4.05.2020

Sepekan Sebelum Sebulan

Ahad, 5 April 2020 (11 Sha'ban 1441 H)
Hari ke-21 swakarantina.

Tiga pekan sudah berlalu. Alhamdulillah saya dan suami insyaAllah tidak menunjukkan tanda-tanda sakit. Yang memilukan, sampai hari ini di provinsi kami sudah ada 10 orang yang terkonfirmasi positif COVID-19 (5 orang dalam perawatan, 3 orang sembuh, 2 orang meninggal dunia), 33 orang PDP, dan 3767 orang dari 5698 ODP masih dalam proses pemantauan (sumber). Sementara itu di Indonesia, sudah ada 2.273 kasus terkonfirmasi positif dengan 164 orang sembuh, 198 orang meninggal dunia, sisanya masih berjuang (sumber).

Di belahan bumi lain, pandemi ini masih berlangsung dan bertambah setiap hari (sumber). Total kasus COVID-19 hari ini adalah 1.245.192 kasus terkonfirmasi positif dengan 920.786 kasus aktif dan 324.406 kasus selesai (256.496 orang sembuh, 67.910 orang meninggal dunia).

Negara yang saat ini menanjak kurva secara signifikan adalah AS. Total kasusnya sejauh ini paling besar, yaitu 323.516 dengan penambahan 12.159 kasus baru hari ini. Total yang meninggal adalah 9.171 orang (nambah 719 kematian baru hari ini). Tapi yang bikin bergidik, ternyata total kasus kematian karena COVID-19 di AS ini menempati peringkat ketiga setelah Italia (15.887 orang) dan Spanyol (12.418 orang). Innalillahi wa inna ilaihi roji'un. Betapa ciptaan Allah yang mikroskopik ini telah banyak mengubah dunia.. :'

Btw. China sebagai negara pertama kasus COVID-19 juga nyatanya belum aman meskipun sudah jauh turun dari sebelumnya. Seingat saya sekitar pekan lalu, sempat tidak ada penambahan kasus baru di China, tapi tidak lama. Hari ini masih ada penambahan 30 kasus baru dan 3 orang meninggal dunia. Padahal kasus pertamanya terjadi tanggal 17 November 2019, sekitar 4 bulanan lalu. Wuhan sebagai tempat virus berasal di-lockdown sejak tanggal 23 Januari 2020, sekitar 2 bulanan lalu. Apa kabar Indonesia yang kasus pertamanya terjadi tanggal 1 Maret 2020? Yang awal tahun ini sempat membuka pintu selebar-lebarnya bagi wisatawan mancanegara padahal sedang heboh corona? Yang lambat menutup perbatasan negeri? Yang meremehkan kasus awal, takabur pula? Yang fasilitas kesehatannya jarang bagus? Yang tenaga medisnya sejak awal banyak yang terpapar virus karena APD kurang?  :'

Belum lagi ditambah influenser yang berlogika aneh, mengajak kepada ketidakpanikan namun memberikan informasi yang melantur dan ngawur. Ini tuh seperti sok baik padahal jahaaat banget. Ya iyalah, kalau sampai false information-nya ditelan mentah-mentah oleh masyarakat kan bahaya. Mana secara statistik, mayoritas orang Indonesia tergolong functionally illaterate pula (sumber). Tidak heran sampai sekarang masih ada orang yang belum ngeh dan merasa physical distancing itu berlebihan. Ah, jangankan masyarakat awam, pejabat negara saja banyak yang meremehkan virus corona. Bisa sembuh sendiri kok, katanya. Takut kok sama corona, takut itu sama tuhan, katanya. Tidak apa berkumpul dengan orang, yang penting kumur-kumur pake air garam, katanya.  (-_____- ") duuh, gemes akutuuu..

Di sisi lain, sedih rasanya melihat orang-orang yang terpaksa tetap harus bekerja. Banyak dari mereka sudah tahu tentang risiko tertular, tapi mau tak mau. Doa saya untuk mereka.

Senada dengan postingan saya kemarin, saya masih berpendapat bahwa membekali diri dengan info dari sumber yang relevan adalah hal penting supaya tidak panikan, bukannya malah menutup diri sama sekali dari informasi. Kalau dapat berita, segera cek ke sumber yang relevan. Contohnya, baca info mythbuster dari WHO (sumber).

Kita tidak bisa memaksa orang untuk tidak menyebarkan kebohongan, tapi kita bisa memaksa diri kita sendiri untuk membekali diri dengan ilmu dan pengetahuan agar tidak tersesat di dunia yang penuh dengan kebohongan ini.
~Delyanet Karmoni

Ya Allah, semoga wabah ini segera berlalu. Aamiin..

0 comments:

Post a Comment

Pesan dimoderasi

Follow by Email