5.26.2015

Nyinyir

Ternyata kemarin sempat ada kehebohan di salah satu komunitas blogger yang saya ikuti, dan saya baru tahu malam ini *kudet, huhu*. Tapi tak apa. Hikmahnya, ada pelajaran berharga yang bisa saya petik, terutama dalam dunia per-blog-an. 

Berpelukan

Yang saya pahami, ngeblog (dan juga kegiatan-kegiatan lain yang kita lakukan dalam hidup), hendaknya selalu dilakukan dengan sepenuh hati. Tidak harus membuat orang lain senang, karena bagaimanapun kita berusaha, tidak semua orang akan senang. Bisa jadi ada satu-dua atau banyak orang yang tidak senang dengan apapun yang kita lakukan atau katakan. Apalagi model tulisan perenungan seperti kali ini. Kata orang, sok bijak. Ah sudahlah..

Blog adalah milik pribadi, jadi memang suka-suka pemiliknya mau mengisinya dengan apa. Curcol, promosi, ikut lomba, dll. Apapun itu, bebas. Lebih baik lagi kalau disertai dengan berbagi ilmu dan pengetahuan yang berguna, sesuatu yang bisa menginspirasi orang lain, atau hiburan segar dan sehat untuk pembaca. Bebas. Sekali lagi saya katakan, bebas sebebas-bebasnya! Termasuk, bebas nyinyirin orang lain. Namanya juga berpendapat. Walau ketus dan mungkin berpotensi menyakitkan perasaan orang lain, toh nyinyir kan juga termasuk kebebasan dalam menyampaikan pendapat..

Terus terang, saya sudah sering membaca tulisan bernada nyinyir. Kadang saya santai kayak di pantai, tapi kadang juga tergelitik untuk berkomentar. Seperti beberapa waktu lalu (ini tak ada hubungannya dengan kejadian di komunitas yang saya sebutkan di awal), pernah saya tak sengaja mengunjungi tautan dari fb teman sekolah, tentang berapa belas tipe perempuan di sosmed. Isinya, nyinyir semua: ibu sok sehat karena sering posting foto sarapan buah lah, ibu sok pejuang asi yang tiap hari posting tentang asi asip dan mpasi lah, ibu sok bahagia karena posting update foto anak lah, ibu pekerja yang sok galau memilih resign atau jaga anak di rumah lah, ibu pemilik toko online yang sok berhasil padahal pendapatannya nggak sebanding dengan gajinya waktu belum resign lah, ibu tanpa anak yang sok komentar padahal belum punya anak lah, dll. 

Dengan dalih itu tulisan sarkasme khusus untuk orang "cerdas", si penulis berhasil membuat pembacanya tersinggung ataupun tertawa (ada juga sih yang mengaku mengintrospeksi diri, alhamdulillah). Sayangnya, sepertinya penulis lupa menambahkan satu poin tentang topik yang disinggungnya, yaitu tipe ibu-ibu yang suka nyinyir seperti penulis artikel tersebut. Kalau saja si penulis bersarkasme secara adil termasuk melihat diri sendiri, mungkin ini tak terlalu berkesan. Tapi begitulah. Ibarat pepatah lam,gajah di pelupuk mata seringkali tak nampak, kuman di seberang lautan nampak. Naudzubillah... 

Di sini saya sadar, berkaca dari diri sendiri yang sensitif, gaya nyinyir terasa tidak cocok untuk saya, tapi di sisi lain, saya akui, baca tulisan orang bernada nyinyir itu seru!  *inkonsisten* :p

nyinyir
Terserah orang lain, yanet, tapi coba ingat ini..

Ngeblog sambil nyinyir adalah gaya pribadi. Itu terserah pribadi masing-masing dan saya tidak mengurusi itu. Toh gaya nyinyir banyak yang suka baca kok (termasuk saya, ssttt). Apalagi kalau yang ditulis bertopik sensitif dan rentan konflik. 

Yang sering kita lupa, ketika berani menuliskan apapun di blog, siap tidak siap, itu akan dibaca orang lain (kecuali jika pembaca dibatasi). Jadi, siap tidak siap, harus berani juga menerima konsekuensi dari perbuatan. Jangan sampai, setelah nyinyir, kita merasa di-bully ketika ada yang berseberangan pendapat dan menyampaikan dengan gaya bahasa serupa: nyinyir. Beda kasus kalau kita sudah berusaha menyampaikan dengan baik-baik tapi dikomentari nyinyir.. :(

Anda bebas melakukan apapun tapi takkan pernah bebas dari konsekuensinya.. ~Anonim

