9.06.2015

Kabut Bikin Ribut

Tadi siang waktu di bandara, ada sedikit insiden kecil. Ribut-ribut di gate yang akan kami masuki. Uwih, ada apakah gerangan?


Sebelumnya, kami bertemu dengan seorang teman kuliah yang akan pelatihan ke Jakarta. Maskapai kami sama. Teman kami itu seharusnya naik pesawat pagi tapi sampai tengah hari belum juga bertolak karena pesawatnya belum mendarat, sementara kami yang penerbangan siang sudah dipanggil ke gate tanda akan segera berangkat.

Aneh sih, tapi sebagai penumpang yang tidak tahu apa-apa, ya kami ikut saja, langsung menuju gate yang ditentukan. Gate masih ramai, riuh rendah malah. Padahal saya sekeluarga sudah telat beberapa menit karena saya dan Kanda singgah ke kamar kecil dulu. Saya yang memegang tiket segera mengantri di kerumunan depan gate.

Ternyata penumpang pesawat pagi melakukan protes kepada petugas bandara, meminta didahulukan. Alasannya karena mereka memesan pesawat pagi, harusnya didahulukan. Sementara itu petugas menjelaskan kondisinya bahwa pesawat yang harusnya datang pagi tidak dapat mendarat. Penumpang pesawat siang dipanggil duluan karena pesawat kode tersebut sudah duluan sampai. Kira-kira begitu.

Kalau saja saya berada di posisi penumpang pagi yang sudah lelah menunggu selama kurang lebih 5 jam, mungkin saya juga bisa bete. Dan bete itu memang bisa menular dengan mengerikan. Walaupun masih banyak juga sih yang terlihat sabar.

Yang membuat runyam adalah karena adanya oknum penumpang pagi yang memprovokasi suasana dengan berteriak-teriak kepada petugas bandara dan memaksa masuk ke pesawat siang apapun keadaannya. Ada juga oknum penumpang pesawat pagi yang malah bertengkar dan marah-marah dengan penumpang siang, padahal kami kan tidak tahu apa-apa. Bingung deh. Keterlambatan semacam ini kan termasuk dalam keadaan memaksa atau force majeure karena kabut asap tebal yang menutupi langit khatulistiwa. Bisa jadi kalau pilot pesawat pagi memaksa mendarat sesuai jadwal, keadaan malah tambah runyam. Tidak perlu saya sebutkan kemungkinannya karena terlalu mengerikan untuk dibayangkan. :(  Untungnya tidak, alhamdulillah. :)

Memang sih kabut asap hasil kerjaan manusia juga, kerjaannya orang-orang yang membakar lahan secara serampangan. Jadi kalau mau marah, saya pikir pihak tidak bertanggung jawab yang membakar lahan itulah yang harusnya diprotes keras. Iya nggak sih?

Kalau kata pepatah lama sih, karena nila setitik rusak susu sebelanga. Hanya karena segelintir orang membakar lahan, orang se-provinsi yang harus menanggung akibatnya. Atau bahkan lebih luas. Di cerita ini, contohnya adalah para penumpang pesawat pagi yang delay sampai 5 jam, petugas bandara, juga kami para penumpang pesawat siang yang dimarahi. Semua adalah korban. Belum ditambah penduduk yang mengalami ispa akibat kabut asap yang semakin tebal.

FYI. Saya pernah baca, kabut asap justru makin tebal di pagi hari. Jadi di musim kabut seperti ini, kalau tidak mendesak sebaiknya pilih penerbangan siang saja. Hanya saran.

Pelajaran lain dari cerita ini, marah itu wajar tapi cara dan kepada siapa melampiaskannya juga perlu jadi perhatian.

Semoga hujan segera turun dan kabut asap di kota kami dan kota-kota lain yang terdampak segera hilang, udara jadi bersih kembali, dan kejadian kabut asap tidak berulang lagi di tahun depan. Aamiin..


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

1 comment:

  1. Sikap terburuk manusia akan keluar di saat2 spt itu. Maksa terbang itu adalah tindakan terbodoh wong landasan gak kelihatan tp ya begitulah kalau sudah gelap mata. Dulu aku pernah dr Bali mau ke Pekanbaru terpaksa nginep jakarta untuk terbang ke Padang besoknya. Dr Padang naik travel.

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungannya yaa. Salam kenal!

**Komentar dimoderasi karena banyak spam. Ihik!