6.22.2016

Pensieve Ramadhan: Tak Rejeki Harus Bagaimana?

Siang ini saya dan Mama' nonton acara khas Ramadhan yang sangat kami sukai: Hafiz Indonesia. Acara ini menampilkan para anak-anak yang menyetorkan hafalan Qur'an mereka. Suara lantunan Qur'an yang masih bening dan halus khas anak-anak selalu membuat saya selalu merasa takjub sekaligus terharu. Begitu indah janji Allah menjaga kalam-Nya.



Gara-gara acara tersebut, belakangan ini saya berangan-angan. Saya berencana akan belajar tajwid lagi dan pelan-pelan menghafal Qur'an juga supaya nanti punya anak yang hafiz (penghafal Qur'an) seperti para peserta di acara itu. Apalagi bulan ini saya dapat pertanda berupa flek dan terlambat bulan. Kanda terlihat bersemangat waktu mendengar kabar tersebut. Mama' juga. Karena itu tiap malam di bulan suci ini saya selalu berdoa sungguh-sungguh supaya bulan ini benar-benar positif. Tapi apa mau dikata, Allah belum menghendaki. Sore ini, di hari ke-17 Ramadhan, saya harus mengubur kembali mimpi itu barang sebentar. Pikiran saya rasanya melayang, sedih, sungguh menyakitkan.

Entahlah, mungkin ada niat saya belum baik. Saya sangat ingin segera hamil di bulan ini supaya tidak capek-capek menjawab pertanyaan orang saat lebaran nanti. Saya capek lihat mata orang yang sinis kalau nanya. Saya juga sedih lihat Mama' yang kangen menggendong cucunya sendiri. Beliau tidak pernah bilang sih, malah selalu mengingatkan saya untuk bersabar dan bertawakal kepada Allah, tapi harapannya kan tetap kelihatan. Entahlah. Mungkin niat saya punya anak belum sempurna. Hanya Allah yang tahu alasannya.

Mirisnya, ini terjadi tepat 2 hari setelah saya menulis tentang rejeki takkan kemana beberapa hari lalu, yang intinya,
"Rejeki takkan kemana. Sebaliknya, kalau bukan rejeki, dikejar pun takkan dapat."
"Rejeki manusia kan hak Allah. Dikasih atau tidak, ya terserah Allah"

Begitu tulisan saya waktu itu.

Saya sadar, setiap perkataan akan selalu diuji oleh Allah. Itu terjadi kepada siapapun sepanjang waktu. Kali ini terjadi kepada saya lagi. Saya hanya berharap mampu melewatinya dengan baik. Harus sabar, harus sadar. Sekarang yang harus dilakukan adalah bangkit dan belajar meresapi, mungkin ini memang belum saatnya. Toh dapat tamu bulanan kan kebaikan juga, artinya reproduksi saya sehat, insyaallah. Alhamdulillah.

Jadi sekarang, nikmat mana lagi yang akan kamu dustakan? Ayo Yanet, semangat, semangat, semangaaaat!! *nyemangatin diri sendiri :'  

*maaf, kolom komentar di postingan ini sengaja ditutup
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...