8.02.2017

Pengalaman Terbang Pontianak - Jogjakarta Bersama Xpress Air

Pertengahan bulan Juli lalu saya dan Kanda menghadiri acara keluarga di Kota Gudeg, Jogjakarta. Berhubung kami baru bisa ke sana tepat sehari sebelum acara, Kanda sengaja memesan tiket pesawat yang tidak transit agar kami tidak terlalu lelah. Iya, kan, transit bikin capek kan, ya. Terutama kalau harus menunggu pesawat berikutnya yang bisa berjam-jam. Alhasil, saya jadi tahu bahwa ada maskapai penerbangan bernama Xpress Air. Kata Kanda, maskapai Xpress Air ini terbang langsung dari Pontianak ke Jogjakarta tanpa transit. Iya, tanpa transit. Jadi tidak terlalu capek di jalan. Serius deh, saya kudet yak. Hi hi. Maklum baru 2 kali ke Jogja, itupun selalu lewat darat, belum pernah langsung dari Pontianak.

Non-sponsored review, please read my disclosure policy for more information

xpress air, pontianak, supadio, jogja, adi sutjipto
Foto satu-satunya tentang maskapai ini, maaf agak narsis, he he
Selfie ini diambil di dalam pesawat sebelum hape saya padam kehabisan daya (batre soak). 

Saya tidak tahu detil jadwal penerbangan Xpress Air dengan pasti. Yang jelas, untuk penerbangan dari Bandara Supadio (Pontianak) menuju Bandara Adi Sutjipto (Jogja), ada 2 pilihan penerbangan yaitu pagi dan siang. Kami memilih penerbangan pagi yaitu yang pukul 6.50 WIB. Karena harus check in paling lambat 45 menit sebelum keberangkatan (berarti itu sekitar pukul 6 lewat 5 menit), maka kami harus turun dari rumah sekitar 1 jam sebelumnya (sekitar jam 5-an) sekadar untuk berjaga-jaga dan agar tidak terlalu terburu-buru.

Namun karena satu dan lain hal, kami baru turun dari rumah sekitar setengah 6 pagi. Untungnya jalanan pagi menuju bandara tidak macet dan kondisi kendaraan pun baik, jadi kami bisa sampai sekitar pukul 6 kurang beberapa menit. Sebenarnya tinggal masuk dan check in ya, tapiii.. ternyata Kanda belum mengunduh file tiket yang dikirimkan via email nya. Lupa, katanya. Sementara sinyal internet smartphone-nya bermasalah sehingga tidak bisa membuka email. Aduduh. Mana Mama, Bapak, dan Kakak yang mengantar semuanya tergantung dengan wifi rumah (jarang mengisi pulsa), Saya agak panik waktu itu. Untunglah Bang Fari, ipar saya, masih punya kuota data yang bisa di-tethering ke Kanda, jadi emailnya pun akhirnya bisa dibuka.

Tapi itu sudah jam 6 lewat beberapa menit. Mepeet hu hu

Setelah berpamitan, kami berdua segera masuk ke antrian penumpang di pintu masuk. Antriannya lumayan, tapi untungnya tidak macet alias tidak ada penumpang yang bermasalah di depan kami dan kami pun bisa melewati bagian pemeriksaan keamanan dengan tanpa kendala. Alhamdulillah. Tapi tetap saja waktunya sempit. Kami agak terburu-buru saat itu, apalagi kami tidak tahu dimana loket check-in nya. Untung saya pergi dengan Kanda yang matanya lebih awas (maksudnya bisa membaca tulisan dari jauh) jadi proses mengidentifikasi lokasi loket pun bisa cepat dilakukan. Kalau sudah begini, baru deh terasa pentingnya pakai kacamata. He he *iya, mata saya minus

Di loket, alhamdulillah lagi, tidak ada masalah berarti. Tapi sepertinya kami penumpang terakhir yang check-in. Tepat ketika kami sampai di ruang tunggu dekat gate yang ditentukan, panggilan kepada penumpang Xpress Air terdengar. Kami tidak sempat duduk menunggu seperti biasanya. Padahal waktu itu saya sedang merasa dipanggil alam --alias pengen buang air kecil. Tapi demi tidak was-was ditinggal pesawat, kami langsung masuk barisan antrian penumpang menuju pesawat terbang.
*Itu salah satu sebab saya tidak ingat mengambil foto pesawat, soalnya tidak fokus. Waktu ingat, batrai smartphone sudah habis, jadi tidak ada fotonya deh.

