doang. Yah, mungkin-mungkin saja, karena niat dan motif tiap orang berbeda. Tapi tolong jangan langsung dipukul rata, karena ada juga yang justru lebih mikirin anaknya daripada dirinya sendiri. 

Saya bersyukur juga sih, ada yang komentar seperti yang saya sebutkan di atas. Ini membuka mata, walaupun sempat juga menimbulkan efek nyalahin diri sendiri (karena merasa "ih aku kok egois banget ya"). Tapi ambil hikmahnya, saya yakin seyakin-yakinnya, mereka begitu karena peduli. Sejauh ini belum ada yang menyakitkan hati karena nada dalam komentar tsb cenderung netral. Soalnya beda kan kalau orang yang nge-judge, biasanya nadanya nggak enak bet, shay! Mungkin karena sekarang kalau cerita, saya lebih selektif. Yang toxic parah, ya lewat. Daripada hatiku hancur mengenang dikau, yekan.. hehe

Read more…

10.19.2020

Semoga...

Malam ini saya pergi ke dokter, antrian panjang sekali. Beberapa ibu hamil terlihat duduk di tangga. Yang lainnya, termasuk saya yang datang belakangan, terpaksa berdiri.

Sementara itu, di kursi panjang ruang tunggu terlihat beberapa lelaki duduk dengan santai sambil main hp. Ada yang bersila, memakan tempat banyak. Pura-pura bodoh atau memang bodoh, hanya Allah yang tahu.

Dalam hati saya sempat merutuk, tapi ya sudahlah. Cari spot kecil di ujung kursi panjang untuk duduk, alhamdulillah dapat meskipun nyempil. 

Dalam hati saya berdoa, semoga keturunan saya berakhlak mulia. Dan untuk mereka para lelaki di cerita ini saya berdoa, semoga setelah mereka menjadi bapak, keegoisannya berkurang. Kasihan, untuk etika yang dasar seperti itu saja tidak peka. Dan juga untuk para pasangannya, semoga lebih berani menegur jika suami melakukan hal yang salah. Apa perlu perempuan lain yang negur (?) Naudzubillah. 

Ini juga catatan untuk kami (dan pembaca yang budiman) supaya ingat mengajarkan hal-hal dasar dan penting kepada keturunan kita. Masa depan dibentuk bersama. Semoga Allah meridhoi.

Read more…

9.02.2020

Mengubah Mindset dan Belajar Menerima

Seharusnya saya memosting ini semalam, tapi karena ngantuk berat, saya tidur lebih awal daripada biasanya. Hehe..

Jadi, ceritanya, kemarin sepertinya tema belajar saya adalah tentang syukur (lagi!). Mulai dari instagram sampai youtube, saya terpapar dengan sentilan tentang pentingnya bersyukur. Padahal yang sengaja saya buka rasanya (pada awalnya) tidak nyambung dengan hal ini. Tapi ujungnya bermuara di topik tersebut.

Read more…

8.31.2020

Saat Dilanda Cemas..

Beberapa waktu belakangan ini, saya sering diliputi rasa khawatir yang bisa dikategorikan agak berlebihan. Akibatnya, sering nangis. Mulai dari mikirin corona, kerjaan, keluarga, kehamilan, dan terbaru kemarin, teringat kepergian anak pertama kami dulu. Yang terakhir disebutkan ini karena faktor kangen sih. Pas tanggal 29 Agustus lalu ultahnya juga, pas kangennya ini waktu suami lagi perjalanan dinas luar kota. Udah deh, nangis lagi. Meskipun nangisnya positif --bukan ratapan, mengehujat Allah, atau perasaan negatif lain-- tapi efeknya ternyata tetap kurang baik bagi saya yang sedang tirah baring. Dan ini bikin saya agak panik lagi.

Read more…

8.28.2020

Memulai Kembali

Hari ini saya memutuskan untuk kembali ngeblog. Mungkin tulisan-tulisan pendek. Tidak masalah. Toh sepertinya blog ini sudah semakin sedikit pembacanya. Para content creator lebih beralih ke youtube. Orang-orang pun lebih senang menonton youtube daripada membaca blog.

Laaah, pembaca makin sedikit kok malah mau kembali ngeblog?

Read more…

4.05.2020

Sepekan Sebelum Sebulan

Ahad, 5 April 2020 (11 Sha'ban 1441 H)
Hari ke-21 swakarantina.

Tiga pekan sudah berlalu. Alhamdulillah saya dan suami insyaAllah tidak menunjukkan tanda-tanda sakit. Yang memilukan, sampai hari ini di provinsi kami sudah ada 10 orang yang terkonfirmasi positif COVID-19 (5 orang dalam perawatan, 3 orang sembuh, 2 orang meninggal dunia), 33 orang PDP, dan 3767 orang dari 5698 ODP masih dalam proses pemantauan (sumber). Sementara itu di Indonesia, sudah ada 2.273 kasus terkonfirmasi positif dengan 164 orang sembuh, 198 orang meninggal dunia, sisanya masih berjuang (sumber).

Read more…

4.04.2020

Panik Untuk Tidak Panik

Sabtu, 4 April 2020 (10 Sha'ban 1441 H)
Hari ke-20 swakarantina.

Sejak mulai heboh kabar penyebaran corona beberapa pekan lalu, saya jadi sering mendengar komentar "Jangan panik". Saya setuju, karena memang benar, tidak boleh panik. Panik bukan solusi. Masalahnya, saya sering melihat komentar ini di wag yang saya ikuti. Biasanya disampaikan saat ada yang memberikan informasi terkait corona, seolah yang memberikan info panik duluan. Padahal bisa jadi ada pelajaran penting, yaitu untuk waspada, tidak mengulangi hal yang sama, dsb. Biasanya komentar "jangan panik" ini juga disertai info yang jauh dari valid. Contoh saja, masa' ada orang yang mengaku ahli biochemical blablabla mengatakan bahwa virus sama dengan jamur. Duhh. Akukok kesel yah. Kesannya lebih dijadikan sebagai bahan olok-olok, pembodohan masyarakat, dan parahnya, dapat menurunkan kewaspadaan. Rasanya mengganggu. Ok. Biar plong, nulis di sini saja deh..

Disclaimer: 
Tulisan ini bukan tulisan ilmiah, hanya opini. Perbedaan pendapat dengan pembaca mungkin terjadi.


Read more…

4.03.2020

Menikmati Pahit

Jumat, 3 April 2020 (9 Sha'ban 1441 H)
Hari ke-19 swakarantina.

Kemarin tidak ngeblog karena ketiduran awal. Sayang rasanya, tapi sudah lewat, jangan disesali. Bukan begitu? :)

Read more…

4.01.2020

Siapa Bilang?

Rabu, 1 April 2020 (7 Sha'ban 1441 H)
Hari ke-17 swakarantina.

Sudah lebih dari 14 hari. Saya tidak bisa bilang "tak terasa", karena bagi saya ini rasanya lamaa sekali. Berjuang dari rumah memang terdengar mudah dan sederhana, tapi apakah benar diam di rumah semudah itu?

Read more…

Follow by Email