4.10.2017

Cerry

Jum'at sore kemarin, ada suara mengeong-ngeong di samping teras di rumah orang tua kami. Suaranya melengking, mirip suara anak kucing kecil. Pas dicek Bapak, ternyata memang benar ada anak kucing di sana. Kecil mungil, masih bayi. Mungkin terjatuh waktu induknya pindahan.

Foto terjelas yang tersisa di hp.
Sebenarnya saya foto agak banyak tapi di kabar berita ig, lupa disimpan :(

Beberapa waktu lalu sebenarnya Kanda pernah memberi tahu saya, kalau ketemu bayi binatang yang masih kecil --termasuk kucing-- sebaiknya kita tidak terlalu dini memindahkan lokasinya. Ini agar bayi tersebut lebih mudah ditemukan oleh induknya (kecuali dalam kondisi darurat seperti Berry waktu itu). Tapi karena saya sedang meladeni tamu saat itu, saya terlambat mengatakannya kepada Bapak. Bayi kucing tersebut sudah dipindah Bapak ke dalam kardus. Bawaan kasihan kali ya, melihat bayi kucing kecil yang ringkih mengeong iba seperti itu. Kalau saya tidak diberi tahu Kanda, mungkin saya juga akan spontan melakukan hal yang sama. Keluarga saya memang belum pernah memelihara kucing dewasa jadi sering lupa dengan kebiasaan induk kucing yang suka pindahan.

Udara kota Khatulistiwa belakangan ini panas, tapi tetap saja angin malam akan terasa dingin jika kita berada di luar rumah. Karena induknya tak kunjung kelihatan, saya membawa kucing kecil yang ditempatkan di dalam kardus tersebut ke dalam kamar. Saya pasangkan lampu pijar supaya tubuhnya tetap hangat. Saya mengabarkan ini ke Kanda yang sedang di luar kota, Kanda bilang letakkan lagi di luar, jadi saya letakkan lagi di luar. Beberapa waktu kemudian dibawa masuk lagi ke dalam karena khawatir kalau-kalau si bayi kucing malah diganggu tikus tanah daripada diambil induknya. Mana dingin pula kan. Galau lah, intinya.

Terus terang, saya jadi ingat Berry. Saya tidak mau melakukan kesalahan yang sama: tidak mencarikan induk angkat terlebih dahulu sebelum merawatnya. Jadi saya berusaha menghubungi Rion, tetangga blok sebelah yang saya tahu memelihara banyak kucing. Saya menanyakan apakah ada kucingnya yang sedang menyusu. Katanya ada dan boleh dicoba malam itu. Siapa tahu kucingnya mau menyusui bayi kucing yang saya temukan. Tapi karena satu dan lain hal, kami baru bisa ketemuan besok pagi, jadi saya harus menjaga si bayi kucing sampai besok pagi, dan ini bikin susah tidur.

Hampir sepanjang malam saya terjaga. Saya mencoba memberi minum kucing kecil menggunakan spuit kecil agar dia tidak dehidrasi, tapi susah sekali. Terlebih karena saya diingatkan untuk tidak terlalu sering memegangnya supaya aroma tangan saya tidak pindah --setidaknya sampai besok pagi, waktu induk kucing tetangga membauinya. Bisa gawat kalau sampai induk kucingnya tidak mau mengangkatnya anak susuan gara-gara aroma tangan saya. Saya tidak punya kepercayaan diri untuk memelihara anak kucing sekecil itu. :' *teringat Berry

Sabtu pagi, saya segera ke tempat tetangga untuk mengantarkan bayi kucing kecil yang sudah kelihatan lemah itu. Suaranya pelan sekali. Saya jadi khawatir. Pas dipertemukan dengan 2 induk kucing peliharaannya Rion yang sedang menyusui --Calysta dan Rooney--, keduanya menolak. Haduuh, patah hati saya. Karena merasa kasihan, Rion dan ibunya memberi bayi kucing dengan air dan vitamin lewat spuit. Suaranya mulai kedengaran. Berhubung jelas-jelas sudah ditolak calon induk angkat, bayi kucing kecil itu segera saya bawa pulang untuk diberi susu formula milik Berry dulu. Kasihan soalnya, kehausan.

Sesampainya di rumah, bayi kucing ini resmi saya beri nama Cerry. Ini karena Cerry mengingatkan saya kepada Berry. Kondisi Cerry saat ditemukan mirip umur Berry waktu menghembuskan nafas terakhirnya: matanya sudah membuka, telinganya masih kuncup. Kalau Berry berwarna hitam kelabu polos, Cerry berwarna belang hitam dengan daun telinga hitam dan bagian dalam telinga berambut putih tebal. Rambut Cerry lebih tebal dari Berry. Tapi urusan suara, Berry lebih nyaring dari Cerry.

Walaupun tidak percaya diri, saya berusaha menjaga bayi kucing kecil tersebut dengan baik. Saya membuatkannya susu, menyuapi susu dengan spuit, membersihkan kotorannya, membersihkan kain alasnya. Tak lupa, kardusnya dipasangi lampu pijar supaya udara tetap hangat. Hanya saja, kardusnya saya letakkan di teras, bukan di dalam kamar. Ini dengan pertimbangan sirkulasi udara yang lebih baik. Setelah agak gelap baru dipindah ke kamar saya lagi.


Rencananya sih begitu. Tapi nyatanya, ketika sore, tidak disangka, Cerry hilang! :"(

Sepertinya tidak ada tanda kekerasan, tapi juga tidak ada saksi mata yang bisa mengkonfirmasi ini. Kejadiannya terjadi pas saya sedang masuk sebentar ke dalam rumah.

Saya segera menghubungi Kanda untuk mengabari hal ini. Kanda bilang, mungkin induknya yang mengambil kembali. Ah, rasanya legaaa sekali. Senang walaupun saya jatuh hati pada Cerry. Saya pun menghubungi Rion untuk mengabari hal yang sama. Tapi Rion bilang, bisa juga kucing dewasa lainnya (bukan induk Cerry) yang mengambilnya. Itu artinya, ada kemungkinan Cerry dicelakai oleh kucing lain. Kucing kadang memang begitu, katanya. Huhu, rasanya pilu. Tapi saya meyakinkan diri di dalam hati, saya doakan semoga Cerry benar-benar ketemu induknya.
** Semoga suara miaw kecil yang saya dengar di dek setelah Cerry menghilang adalah benar suara Cerry.

Begitulah sedikit cerita kenangan saya tentang Cerry, bayi kucing cantik yang sempat singgah di hidup saya. Walaupun cuma sebentar, tapi saya senang karena sempat merawatnya.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungannya yaa. Salam kenal!

**Komentar dimoderasi karena banyak spam. Ihik!