Berhubung kami dan beberapa penumpang lain duduk di kursi bernomor kecil, kami masuk ke pesawat lewat pintu depan, melewati kelas bisnis. Kursi kelas bisnis berbeda dengan kursi kelas ekonomi, lebih lapang dan kelihatannya lebih empuk. Mengenai tempat duduknya, untuk kelas ekonomi ada 3 kursi di masing-masing barisan sisi kiri dan kanan; sementara untuk kelas bisnis hanya 2 kursi di masing-masing sisi kiri dan kanan. Terbayang kan luasnya kelas bisnis? Selain itu di antara kelas ekonomi dan bisnis juga ada sekat tirai, jadi kentara.

Berhubung panggilan alam yang saya rasakan semakin mendesak dan akan kurang baik bagi kesehatan kalau ditahan lebih lama, saya pun bergerak. Awalnya saya turun dari pesawat dan memberanikan diri untuk menanyakan dimana lokasi kamar kecil terdekat, kepada petugas lapangan. Sebenarnya agak tengsin sih, karena petugas lapangannya kan laki-laki semua, tapi bodo amat lah. Darurat ini. Dengan sopan petugas lapangan menganjurkan saya untuk kembali ke pesawat dan bertanya kepada awak kabin mengenai kamar kecil yang bisa dipakai oleh penumpang. Sebenarnya itu jawaban yang sopan, tapi tetap saja saya malu. Nampak benar gak tak pernah ke wc pesawat, kan.. Ha ha..

Maka saya pun kembali ke pesawat lewat pintu depan dan langsung bertanya kepada salah satu awak kabin yang berdiri di dekat pintu.

Saya tidak tahu apakah saya terlalu sensitif atau bagaimana, tapi saya menangkap kesan tidak suka pada wajah pramugari yang saya tanyai tersebut. Waktu itu ia memang terlihat sedang mengobrol sambil berdiri dengan seorang pria --tidak menggunakan seragam jadi saya rasa itu penumpang kelas bisnis. Entah apakah menurutnya saya telah memotong pembicaraan mereka dengan tidak sopan atau bagaimana, saya kurang tahu. Yang jelas ekspresinya kelihatan tidak suka dan seperti jijik, sangat kentara dengan senyum ramahnya sewaktu awal sebelum saya menanyakan kamar kecil. Terus terang saya merasa aneh. Masak pramugari kalah sopan dengan petugas lapangan. Tapi bodo amat deh. Yang penting hajat saya tersampaikan. Alhamdulillah. Walaupun berbeda dengan toilet biasa, toiletnya bersih. Sip.

Selepas dari kamar kecil saya langsung menuju tempat duduk. Sebenarnya sih mau mengucapkan terima kasih kepada pramugari yang sudah menunjukkan tempatnya, dan itu bentuk sopan santun, kan. Tapi berhubung sikap dan ekspresinya tetap tidak bersahabat, saya urung. Langsung duduk sajalah. Tidak menunggu terlalu lama, sekitar pukul 7 pagi kami pun lepas landas. Tepat waktu.

Seperti biasa, ada simulasi prosedur keselamatan oleh para awak kabin yang kalau saya tidak salah hitung, ada 3 orang. Pramugari semua. Satu yang tadi saya ceritakan --berperawakan kurus tinggi, kelihatannya berumur 30-40 tahun-- sedangkan yang 2 pramugari lainnya masih muda --satu bertubuh ideal sementara yang satunya menurut saya kurang proporsional untuk ukuran pramugari. No offense. Cuma agak aneh saja.

