4.29.2015

Nasihat Salah Tempat

Malam ini, sebelum tidur, mau curcol sedikit.

Ceritanya barusan saya buka facebook dan menemukan sebuah status tentang kegelisahan seorang teman saya terhadap pernyataan seorang "orang besar" di dunia dakwah. Di sebuah acara tafsir Qur'an di salah satu televisi swasta negeri ini, sang "orang besar" menafsirkan salah satu ayat Qur'an dengan tafsir nalar tingkat tinggi. Tentang jilbab. Ya, saya memang pernah dengar penyataan seperti ini dari orang yang sama sekitar dua atau tiga tahun lalu. Di acara  yang selalu tayang setiap sahur, "orang besar" tersebut menafsirkan bahwa jilbab bukan kewajiban muslimah. Menurutnya muslimah boleh saja tidak berjilbab jika dalam keadaan "darurat". Sampai di situ kening saya berkerut. Terus terang, tidak hanya teman saya, saya juga agak terganggu dengan pernyataan "orang besar" tersebut.

Di statusnya, teman saya menyampaikan kegelisahannya yang saya rasa masih dalam batas kewajaran. Merasa tidak nyaman dengan pernyataan "orang besar" yang omongannya didengarkan oleh orang banyak, sementara kita bukan siapa-siapa. Itu benar-benar kegelisahan. Lucunya, ada temannya teman saya itu, laki-laki, malah "menasihati" teman saya agar berhenti menghakimi "orang besar" tersebut. Itu menyebabkan perpecahan, katanya. Entahlah apakah dia tidak tahu kalau justru orang-orang seperti dia dan "orang besar" lah yang lebih dulu menghakimi orang lain. Coba, saudari muslimnya berusaha memegang agama dengan berjilbab dan menutup aurat sebagai orang yang ekstrim, fanatik, munafik, bla bla bla. Padahal ada ayatnya di Qur'an. Tetap saja dicap jelek. Teroris, misalnya.

Iya sih, aku mah apa atuh. bukan siapa-siapa seperti figur publik yang dikritisi. Tapi "orang besar" pun manusia kan. Lalu apakah sekadar mengkritisi menjadi sumber perpecahan? Duh.. *palmface*   Saya tidak hendak menuduh temannya teman saya itu sesat atau tuduhan kejam sejenis itu. Kata bijaknya ada benarnya dan memang umum digunakan untuk nasihat. Hanya saja ia keluar pada waktu, tempat, dan (terutama) topik yang kurang tepat. Begitulah, kadang kita sering keliru menempatkan nasihat dan kata bijak.

Rasa terganggu atas nasihat yang kurang pas itu mengingatkan saya untuk lebih banyak bercermin sebelum menuduh orang lain macam-macam. Tentu, sebagai manusia biasa, saya punya pikiran baik maupun buruk. Juga masih sering lupa atau keliru. Mungkin sebelas dua belas lah dengan temannya teman saya itu. Tapi mengingat rasa tidak nyaman ini, semoga saya ingat untuk memberi nasihat yang nyambung (berkata baik), atau diam.

Sekian curcol hari ini. Sebagai penutup, jika baru mampu di tahap amal makruf, jangan lah kita membenci orang yang melakukan nahi munkar.. #SelfReminder
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

4 comments:

  1. Sejak segala ucap menjadi tulisan dan diumbar di socmed, banyak sekali orang dengan mudah men-judge tulisan orang lain. Aku juga masih belajar nge-rem tulisan yang mungkin bikin pihak lain ilfill. Dan, harus lebih banyak sabar kayaknya. Di dunmay lebih banyak tetangga sih, beda dengan kehidupan nyata, tetangga paling berapa orang sih :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. banyak tetangga... istilah yang menarik... memang banyak tetangga di dunmay....

      Delete
  2. Makanya kadang saya lebih baik diam mba kalau soal yg begitu itu...masalahnya namanya jg sosial media ya tempat bnyak org bersosialisassi bnyak pendapat dan bnyak otak pemilik didlmnya...jadi ya itu gampang skali utk saling judge...terkadang memang benar diam itu emas kok hahaha... *halah :D

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungannya yaa. Salam kenal!

**Komentar dimoderasi karena banyak spam. Ihik!