6.02.2013

Catatan Bumil Galau :p

Jauh sebelum saya mengalami sendiri, saya sangat percaya bahwa ketika kelak saya hamil maka saya tidak akan mengalami bermacam keluhan seperti mengidam, morning sickness, dan sebagainya. Bahkan dulu saya berpikir bahwa fenomena mengidam hanyalah manipulasi psikis dari ibu hamil untuk menarik perhatian suami, atau morning sickness hanya dialami oleh wanita manja.

Nyatanya, saya salah...
Setelah mengalami sendiri pengalaman hamil untuk pertama kalinya, saya merasa saya salah besar. 
#Mungkin ini yang namanya karma... Astagfirullah... *mewek*

Ketika pertama kali mengatahui bahwa saya hamil, saya masih optimis tidak akan mengalami berbagai keluhan terkait kehamilan, mengingat riwayat kehamilan Mama saya dulu --baik pada masa mengandung kakak maupun pas mengandung saya-- yang tidak banyak keluhan. Tidak ada bengkak-bengkak, tidak ada gatal di bagian perut, no morning sickness, tanpa mengidam, dan sebagainya. Namun, memasuki usia kehamilan yang bertambah, ternyata saya tidak sama dengan Mama. Memang pada awalnya tidak ada yang namanya morning sickness. Saya hanya terlambat bulan, dan secara bersamaan mengalami kehilangan nafsu makan yang cukup parah. Tapi setelah memasuki bulan kedua atau ketiga, saya yang tidak pernah muntah akhirnya muntah. Berbeda dengan teman-teman saya kebanyakan, saya lebih sering muntah di malam hari, bukan di pagi hari (morning) tapi menurut buku yang saya baca, itu tetap kategori morning sickness. Jadi, ya, saya positif pernah mengalami morning sickness. Masalahnya morning sickness yang saya alami cukup lama karena baru berhenti ketika memasuki usia kandungan bulan ke-5 (kebanyakan wanita hamil hanya di trimester 1 alias bulan ke-3 atau ke-4).

Ini pernah menjadi masalah. Jujur, dalam hati saya khawatir akan kesehatan saya dan dedek di dalam rahim saya, belum lagi rasa yang tidak nyaman karena sudah kehilangan nafsu makan, eh, makanan yang sudah masuk malah keluar. Itu sangat melelahkan pikiran, batin dan fisik saya. Tapi lama saya simpan di dalam hati. Sampai pada suatu saat, --dua waktu berbeda namun berdekatan-- Kanda dan Mama, yang saya tahu sangat mengkhawatirkan keadaan saya, bertanya apa yang salah sampai keadaan saya seperti itu. 

Pertanyaan sederhana yang sebenarnya saya tanyakan juga kepada diri sendiri itu akhirnya merobohkan pertahanan saya. Saya tidak tahu jawabannya, dan akhirnya saya hanya bisa menangis sesengukan.

Seandainya bisa, tentu saja saya ingin keadaan yang melelahkan itu segera berlalu. Saya capek menahan diri untuk tidak muntah saat makan, tapi kemudian makanan yang sudah susah payah dijejalkan ke perut harus keluar begitu saja. Saya sedih tidak bisa menjadi ibu yang baik karena kehilangan nafsu makan, dan ketika muntah itu berarti asupan gizi bagi dedek pun berkurang. Saya benar-benar khawatir dan tidak tahu harus berbuat apa. Saya lelah, tapi harus tetap bertahan untuk dedek yang saya sayang. Terlebih lagi saya sebenarnya tidak enak karena banyak merepotkan semua anggota keluarga saya gara-gara morning sickness.

Lebih sedihnya, seringkali kehamilan saya dibanding-bandingkan dengan kehamilan orang lain. Jujur saya katakan, hal ini sering mengecilkan hati dan membuat saya menangis *mungkin ini ada pengaruh hormon juga sih*, tapi untungnya saya punya orang-orang terkasih yang mau mengerti keadaan saya. Untungnya lagi, saya sempat membekali diri dengan bacaan kehamilan yang bermutu, bahwa kehamilan setiap wanita berbeda satu sama lain. Jadi saya tidak boleh membebankan diri sendiri dengan hal-hal yang tidak perlu, selama masih dalam batas kewajaran.