Inilah pelajaran yang bisa saya ambil dari kejadian ini. Semoga dapat menjadi pelajaran buat kita semua agar bangga dengan hidup kita tanpa merendahkan perbedaan pilihan hidup orang lain. Maaf jika ada yang kurang berkenan. Salaam! ^^
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

14 comments:

  1. Masih rame tentang nyinyir ya, mba. :D *senyum aja deh, hehe*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini pertanyaan ya mbak Ila? hihihi, klo pertanyaan, saya nggak bisa jawab karena nyinyir takkan pernah berhenti mbak. Akan selalu ada. Jadikan pelajaran aja, lah.. nggak bisa ngapa2in ini.. :D *ikutan senyum2 juga*

      Delete
  2. komunitas yg mana mbk???pas banget 2 hari g aktif di medsos,jadi bener2 g tau hehehe...buka medsos pada nyindir2 gitu hehehe..
    suka banget sama quote terakhirya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pokoknya ada lah, mbak Hana.. Saya bersyukur sih, telat taunya dan nggak ikutan komen ngebully (katanya sih dia dibully, tapi nggak tau juga sih, nggak nemu tritnya). Ini pun saya jadi kepo gara-gara ada yg bikin status nyindir... :3

      Delete
  3. Betul Mak. Segala konsekuensinya memang harus diterima. Namanya juga ngeblog apalagi dishare, ya pasti akan mengundang 'semut-semut' berdatangan :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyap! Well said, mbak Ade. Ini pelajaran penting buat kita supaya lebih dewasa dalam ngeblog.

      Delete
  4. haha...aku malah ketinggalan berita yg soal warwaran itu mbak...tapi aku ga tertarik juga sih ngomentarin gituan...yang penting happy blogging hihi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga ketinggalan, tapi kesampaian ngeliat tkp soalnya pada bikin status nyindir yg bikin kepo sih. haha. Nggak usah dikomentarin, ambil pelajarannya aja biar tetap happy blogging... :D

      Eh, tapi ini kita juga lagi komentar, mbak... hihihi...

      Delete
    2. kan komentarnya di postingan mbak yanet, jadi gak lagi nyinyirin orang mba hehe...

      Delete
  5. dlm bersinggungan dgn org lain, kita memang harus extra hati2 ya....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak Santi.. Ini pelajaran penting buat kita para blogger. Dinyinyirin tuh sakit. Jadi kalau nggak mau dinyinyirin, jangan nyinyir. Ngasih tau dengan sopan aja kadang banyak yg salah tangkap, apalagi model nyinyir. Sayang, info baik pun jadi nggak sampai... :(

      Delete
  6. wkwkwkw...aku sepertinya tau komunitas mana yg dimaksd ;p. Aku jg seminggu ini ga bisa srg2 buka blog dan browsing gara2 ada audit di kantor.. jd ga sengaja, pas bisa buka internet bntr, eh, ada yg heboh ;p Buka2 dong, wuahhh seruuu, pada rame ;p hihihii... pdhl yg dibahas ga ptg bgt mnrtku :D

    Tapi baca postinganmu yg ini aku lgs mikir2 mba, aku prnh nulis nyinyir ga ya.... duh, jgn sampe sih sbnrnya.. ga pgn termasuk org yg nyinyir. kalo aku mah, ga suka baca postingan org di blog, ya udh ga ush dibaca.. ngapain sampe perang komen kan ya... ato bikin komen yg netral.. ah, udhlah mba.. ntr lama2 jd nyinyir ;p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, tst aja ya mbak Fanny. Saya juga sebenarnya nggak tahu, tapi karena pada heboh jadi kepo juga. hihi..

      Saya juga kadang gitu mbak. Kalau nggak suka sama postingan orang saya biasanya nggak akan balik lagi ke situ, kalau suka langsung follow. Tapi kadang kalau tulisannya perlu diluruskan, saya bakal urun komen, tapi nggak akan saya ikutin tuh kalaupun komennya dibalas dengan sengit (ngajak perang maksudnya). Saya malas debat, jadi seperlunya aja, sekadar ngasih tau dengan sopan kalau ada lho yg nggak setuju dgn pendapatnya. Bagaimanapun itu konsekuensi nulis di blog: ditanggapi orang lain baik yg pro maupun yg kontra. Sangat penting bagi sesama blogger untuk saling mengingatkan (bukan bully), supaya tidak besar kepala dan merasa diri selalu benar, tapi untuk balik balas komen balasan yg sengit, bully dan nyinyir, makasih deh... :D

      Delete

Terima kasih atas kunjungannya yaa. Salam kenal!

**Komentar dimoderasi karena banyak spam. Ihik!