4.04.2020

Panik Untuk Tidak Panik

Sabtu, 4 April 2020 (10 Sha'ban 1441 H)
Hari ke-20 swakarantina.

Sejak mulai heboh kabar penyebaran corona beberapa pekan lalu, saya jadi sering mendengar komentar "Jangan panik". Saya setuju, karena memang benar, tidak boleh panik. Panik bukan solusi. Masalahnya, saya sering melihat komentar ini di wag yang saya ikuti. Biasanya disampaikan saat ada yang memberikan informasi terkait corona, seolah yang memberikan info panik duluan. Padahal bisa jadi ada pelajaran penting, yaitu untuk waspada, tidak mengulangi hal yang sama, dsb. Biasanya komentar "jangan panik" ini juga disertai info yang jauh dari valid. Contoh saja, masa' ada orang yang mengaku ahli biochemical blablabla mengatakan bahwa virus sama dengan jamur. Duhh. Akukok kesel yah. Kesannya lebih dijadikan sebagai bahan olok-olok, pembodohan masyarakat, dan parahnya, dapat menurunkan kewaspadaan. Rasanya mengganggu. Ok. Biar plong, nulis di sini saja deh..

Disclaimer: 
Tulisan ini bukan tulisan ilmiah, hanya opini. Perbedaan pendapat dengan pembaca mungkin terjadi.


Kemarin saya mendengar berita tentang penolakan warga untuk pemakaman korban COVID-19. Sebelumnya, saya pernah dengar tentang nakes yang diusir dari kontrakan karena merawat pasien COVID-19. Ada juga anak nakes yang di-bully dan dijauhi karena ortunya merawat pasien COVID-19 atau ada anggota keluarganya yang sakit. Ada juga fenomena pembelian banyak barang dalam satu waktu alias pemborongan (istilah lain: panic buying). Tak kalah mengerikan adalah pergerakan manusia dari atau menuju ke episentrum wabah, seolah sedang tidak terjadi apa-apa. Satu lagi, yang tadi saya sebutkan di awal, yaitu berkembangnya pesan berantai yang seolah menenangkan namun dipertanyakan kevalidannya. Yup. Menurut saya, semua fenomena sosial irrasional tersebut adalah contoh dari kepanikan berlebihan. Sebagiannya berbentuk penyangkalan yang merupakan bentuk "panik untuk tidak panik", alias sebenarnya panik tapi tidak mau mengaku.

Terus terang, waktu awal swakarantina, saya sempat mengalami kepanikan agak parah. Terutama karena memikirkan ortu yang beda kota. Alhamdulillah-nya saya tidak sampai melakukan sesuatu seperti contoh di atas, tapi lebih ke dalam diri. Bawaan jadi stres, nangis terus. Secara fisik, tangan sampai bergetar dan dingin, sakit perut, dsb. Saya pernah cerita di postingan sebelumnya. Sampai sekarang, saya masih berlatih mengendalikan diri. Berlatih untuk tetap tenang meskipun pikiran luar biasa kalut itu sulit. Sulit tapi insyaAllah mungkin.

Agar bisa selamat dari kepanikan berlebih, ada 3 hal penting yang menurut saya perlu dilakukan. Pertama, perbanyak membaca atau mencari informasi dari sumber yang relevan dan dapat dipertanggungjawabkan. Kalau kita bicara tentang virus corona maka sumber yang relevan adalah situs kesehatan resmi seperti WHO, atau dinkes, dsb. Kalau terkait urusan agama karena dampak wabah corona, ya lihat situs resmi MUI. Jangan mengandalkan medsos ataupun situs berita populer. Tidak jarang berita di situs berita populer tiba-tiba hilang karena dihapus. Belum lagi judulnya yang kebanyakan click bait alias lain berita lain judul. Maklum saja, tujuannya memang untuk komersil. Sementara itu berita di medsos sulit untuk dipertanggungjawabkan.

Kedua, terapkan ilmu yang dimiliki. Contohnya, jika sudah belajar tentang penularan virus corona, maka terapkan cara pencegahan yang efektif dalam kehidupan sehari-hari. Jika sudah belajar tentang physical distancing, terapkan. Jika sudah belajar tentang cara mencuci tangan dengan baik, lakukan. Alirkan juga energi yang ada ke dalam aktivitas yang bermanfaat.Jangan ditunda supaya tidak menyesal. Orang yang menyesal lah yang biasanya panikan.

Ketiga, luruskan niat sebelum berusaha dan perbanyak berdoa setelah berusaha. Mungkin kesannya remeh, tapi niat dan doa itu luar biasa. Niat mengingatkan kita akan alasan kuat melakukan sesuatu, sementara doa memberikan kita pengharapan sehingga tidak berputus asa.

Jadi begitulah. Intinya, TETAP TENANG DAN WASPADA.

Sebenarnya masih banyak yang ingin disampaikan, tapi karena sekarang saya sudah mengantuk berat, saya tutup dulu.. Dah!

0 comments:

Post a Comment

Pesan dimoderasi

Follow by Email