10.21.2011

Dua Puluh Satu Oktober #1

Tanggal 21 Oktober mungkin bukan tanggal yang berarti buat kebanyakan orang di muka bumi, tapi buat saya (dan sebagian orang yang lain) tanggal tersebut bisa jadi sangat berarti (minimal selalu penasaran kalau ada yang nyebut sesuatu tentang tanggal tersebut), karena pada tanggal itulah saya lahir di dunia fana yang kita tempatin sekarang.  Sekedar bernostalgia, saya jadi ingat
dulu saat masih kecil, saya dan kakak saya selalu dimasakin makanan kesukaan kami saat berulang tahun.  Biasanya keluarga dan sahabat dekat berkumpul di rumah untuk silaturahmi sambil makan-makan (karena mama biasanya sengaja masak dalam porsi "lebih").  Makanan yang biasa mama masak pas ulang tahun saya tuh, soto ayam laksa.  Kadang-kadang juga masakan lain sih, tapi yang paling saya ingat ya soto ayam itu, bening, segar, enak dan yummi sekalilah! (aduuh, jadi pengen makan soto) >3< :mupeng:
~okey, stop dengan soto ayam, fokus. fokus~

Dulu, rasanya tiap ulang tahun tuh, mengesankan sekali.  Yah, bukan berarti sekarang-sekarang nggak mengesankan, tapi kalau dulu tuh, kesannya gimanaaa gitu.... Boleh dibilang, cukup kekanakan (ya iyalah, masih anak2 ya kekanakan... hehe).  Maksud saya, semua terukur ke materi, gitu... Apa-apa diliat dari berapa kado yang didapat, berapa ucapan selamat yang diterima, berapa banyak tamu yang datang, berapa porsi soto ayam yang abis... (aduh, jadi balik ke soto lagi... :p)
Kalau sekarang, mungkin lebih ke kualitas daripada kuantitas, soalnya udah nyadar kalo ulang-tahun itu berarti tanda berkurangnya umur yang tersisa.  Dan itu "misteri" Illahi, no one knows bout that.  Jadi nggak perlu lagi nanyain, berapa ini dan berapa itu...  Toh kita nggak tau apa tahun depannya kita masih bisa ketemu dengan tanggal lahir kita lagi atau nggak. kan?

Nah, kebetulan tahun ini saya jauh dari rumah (dan alhamdulillah udah berkeluarga), jadi tahun ini tanggal 21 Oktober jadi milestone saya yang cukup berharga.  Usia saya juga udah bukan anak-anak lagi.  Masa remaja juga udah bukan.  Jadi, tidak ada pilihan lain, saya udah semestinya beranjak dewasa.  Memang benar kata pepatah, tua itu pasti, dewasa belum tentu ya...  Tapi amit-amit, saya nggak mau jadi orang tua yang nggak dewasa.

Menurut pandangan saya, dewasa tu nggak bisa dilihat dari pakaian, coz anak kecil kalo didandanin juga bisa keliatan dewasa.  Dewasa itu lebih ke bagaimana kita memandang hidup dan masalah-masalahnya.  Saya sih terus terang, masih suka nggak dewasa.  Ehm, dari tampilan fisik (maksudnya pakaian yah) saya lebih suka pake baju casual, sepatu kets n backpack.  Agak beda dengan pakaian teman-teman sebaya yang udah rapih make up-an, baju dress, high heels dan tas kerja cantik. Bukannya saya nggak suka make-up, dress, high heels dan sebagainya.  Saya suka, dan kadang-kadang nyobain, tapi rasanya saya lebih nyaman dengan pakaian yang saya pakai.  Entahlah.. :)
Saya juga masih sering pecicilan.  Kadang kalo dipikir, ampun deh! :p

Beruntung, saya punya orang tua, saudara, keluarga besar, sahabat, karib kerabat (dan kini, suami) yang selalu mengingatkan untuk bersikap dewasa.  Toh banyak di luar sana, orang-orang dengan pilihan pakaian yang kurang lebih sama dengan saya, bisa tetap dewasa.

Baru beberapa hari lalu saya dapat renungan.  Kita semua harus merasa nyaman dengan diri kita.  Percaya diri baru bisa muncul saat kita bisa nyaman dan menerima apa yang kita miliki saat ini.  Intinya ya, syukur gitu lah.  Klise sebenarnya, tapi buat saya yang ngerasain sendiri, teori ini baru benar-benar berhasil.  Telat? ah, terserahlah.  Saya kan cuma pengen bagi-bagi cerita aja.  Toh ini kan blog pribadi ane, gan... hihihi

Kalo menurut tes kepribadian, saya tuh selalu jatuh di kepribadian melankolis.  Huah! sampe capek sendiri mau tes, soalnya tiap kali ngetes, pasti hasilnya selalu melow... ;p  Mungkin ini sebabnya saya sering terjerumus ke sikap kurang pe-de.  Apa-apa maunya perfect, klo nggak rasanya ngiluuu banget.  Padahal kalo dipikir-pikir, teman-teman lain pasti juga pernah punya perasaan nggak lengkap, kurang sempurna, dll.  tapi pertanyaannya, kenapa mereka tampak nggak terganggu dengan segala kelemahan dan kekurangan mereka?  Padahal saya ini -walaupun nggak cantik- tapi nggak jelek-jelek amat.  Walau nggak kaya, tapi alhamdulillah selalu dikasih rezeki oleh Allah.  Walau nggak terpandang, tapi alhamdulillah aib-aib ditutupin oleh Allah.

Apa yang nggak Allah kasih?  Kayaknya selalu dikasih deh, alhamdulillah, asal usaha bener-bener aja.  Seringnya sih nggak total, makanya nggak dikasih kali ya. hehe
Gitu deh milestone saya tahun ini..  I wish i always remember my words... ^^  Maklum manusia biasa, masih perlu sahabat yang mengingatkan...

#Special THANKS  for my God, Allah.  He knows what i need (rather i love it or not), and He always give it, with no price.
And for my lovely Mom, Dad n Sis.  I love u as i love myself..
For my beloved Husband, muach muach! ^^
And for every friends that congrats me via facebook, short message, or directly... Thanks a lot!  I wish Allah give you back as good as your pray for me...
Thanks, everybody... :]

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungannya yaa. Salam kenal!

**Komentar dimoderasi karena banyak spam. Ihik!