Dua pramugari muda menurut saya cukup ramah dan bersahabat, tapi kurang independen dan kurang percaya diri. Apa-apa nanya ke pramugari satunya (yang saya asumsikan ketua tim awak kabin). Mereka berdua terkesan sering mengumpul di satu titik. Saya berbaik sangka, mungkin mereka masih masa pelatihan. Yang tidak enaknya, yang ketuanya itu. Entah karena saya sentimen oleh kejadian sebelumnya atau bukan, tapi menurut saya sikapnya kurang profesional sebagai pramugari. Pramugari memang harus tegas, tapi bukan berarti pakai wajah "merengut patah sembilan" dan tidak sopan kepada penumpang, kan.

Sampai di sini, silahkan skip ke 2 paragraf selanjutnya untuk membaca lanjutan review. Tapi sebelumnya saya mau menulis barang 2 paragraf yang menceritakan alasan saya berkomentar seperti itu di paragraf  di atas..

Seperti sesaat sebelum lepas landas, ada kejadian agak heboh di kursi penumpang kelas ekonomi, berjeda beberapa kursi di belakang kami, di sisi kanan (kami duduk di sisi kiri). Jadi ceritanya, sepertinya salah satu dari pramugari muda menemukan ada penumpang yang membawa koper berukuran cukup besar. Koper tersebut diletakkan di bagasi kabin yang terletak di atas tempat duduk penumpang. Menurut penumpang yang membawa koper tersebut, itu adalah satu-satunya barang yang dibawanya, tidak berat, dan ia pun sudah mendapat izin membawanya dari loket check-in (yang saya asumsikan beratnya memang tidak melebihi batas berat barang bawaan di kabin, cuma ukurannya besar). Dua pramugari muda kasak-kusuk kebingungan lalu melaporkan kepada pramugari ketua yang dari awal sibuk di kelas bisnis. Ketua pramugari datang dan dengan wajah galak ia mengatakan bahwa koper tersebut harus dipindah ke bagasi pesawat, apapun isinya, karena menurutnya ukurannya terlalu besar. Dan begitulah, walaupun tidak setuju bawaannya dipindah, akhirnya koper milik penumpang tersebut dengan segera dipindah ke bagasi pesawat. Saya kurang tahu bagaimana kelanjutannya, terutama mengenai klaim bagasi di bandara tujuan, mengingat koper tersebut tidak ada label/stiker bagasi seperti koper yang lain. Yang pasti kejadian yang kami lihat seperti itu. Lucunya, tak lama kemudian, ketua pramugari tersebut sibuk memindahkan koper dari kelas bisnis --yang ukurannya tidak kalah besar dengan koper sebelumnya-- ke bagasi kabin di atas penumpang yang kopernya dipindah dengan paksa tadi. xD  Ancore

Karena kami melihat kejadian itu bersama-sama, saya pun curhat sedikit ke Kanda tentang pramugari yang dominan tersebut, mengenai sikapnya kepada saya saat menanyakan toilet. Kanda bilang, mungkin karena toilet yang (mau tak mau) ditunjukkannya itu khusus untuk penumpang kelas bisnis, sementara saya dari kelas ekonomi. Mungkin ada pembedaan, entahlah. Pokoknya setelah itu kami berbaik sangka, mungkin si ibuk pramugari sedang PMS. He he

Lanjut mengenai pelayanan saat penerbangan..

Walaupun tidak menyediakan permen sebelum lepas landas (kebanyakan maskapai sekarang umumnya begini sih), ternyata maskapai ini menyediakan kotak makan berisi 1 roti dan 1 gelas air mineral (240 ml). Alhamdulillah. Lumayan untuk mengganjal lapar karena kami tidak sempat sarapan dan juga lupa bawa bekal.

