4.27.2019

Cerita Lama

Alona sudah mendengarnya. Busuk, sungutnya. Kening mudanya berkernyit. Tangannya mengepal, kesal.

Sudah sejak lama ia merasa, ada yang salah dengan tetangganya itu, tapi Bunda tidak mau mendengar. Masih saja berbaik-baik dengan perempuan tua dengan 3 anak itu. Ah, Bunda memang terlalu baik. Dan beginilah jadinya kalau terlalu baik, batin Alona.

***


Baru-baru ini Alona tahu kalau tetangga sekaligus relasi kerja Bundanya itu menusuk keluarganya dari belakang. Jamak cerita beredar dari lisan perempuan tua itu, tentang Bunda maupun keluarga Alona secara keseluruhan. Sebagian besar tidak benar, sebagian lainnya entah cerita fantasi dari mana, begitu mengada-ada. Anehnya, masih ada yang bersedia mendengar.

Jauh di dalam hatinya, Alona tidak hanya kesal kepada si perempuan tua beranak 3 anak itu, tapi juga kesal kepada keseluruhan himpunan manusia itu: si pembuat cerita, si pembawa cerita, juga para penikmat cerita yang tidak pernah capek-capek berniat mengkonfirmasi cerita yang didengarnya. Yah, tidak wajib konfirmasi sih, tapi harusnya jangan ikut-ikutan mengerling sinis karena terpengaruh cerita, dong, protesnya. Bodoh..

Matanya kembali memandang langit. Sebetulnya ini bukan yang pertama. Keluarganya memang sering diterpa gosip. Ah mungkin tepatnya bukan gosip, karena siapalah mereka. Ayah dan Bunda biasa-biasa saja, Alona pun tak jauh beda. Paling-paling Abang kedua Alona yang terkenal, setidaknya di mata remaja gadis itu. Bagaimana tidak, kalau orang mencari Bunda dan Ayah, bilangnya "Papa dan Mamanya Ryan ada?". Begitu juga dengan dirinya, "Adiknya Ryan". Pernah suatu ketika, teman Alona bertanya kepada tetangga saat mencari rumah Alona. "Rumahnya Alona yang mana ya bu?", dan yang ditanya hanya geleng kepala. Tidak kenal, katanya. "Harusnya kamu tanya, rumahnya Adiknya Ryan dimana", kilah Alona waktu temannya itu protes tentang betapa tidak terkenalnya dirinya. Alona tertawa, ia tidak mengeluh. Bang Ryan memang tenar.

Bang Ryan sebenarnya bukan anak pertama. Ada Bang Adli, kakak sulung Alona. Tapi Bang Adli sudah menikah, pindah ke kota yang jauh. Alona tidak terlalu akrab dengannya. Mungkin karena usianya terpaut jauh dengan Alona, sekitar 10 tahun. Beda gender pula. Kalau Bang Ryan, beda gender sih, tapi hanya selisih 2 tahun kurang sedikit. Walaupun sering diusili, Alona tetap menempel dengan Bang Ryan. Alona juga dekat dengan Ayah. Sebagai anak bungsu dan anak perempuan satu-satunya, Alona merasa punya hak untuk manja. Manja, kata Bunda. Biarin, jawab Alona.

Siapa sangka, dekatnya Alona dengan Ayah dan Bang Ryan jadi salah satu bahan gosip murahan tetangga penghasutnya itu. Macam-macam yang diceritakan. Alona jadi kesal sendiri. Ya, tidak dipungkiri ia manja, tapi apa pedulinya orang-orang dengan hal itu. Dasar penggosip!

Kekesalannya bertambah ketika tahu kalau cerita tentang Bunda lebih banyak dan lebih mengada-ada. Tidak hanya tetangganya itu, bahkan yang punya talian darah dengan Bunda dan Ayah pun bisa cerita macam-macam tentang Bunda, tentang Ayah, tentang keluarga Alona.

"Ayah dan Bunda diam saja sih, penghasut jadi meraja lela deh", protes gadis SMA itu ke Bundanya.
"Eh, siapa bilang Bunda diam saja?", jawab Bunda.
"Mana. Bunda sama anak sendiri aja ngga cerita kok. Ini Alona baru tau dari Bang Ryan, dikasih tau sama Bang Madi, teman abang yang tinggal di gang sebelah", cecar Alona.
"Bunda cerita kok, sayang", jawab Bunda.
"Bunda bohong! Bohong ngga boleh lho, Bun..". Alona masih tidak terima.
"Maaf ya sayang, Bunda ngga cerita-cerita. Tapi Bunda tiap malam curhat ke Allah kok. Biar Allah yang bereskan".

Glek. Jawaban Bunda membuat tenggorokan Alona tercekat. Oh iya, kan ada Allah. Alona langsung teringat nasihat Pak Nasrun, guru agama islamnya tahun ajaran ini, "Ati-ati nyakitin ati orang. Sampai tangannya terangkat minta tolong Allah, bisa nyaho' dah".

Oke. Alona mengangguk. Malam ini dia mau curhat ke Allah sepuas-puasnya.

0 comments:

Post a Comment

Pesan dimoderasi

Note: Only a member of this blog may post a comment.

Follow by Email