Fredrick Ochieng (alm.) saat sesi foto untuk Konser Semarak Melodi Khatulistiwa tahun lalu. (dok. GSP IPB) |
Masih terekam jelas di ingatan saya waktu pria Kenya bersuara bass itu berbagi cerita tentang pengalamannya saat awal tinggal di Bogor, Indonesia; waktu dia mengingatkan kami agar "on beat" dan "off beat" sambil menggerakkan tangannya, waktu bercanda tentang "kode", waktu dia meminta kami menyanyi dengan not atau kaca-kaca (maksudnya kata-kata); waktu dia menjawab pertanyaan-pertanyaan kami seputar lagu Sesa Sista dan budaya Kenya; waktu dia memperagakan tarian Kenya dengan semangat agar kami tirukan saat pentas. Ia, menurut saya, adalah pelatih sekaligus konduktor yang sabar sekaligus lucu. Tahu kapan bercanda dan kapan serius. Dia pernah menegur kami karena kurang serius berlatih saat konser makin dekat. Walau saat itu terlihat frustasi, bahasa tubuh dan lisannya tetap berwibawa. Itu membuat saya respek kepadanya.
Saya baru tahu penyebab meninggalnya dari mana teman saya yang bikin status tersebut bahwa Fred meninggal tanggal 2 Mei lalu karena kecelakaan mobil di Kenya. Ia meninggal di tempat. Kabar ini diperoleh dari adiknya yang menghubungi via WA. Innalillahi wa inna illaihi roji'un. Selamat jalan, Fred.. :'