Waktu pun berlalu, dan morning sickness yang saya alami pun jauh berkurang. Tapi keinginan makan saya masih kurang baik. Bila ditanya, saya cenderung memilih makan mie daripada nasi. Memang mie adalah kesukaan saya dari dulu, tapi entah karena apa nasi panas seperti mengeluarkan bau tak bersahabat bagi saya. *Padahal nasi yang masih panas kan enak ya!* Saya jadi lebih memilih mendinginkan nasi terlebih dahulu baru makan, atau minta mie (tapi sebisa mungkin bukan mie instan). Saya juga jadi lebih senang makan buah saat hamil ini. Sering Kanda harus repot berburu pesanan buah atau makanan karena tidak tega kepada saya.

Dan belakangan saya baru sadar ternyata hal ini termasuk mengidam...

Untungnya yang saya pesan selalu saya usahakan habis. Tak tega melihat usaha Kanda yang rela keluar malam atau hujan untuk membelikan saya makanan, atau Mama dan Bapak yang selalu berusaha membuatkan masakan yang bisa saya makan sehingga saya secara tidak langsung mengacaukan menu makan keluarga besar.

Dulu, ketika masih di Bogor, saya berencana akan tak henti mengunjungi dan bersilaturahmi dengan keluarga di Pontianak. Nyatanya ketika di Pontianak, badan saya jadi lebih mudah lelah, apalagi seiring bertambahnya usia kehamilan dan ukuran tubuh. Saya juga sempat mengalami hipotensi, sakit kepala sampai keluar keringat dingin. Akhirnya saya hanya berkunjung atau sengaja janji bertemu hanya jika saya sekalian keluar rumah untuk suatu keperluan.

Memasuki trimester ketiga ini (sekarang masuk buulan ke-6), saya juga mulai mengalami pegal-pegal luar biasa, terutama di bagian tungkai bawah. Rasanya seperti habis berolahraga berat sehari sebelumnya, padahal saya tidak melakukan pekerjaan berat! Tapi menurut dokter hal ini sih normal karena tubuh menopang beban yang lebih berat dari biasanya. Saking sakitnya, saya sempat beberapa kali sholat dengan metode duduk. Namun karena gerakan sujud sangat baik bagi ibu hamil dan kandungannya jadi selama saya bisa saya usahakan untuk tetap sholat seperti biasa. Selain pegal, kaki saya juga jadi lebih sering bengkak. Normal, hanya mengurangi rasa kurang nyaman.

Hal lain yang cukup mengganggu adalah agak sesak nafas dan sembelit. Ya, sekali lagi ini sebenarnya normal bagi ibu hamil, mengingat ukuran bayi yang bertambah besar menekan organ pernafasan dan menghalangi proses pengeluaran sisa pencernaan. Masalahnya, sembelit pada saat hamil itu begitu menyiksa! Perut rasanya tegang dan sakit dan nafas menjadi lebih sesak, rasanya ingin meledak! Belum lagi rasa khawatir karena si dedek di dalam rahim mungkin merasa sempit. Oleh karena itu saya usahakan tiap bangun tidur minum air putih dan makan buah agar lebih mudah b-a-b. Untuk mengurangi ketegangan di bagian perut saya oleskan lotion atau minyak, berharap kulit perut menjadi lebih elastis.

Risiko yang mungkin dihadapi oleh ibu hamil, termasuk saya, adalah keputihan. Hal ini karena frekuensi b-a-k yang bertambah sering sehingga jika sedikit saja teledor dalam menjaga kebersihan dan kelembaban daerah tersebut akan menimbulkan keputihan yang mengganggu. Alhamdulillah setelah saya konsultasikan ke dokter kandungan, masalah keputihan sudah tidak lagi mengganggu. Alhamdulillah.. :)

Oh iya, hampir terlewat, saya juga mengalami sulit tidur belakangan ini. Untuk yang satu ini saya masih kesulitan dalam menyesuaikan diri. Yang bisa saya lakukan hanya secepatnya tidur ketika posisi tidur sudah pas, meskipun untuk mendapatkan posisi tidur yang nyaman harus berjuang terlebih dahulu. Yang kasihan Kanda, jadi terganggu karena saya tak henti bergerak beberapa waktu...

Untuk ke depan, semoga saya lebih kuat dan lebih kuat lagi. Aamiin..
Ganbatte! ^_*