7.20.2015

Malam Takbiran di Kota Pontianak

Alhamdulillah, lebaran tahun ini saya lalui di kota kelahiran, Pontianak. Di kota khatulistiwa ini, sebenarnya ada tradisi unik setiap jelang bulan syawal. Konon ini ada hubungannya dengan sejarah kota.


Sekadar info bagi yang belum pernah berkunjung atau kurang tahu tentang sejarah kota Pontianak, tradisi unik kota kami setiap jelang idul fitri adalah festival meriam karbit. Sebelumnya sih tidak pakai festival, tapi untuk lebih menertibkan pelaksanaan dan menarik minat wisatawan, maka tradisi lama masyarakat pinggir sungai pun diorganisir.

Seingat saya, dulu meriam karbit sering dinyalakan tanpa jadwal yang jelas dan biasanya tengah malam. Suara yang menggelegar dari meriam bisa terdengar jauh. Dari rumah orang tua saya yang tidak dekat dengan sungai saja bisa terdengar, apalagi dari rumah masyarakat yang tinggal di riparian sungai kapuas. Uwih. Saya jadi ingat cerita salah seorang teman yang rumahnya di salah satu gang yang rutin setiap tahun ber-meriam karbit ria. Katanya, selain suara yang membuat kaget (apalagi dinyalakan di malam hari), kaca rumah pun kadang retak atau pecah karena getarannya.

Ah, saya hampir lupa. Sebenarnya tidak hanya teman saya yang berkata demikian. Kedua orang tua saya juga pernah berkata demikian. Itu karena pengalaman sewaktu masih tinggal di rumah pinggir sungai selama beberapa tahun sebelum menempati rumah kami yang sekarang. Cuma karena saya terlalu kecil untuk mengingat hal tersebut, jadi saya hanya dengar ceritanya saja. :D  Tidak ingat sama sekali dengan sensasinya, walaupun penasaran.

Nah, mungkin karena itu juga, saya oke-oke saja ketika Kanda mengajak saya menyaksikan festival meriam karbit yang diadakan di sepanjang Sungai Kapuas di Kota Pontianak saat malam takbiran di penghujung bulan suci ramadhan tahun ini. Saya ingin membuktikan sendiri. Hihihi. Telat sih, karena ini adalah pertama kalinya dari seumur hidup saya, sengaja menyaksikan kemeriahan meriam karbit di lokasinya langsung. Maklum, selama ini kan hanya mendengar dari kejauhan, sedangkan memori tentang itu waktu kecil dulu, sudah hilang. Jadi harus deh. Sebagai orang yang lahir dan besar di Pontianak, lucu juga rasanya mengingat saya tidak pernah lihat penyulutan meriam karbit. Kebetulan karena tahun ini lebaran di Pontianak, plus ada mahram yang ngajak, jadi saya pun mengiyakan walaupun awalnya agak malas-malasan karena harus melakukan 2 hal yang kurang saya sukai (keluar malam dan berada di keramaian). :p

Sekitar pukul 9 malam, kami dan beberapa teman suami (Agri, Kojay, Pian) berkumpul sekalian bersilaturahmi karena sudah lama tidak berjumpa. Apalagi dua orang dari teman Kanda tersebut pernah membantu saya waktu penelitian skripsi di Gunung Passi dulu. Seru saja. Sayangnya hanya Agri yang membawa istri ikut serta.

Sekitar pukul 10 malam kami menuju ke Gang Kamboja, salah satu gang yang jadi pintu masuk ke pinggiran sungai. Sebenarnya ada banyak lagi gang lain, tapi berhubung yang pernah nonton mengajak lewat gang tersebut, jadi ya begitu.

Benar perkiraan saya, gertak di gang-gang pinggir sungai sudah padat dipenuhi orang-orang yang sama dengan kami. Sebenarnya di jalan raya pun sudah terlihat. Untuk standar jam istirahat seperti itu, kemacetan adalah suatu hal yang tidak terlalu lumrah di kota ini. Kecuali di persimpangan lampu merah atau sekolah saat jam masuk kerja dan sekolah.

Setelah masuk gang, yang bagian ujung dekat sungainya bersambungan dengan gang lain oleh gertak yang sejajar sungai, suasana seru mulai terasa. Degum meriam makin kuat, beriringan dengan kumandang takbir kemenangan. Sayangnya, banyak juga saya lihat sendiri pemandangan kurang baik, seperti anak-anak muda yang berpakaian dugem (tahu kan maksudnya?) masuk ke cafe kayu pinggir sungai yang lampunya remang dan kelap-kelip mirip lampu disko. Ada juga yang memutar lagu house music ala diskotik, mengalahkan suara takbir di masjid seberang. Miris, apalagi ini terhitung masih ramadhan (hanya saja sudah sangat di penghujung) dengan takbir mengantar kepergiannya. :|  Untungnya banyak juga yang normal. Hanya tempat makan tanpa musik. Kami sendiri memilih singgah di salah satu perahu galaherang yang masih tertambat namun sudah siap berangkat. Tak menunggu lama, perahu galaherang yang sudah penuh penumpang pun berangkat, mengantarkan kami menyusuri sungai kapuas yang meriah dengan takbir kemenangan dan meriam yang bersahutan. Sungai malam terlihat gelap, misterius, dan hanya terlihat riaknya. Jujur, saya sempat khawatir. Alhamdulillah, sampai kembali ke lokasi awal di dekat gang kamboja, tiada kurang apapun kecuali 15 ribu per orang dan telinga yang agak nguing~nguing karena "ditembak " beberapa jejer meriam karbit yang dilewati. Benar-benar pengalaman yang mengesankan. ^^

Saking serunya, saya tidak bisa mengambil gambar dengan cukup baik, selain karena keterbatasan kamera dan gelapnya sungai.

Setelah turun dari perahu, kami ke salah satu jejeran meriam karbit terdekat, ke arah jembatan kapuas. Saya kurang tahu itu di muara gang apa. Yang jelas di situ lebih ramai lagi. Rupanya orang banyak yang mengantri ingin menyulut meriam karbit. Agri yang awalnya ingin mencoba, urung. Jadinya kami hanya menikmati suasana di dekat situ.

Sekadar info, hanya menonton pun seru lho! Suara meriam karbit dari dekat memiliki sensasi yang luaaar biasa. Belum dihitung angin yang berhembus dengan kencang yang dihasilkan ledakan karbit. Karena ini, tiba-tiba saya teringat dengan saudara-saudara muslim di Palestina yang ditembaki bom dan peluru. Apa kabar mereka ya? :'


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

1 comment:

Terima kasih atas kunjungannya yaa. Salam kenal!

**Komentar dimoderasi karena banyak spam. Ihik!