Karena perkiraan lama penerbangan antara Pontianak-Jogja sekitar 1 jam 40 menit sementara tidak ada hiburan lain, saya membaca majalah pesawat yang disediakan dan sempat mengamati sekitar. Saat terbang, tidak ada adegan penjualan barang-barang di udara. Berhubung saya dan Kanda kebagian duduk di kursi terdepan kelas ekonomi, saya sempat bingung mencari meja lipat untuk menyimpan kotak makanan tapi akhirnya ketemu sih. Meja lipat yang biasanya ada di kursi di depan kita, rupanya ada di tempat dudukan lengan. Tinggal angkat, sudah ada meja lipat. Selesainya tinggal masukkan lagi. *ndeso mode on, wkwk

Saat penerbangan kami hari itu, cuaca kurang cerah. Beberapa kali penumpang diminta kembali ke tempat duduk dan memakai sabuk pengaman karena pesawat akan melewati gumpalan awan tebal dan diperkirakan bisa mengakibatkan turbulensi dan goyangan yang cukup terasa di dalam pesawat. Oh ya, saya juga memerhatikan bunyi mesin pesawat. Agak lebih berisik, menurut saya. Ini mungkin karena ukuran pesawat tersebut lebih besar daripada pesawat Pontianak-Jakarta (maskapai lain) yang pernah saya tumpangi beberapa kali. Tapi aman kok, insyaallah.

Buktinya, kami bisa sampai di Jogja dengan lancar. Alhamdulillah. Hanya saja, perkiraan awal hanya 1 jam 40 menit ternyata meleset dan memakan waktu sampai 2 jam. Kami sampai pukul 9 pagi. Memang sih waktu di akhir-akhir itu terasa kalau pesawat berputar-putar. Saat sudah mendarat pun harus menunggu kurang lebih 10 menit. Kata pilot, hal tersebut karena parkir pesawat penuh. Maklum, Jogja kan salah satu kota wisata terpopuler di Indonesia, jadi tidak heran kalau penerbangan dari dan menuju kota ini ramai. Untungnya kami dalam perjalanan santai dan tidak ada jadwal yang dikejar, jadi tak masalah buat kami. Tapi nanya ke orang yang ada jadwal ketat, lumayan tuh.

Yang unik, sesaat setelah pendaratan, ada suara rekaman ucapan selamat datang dan salam perpisahan kepada penumpang dalam bahasa jawa (boso jowo). Walaupun saya tidak mengerti bahasa jawa sama sekali, ini membawa nuansa khas jogja yang lekat dengan boso jowo-nya.. Nice. Saya penasaran, kalau penerbangan ke tempat lain begitu juga tidak ya? maksudnya pakai bahasa daerah setempat gitu.. Kalau ya, keren. :)

Secara keseluruhan, saya merasa cukup puas dengan pelayanan maskapai ini. Walaupun harga tiketnya lebih mahal beberapa ratus ribu daripada maskapai lain dengan tujuan sama (Jogja). Namun mengingat maskapai ini menyediakan layanan penerbangan tanpa transit, menurut saya ini sepadan.

Oke deh. Sampai di sini dulu cerita dari saya. Semoga ada manfaatnya, dan maaf tidak menyertakan foto-foto pendukung yang memadai seperti biasanya. Mohon maklum ya teman-teman.. Bye!
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

4 comments:

  1. Mantaaaap bu, klo pengalaman saya dulu naek express air ke Bandung, perjalanan lumayan lancar, saya senang terutama karena bawa ibu saya yang baru pertama naek pesawat. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wihihii.. Saye malah baru tau tentang maskapai ini, Ry.. ^^

      Delete
  2. wah pengalaman yang berkesan ya mak. terutama dengan pramugarinya hehe...

    lama ga main ke sini sayanya. apa kabar mak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, iya mba xD

      Alhamdulillah, kabar baik, mba diah.. Sama, saya juga lama nggak ngeblog, hhihi.. ^^

      Delete

Terima kasih atas kunjungannya yaa. Salam kenal!

**Komentar dimoderasi karena banyak spam. Ihik!