10.28.2020

Overweight (?)

Beberapa waktu belakangan ini, saya merasa lebih berat dari seharusnya. Beberapa kali saya pernah mengungkapkan ini kepada beberapa orang. Kebanyakan responnya, "Nanti setelah melahirkan juga turun lagi kok. Kan bisa diet.

Masalahnya, saat ini bukan badan saya yang saya khawatirkan, melainkan risikonya. Setelah melahirkan, kalau menjaga makan dan rajin olahraga, insyaAllah bb bisa mengikuti sehat. Saya yakin itu. Istilahnya, no pain no gain lah. Selama mau berusaha, insyaAllah bisa. Yang mengganggu pikiran saat ini, kalau sampai overweight, ada beberapa risiko yang "mungkin" mengiringinya bagi bayi maupun ibu. Saya takkan menyebutkannya. Memikirkan persalinan saja membuat saya tegang, ditambah memikirkan masalah ini, tambah tegang, heuheu..

Ah.. Mungkin karena saya masih belum hidup di "saat ini". Terlalu sibuk menyesali masa lalu dan mengkhawatirkan masa depan. Padahal hidup adalah saat ini. Sekali lagi, SAAT INI. Harusnya momen ini dinikmati dan dihayati sebaik mungkin. Senang alhamdulillah, susah pun alhamdulillah karena masih diberikan kewarasan. Toh senang dan susah beriringan, insyaAllah setelah kesulitan ada kemudahan. InsyaAllah..

Hmm. Baiklah. Ada bagusnya juga nulis di sini, hehe. Jadi sekalian merenung. Awalnya sih mau share ringan, siapa tahu ada pembaca yang suka langsung nge-judge bumil yang mengkhawatirkan bb nya naik tinggi itu sebagai wanita yang egois karena mikirin bb nya doang. Yah, mungkin-mungkin saja, karena niat dan motif tiap orang berbeda. Tapi tolong jangan langsung dipukul rata, karena ada juga yang justru lebih mikirin anaknya daripada dirinya sendiri. 

Saya bersyukur juga sih, ada yang komentar seperti yang saya sebutkan di atas. Ini membuka mata, walaupun sempat juga menimbulkan efek nyalahin diri sendiri (karena merasa "ih aku kok egois banget ya"). Tapi ambil hikmahnya, saya yakin seyakin-yakinnya, mereka begitu karena peduli. Sejauh ini belum ada yang menyakitkan hati karena nada dalam komentar tsb cenderung netral. Soalnya beda kan kalau orang yang nge-judge, biasanya nadanya nggak enak bet, shay! Mungkin karena sekarang kalau cerita, saya lebih selektif. Yang toxic parah, ya lewat. Daripada hatiku hancur mengenang dikau, yekan.. hehe

0 comments:

Follow by Email