6.14.2014

Hati-Hati Menuduh Munafik

Saya adalah orang yang pernah dituduh munafik, atau bahasa kerennya: hipokrit. Sangat menyakitkan dan sulit saya maafkan sampai sekarang. Entahlah, mungkin nanti setahun dua lewat, atau setelah orangnya minta maaf, saya baru bisa memaafkan perkara tersebut. Atau melupakannya dengan rela.

Sebagai hikmahnya,
sekarang saya jadi lebih berhati-hati menuduh orang lain munafik. Mengenai hal ini, saya menemukan artikel bagus yang mungkin bisa teman-teman baca, klik di sini..

Sebagai muslim yang sekarang sedang berada di pertengahan bulan sya'ban, kenangan buruk tentang tuduhan "munafik" itu kembali ke permukaan pikiran setelah beberapa hari belakangan ini banyak orang (termasuk saya) terikut ke dalam arus euforia pilpres di media sosial. Saya memang jarang berkomentar atau mengeluarkan argumen karena merasa pilihan politik adalah LUBER, tapi saya senang membaca tautan-tautan yang dibagikan teman-teman sebagai referensi pengimbang informasi. Berusaha objektif dalam kemustahilan karena media seringkali timpang dalam pemberitaan.

Dalam interaksi sosial media, sangat jamak saya melihat dialog antara teman-teman saya tentang perbedaan pilihan presiden mereka. Saya anggap normal, sampai jika salah satu pihak memaki atau mengatai temannya dengan sebutan munafik (dan tuduhan kasar lainnya). Ah, tidak tahukah mereka betapa kejam tuduhan seperti itu... :(

jangan terlalu cepat menuduh munafik
naudzubillah..

Betapa saya rindu suasana kampanye yang mengedepankan kata-kata santun dalam berpendapat, tidak memaksakan pilihan kepada orang lain dengan tetap memberikan informasi yang bermanfaat, dan tidak terbawa emosi hanya karena perbedaan pendapat.

Dan cukuplah Allah Yang Maha Tahu yang menghitung pahala dan dosa kita dan orang lain..

** Catatan galau pendek di tengah malam setengah bulan menjelang Ramadhan..
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

5 comments:

  1. Gak baik mbak punya niat utk belum memaafkan orang itu :) sakit hati boleh mbak, wajar.. Tapi maafkan aja orang itu, sekalipun dia gak minta maaf dan mbak masih sakit hati.. Karena orang yg memberi maaf lebih dulu itu mulia, apalagi tanpa diminta :) Segala kebaikan yg mbak lakukan adalah utk diri mbak sendiri kok, termasuk memberi maaf..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Entah mengapa, sebelum posting ini saya sudah berasa nanti akan ada yang menegur saya perihal pernyataan saya tentang belum memaafkan orang yang mengatai saya... :)

      Sebenarnya kembali lagi, seperti yang sudah saya tuliskan di postingan ini, Mbak. Saat ini saya memang sulit memaafkan orang tersebut. BELUM, tapi tidak menutup kemungkinan mungkin setahun atau tahun-tahun berikutnya, atau setelah orangnya meminta maaf saya bisa memaafkan dengan tulus ikhlas. Semuanya masalah waktu. :)

      Intinya, di postingan ini tujuan saya adalah lebih untuk mengingatkan agar semua yang membaca (terutama saya) tidak mudah menuduh hal-hal buruk kepada orang lain.

      Terima kasih banyak sudah mengingatkan saya akan mulianya memaafkan. Saya sangat setuju, mbak. Tapi menurut pendapat saya, itulah salah satu konsekuensi dari sembarangan menuduh orang lain (selain konsekuensi yang disebutkan di hadits di atas)... ^_^ #imho

      #Hanya untuk renungan..

      Btw, terima kasih atas nasihat dan kunjungannya ya Mbak.. :)

      Delete
    2. sakinya tuh disini ya Mak.... :'(
      saya pun juga menyadari bahwa ada beberapa luka di hati ini yg tidak bisa hilang sempurna, saya pun beberapa kali disakiti, sudah berusaha memaafkan namun di hati terdalam ternyata tetap berbekas Maakk :(

      Ya sudah lah, hanya Allah lah yang bisa menilai entah saya sudah benar-benar bisa memaafkan atau belum....hanya Allah yang tahu saya sudah ikhlas atau belum...yang penting sejauh ini saya sudah berusaha memaafkan meskipun sulit :(

      Delete
  2. Iya Mak Ninik.. Karena dasar itulah, saya di sini mengingatkan diri sendiri untuk tidak menyakiti orang lain dengan kata-kata negatif seperti "munafik", dan juga termasuk label "pemarah", "tidak sabaran", "tidak ikhlas", "bodoh", "tidak legowo" dsb. Pengetahuan kita sebagai manusia biasa sangat terbatas mengenai orang lain, bahkan memastikan diri sendiri tidak seperti itupun kita kesulitan, kan Mak? Naudzubillah, semoga kita terhindar dari sifat tidak terpuji itu..

    Dan betul, saya setuju Mak. Masalah keikhlasan adalah urusan hati orang perorang dengan Tuhannya. Kita tidak bisa memaksa orang lain untuk ikhlas karena itu bukan urusan kita. Masalah keikhlasan baru jadi masalah kita, jika kita lah yang menyebabkan orang yg tidak ikhlas tersebut "belum" ikhlas memaafkan. Yg penting kita selalu berusaha dengan baik untuk memaafkan dan meminta maaf jika ada salah. Biarlah Allah yang menilai dan waktu yang membantu memulihkan luka hati.

    Nggak nyangka Mak Ninik ke tulisan ini. Tulisan lama soalnya, pas pemilu dulu loh, hihihi. Makasih ya udah singgah.. :)

    ReplyDelete
  3. wah sama mbak.. saya juga pernah ada pengalaman seperti itu. akhir tahun lalu kira2x.
    sakit yak.
    apa lagi yg bicara tu teman baik. masalahnya dia sama sekali tidak membuktikan atau bisa menjelaskan kenapa dia bisa berkata demikian kepada saya. dia cuma bilang dia bisa membaca orang. ajaib. dan bicaranya dengan emosi. apa begitu namanya menasehati? saya juga sama spt mbak. tapi saya sudah maafkan.
    cuma saya memilih maafkan and goodbye.
    seperlunya aja deh komunikasi. gak usah dekat lagi, kalau masih emosian dan sembarangan gt.

    *malah curcol*

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungannya yaa. Salam kenal!

**Komentar dimoderasi karena banyak spam. Ihik!