10.20.2015

The Lorax (Movie)

Saya suka film animasi. Dari sekian banyak animasi yang pernah saya tonton, hanya sedikit yang mengangkat tema utama tentang lingkungan. Salah satunya, The Lorax. Harusnya saya sudah menuliskan hikmah ceritanya di sini sejak lama, tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali kaaan.. *hahaha, mulai deh ngeles lagi*

Okelah, cukup intro ngeles-nya. Langsung saja tentang The Lorax, dari sudut pandang saya yang awam.


FYI. The Lorax adalah film animasi yang diangkat dari novel literatur anak berjudul sama karya Dr. Seuss. Novel The Lorax terbit pertama kali tahun 1971 sementara filmnya diproduksi tahun 2012. Menurut beberapa referensi yang saya baca sih (belum pernah baca bukunya, hehe), film The Lorax sesuai dan tidak jauh berbeda dengan bukunya. Semua karakter penting ditampilkan. Istilahnya, memenuhi ekspektasi pembaca, gitu..

Untuk jalan cerita, sebenarnya cerita The Lorax bisa dikatakan cukup tidak masuk akal. Ya iyalah. Bisa-bisanya pohon dianggap mitos dan kehidupan bergelimang polusi dianggap normal. Aneh kan?!

Film ini mengambil latar suatu kota bernama Thneedville. Di kota ini warganya hidup riang gembira. Ada kesan hedon sih, menurut saya. Bisa dilihat dari lagu pertama yang menjadi lagu pembuka film. Yup, film animasi The Lorax ini tergolong musikal. Tapi tenang, tidak separah film India yang bisa sampai 3 jam-an, kok. Hhihi. Film The Lorax hanya berdurasi satu jam lebih (sekitar 86 menit).

Tidak ada yang spesial dari kehidupan di Thneedville, setidaknya dari sudut pandang warga kota tersebut. Pepohonan kota mereka terbuat dari bahan sintetis, plastik, dan besi. Ada yang seperti balon yang tinggal dipompa, ada juga yang bisa menyala warna-warni dengan tenaga baterai. Mereka makan jelly yang dibentuk sayur-sayuran. Mereka menghirup udara berpolusi dan menggunakan air berlimbah racun. Mereka sudah terbiasa. Saking terbiasanya, bisnis udara bersih milik Tuan Aloysius O'Hare laku keras.

Namun semua berubah sejak negara api menyerang, ~eh, maksudnya sejak Ted Wiggins, seorang anak remaja lelaki, menjalankan misi menaklukkan hati gadis idamannya, Audrey. Kebetulan, Audrey adalah seorang environmentalist alias pemerhati lingkungan yang terobsesi ingin melihat pohon truffula hidup yang konon banyak hidup di kota mereka. Tapi itu dulu, sudah lama sekali, sampai-sampai generasi Ted dan Audrey tidak pernah melihatnya secara langsung. Pohon hanya mitos bagi mereka.

Tapi karena pujaan hati, Ted jadi kepo berat dengan hal tersebut. Ted bertanya kepada Nenek Norma (neneknya). Nenek Norma mengaku yang pernah mendengar tentang pohon sewaktu ia kecil. Beliau lalu menyarankan agar Ted keluar kota untuk menemui seseorang yang mungkin mengetahui keberadaan pohon truffula. Orang itu bernama Once-ler.

Ted kemudian mengikuti saran Nenek Norma. Di luar kota, keadaan begitu gersang, tidak ada pohon artifisial yang menghibur mata.

Setelah awalnya diterima dengan kurang bersahabat oleh pria tua yang selalu bersembunyi di rumahnya, Ted akhirnya mendapat pencerahan. Once-ler bercerita bahwa dulu ia adalah seorang pengusaha kreatif yang menciptakan thneed inovatif serba guna dan berhasil membangun kota Thneedville.

Ternyata Once-ler memiliki peran sangat penting atas keberadaan dan ketiadaan pohon truffula. Dia berkata bahwa ia pernah bertemu dengan The Lorax, sang penjaga hutan yang berbicara atas nama pohon. Dia juga mengaku bertanggung jawab atas kepergian para binatang sahabatnya.

Kalau menurut saya, karakter Once-ler memprihatinkan. Berakar dari kurang perhatian dari orang tua (ibunya) dan keluarga, ia melakukan sesuatu yang seharusnya tidak ia lakukan hanya demi pengakuan, tidak sadar kalau perbuatannya merusak, terus bertanya "how bad can i be?", sampai akhirnya semua sudah terlambat.

Jadi pelajaran nih buat kita, berikan perhatian yang cukup kepada anak. Peran keluarga (ibu dan ayah) memang sangat penting dalam perkembangan mental anak.

Ehem, lanjut. Sebenarnya bukan lanjut cerita sih, melainkan hikmah film saja, karena sebaiknya lanjutannya nonton sendiri, biar lebih puas. Hhehe. Saya cukup berbagi rasa penasaran. Yang pasti saya sangat merekomendasikan film ini untuk keluarga, untuk edukasi lingkungan.

Ada beberapa hikmah film yang saya tangkap. Apalagi mengingat kondisi tanah kelahiran saya saat ini, Pontianak, dan beberapa kota tetangga yang dilanda kabut asap tebal. Tak kalah memprihatinkan, sebelas dua belas dengan Thneedville. Kenapa? Karena gara-gara bisnis tidak berkelanjutan dari oknum yang tidak sadar melakukan kerusakan (seperti Once-ler), bernafas, menghirup udara bersih dengan bebas, yang merupakan hak hidup mendasar setiap makhluk hidup, jadi sulit di tempat kami. Ujung-ujungnya harus beli alat bantu semisal masker atau tabung oksigen dari penguasa dan pengusaha oportunis, semacam O'Hare.

Hutan yang kaya kehidupan, digantikan perkebunan tanaman monokultur berskala luas yang rakus air tanah dan dinutrisi pupuk sintetis. Lahan gambut dibakar serampangan. Ditambah air sungai yang tercemar logam berat merkuri akibat aktivitas PETI (penambangan emas tanpa izin) alias illegal mining di daerah hulu sungai. Film The Lorax terasa begitu nyata dimana kerusakan lingkungan dimana-mana tapi kita tidak menyadarinya.

Ya, saya setuju bahwa disadari atau tidak, manusia akan selalu menghasilkan entropi atau energi tak terpakai, alias limbah. Tapi itulah esensinya kehidupan manusia, bagaimana kita meminimalisir entropi, bukan menambah kerusakannya. Pepohonan yang mendaur entropi sepantasnya dijaga, bukan dimusnahkan. ~eh, ehem.

Kalau dipikir-pikir sekarang, ketika ada yang bicara tentang manfaat pohon, seperti The Lorax, mereka hanya akan dianggap angin lalu, dianggap terlalu idealis. Seolah bersikap idealis adalah hal bodoh, padahal idealis tidak melulu berlawanan dengan realistis. Ya kan?

Pada akhirnya, yang dibutuhkan adalah: generasi muda yang peduli dan berani, seperti Ted dan Audrey; orang-orang yang  bersuara dan mendukung orang-orang yang peduli, seperti Nenek Norma dan Bu Wiggins; serta orang-orang yang memberi kesempatan atas perubahan, seperti warga Thneedville.

Oke sekian dulu. Udah panjang ternyata. Hhihi. Yang belum nonton, silakan nonton yaa.. ;)


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungannya yaa. Salam kenal!

**Komentar dimoderasi karena banyak spam. Ihik!