3.18.2016

Latihan Panahan Keempat

Tidak terasa kemarin adalah pekan keempat saya berlatih olahraga panahan. Iyey!



Latihan kemarin saya berangkat sendiri pakai motor. Telat sekitar 5 menitan, tapi latihan belum juga dimulai.

Lapangan lebih ramai daripada Kamis sebelumnya. Banyak atlet yang datang. Di antara semua, ada satu pemanah cilik yang menarik perhatian saya. Usianya sekitar 6 tahun (kelas 1 SD), laki-laki. Mungkin ia peserta latihan yang paling kecil kemarin. Keren.

Setelah meletakkan tas, saya langsung pemanasan ringan, sendirian saja soalnya yang lain sepertinya sudah. Tak lama, kami -para peserta latihan pemula- dipinjamkan 5, eh, 6 buah busur untuk latihan (1 busur dipegang erat-erat oleh kelompok ekslusif yang saya ceritakan pekan lalu). Walaupun busurnya banyak, abangnya lupa meminjamkan anak panah. Jadi kami berlatih memperbaiki postur dan menarik tali busur dulu.

Kami latihan tanpa anak panah lumayan lama. Setelah diminta, abang pengurus baru ingat untuk meminjamkan kami anak panah. Biasanya kalau koordinator latihan yang menerima anak panahnya, mereka akan membagi anak panah sama banyak untuk 2 kelompok antrian busur. Kalaupun selisih paling satu buah (misalnya kalau dapat 11 anak panah, satu kelompok memegang 5 dan yang lain 6 buah). Tapi berhubung yang menerima 6 anak panah pertama adalah kelompok ekslusif, jadi ya gitu deh. Pekan ini kami dipinjamkan sebanyak 10 anak panah. Saya tidak mempermasalahkan jumlah sih, cuma aneh saja. Sama-sama pemula kenapa berjarak seperti itu? Auk ah glap... Hihihi..

Lalu mulailah kami berlatih menembak. Saya sekelompok dengan Milda, Nana dan Nani (kembar identik, SMA kelas 11), dan seorang gadis satu lagi, saya lupa nanya namanya. Kelompok sebelah, tentunya kawanan yang tadi. Kami berbagi satu papan target. Peserta lain yang datang tidak ikut berlatih melainkan duduk di belakang. Saya kurang tahu kenapa, mungkin lagi capek.

Nah, pas giliran memanah, karena selisih anak panahnya 2, jadi kami juga menunggu lebih lama. Soalnya kan kalau ada yang menembak, kita tidak boleh ke papan target. Nanti bisa ketembak. Yang bikin tidak asyik, kelompok ekslusif heboh sendiri, bukannya latihan nembak malah bersenda-gurau. Ya bukannya nggak boleh bergurau, sih, cuma kan jadi menghambat yang lain. Bukan hanya menghambat kelompok kami, tapi juga adik-adik yang berlatih di samping kami karena mereka juga ikut menunggu selesai baru mengambil anak panah yang menancap di papan sasaran tembak. Si adek kecil kelas 1 SD malah sempat saya lihat komat-kamit karena mengomel melihat kelakuan mereka. Hihihi, lucu sekali melihatnya. Imut, dan itu cukup menghibur. :D

Waktu giliran saya menembak, 3 anak panah saya memantul (busa papan targetnya sudah lepas-lepas), hanya satu yang berhasil menancap. Hihi. Kasian amat yak. Tapi lumayan sih, daripada harus nyari ke belakang. Yang bikin saya agak kesal, pas ngambil anak panah, saya dituduh mengambil anak panah kelompok sebelah. Mana muka yang nuduh nggak enak dilihat lagi. Kami sempat adu argumen, dan ternyata terbukti memang yang menuduh yang salah. Pun saya ingat betul ke mana anak panah saya tertancap, makanya saya yakin. Dan benar lah. Rupanya ada satu anak panah mereka yang terlepas ke belakang papan target. Nah lo.. :3

Pelajarannya, kalau nanya baik-baik, jangan nyolot... ^^

Latihan berlanjut, tapi karena suasana terlalu santai seperti itu, dan hari pun sudah sore, dan sepertinya saya tidak akan sempat dapat giliran menembak untuk kedua kalinya (sok banyak pertimbangan, :p ), Katnett Everdeel memutuskan untuk pulang saja. ~Eeh.. xD

Sebelum pulang, saya sempat ngobrol dengan teman baru yang saya perkirakan sering datang latihan di luar hari Kamis. Soalnya posturnya sudah mantap. Namanya Fifi dan Eka. Menurut mereka, mereka biasanya latihan di hari Selasa, Kamis, dan Jumat. Mereka mengajak saya latihan bersama besok (maksudnya hari ini). Saya berminat, tapi sayangnya hari ini berhalangan hadir. Mudah-mudahan pekan depan tidak ada halangan, aamiin. Kenalan baru satu lagi namanya Indah, temannya Fifi dan Eka, tapi saya baru lihat, sepertinya peserta baru. Setelah itu saya pamit pulang. Pas ke parkir motor, saya sempat disapa mamang bakso yang menawarkan dagangannya. Hihihi. Saya diet maaang.. *sok diet xD

Demikian lah cerita nggak jelas hari ini. Kebanyakan curcolnya, hhihi. Mudah-mudahan di tulisan latihan memanah nanti-nanti bisa berbagi materi panahan yang lebih bermanfaat. Bye!
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

3 comments:

  1. Waw.. keren olahraganya, belajar panahan. Saya mah cuma bisa lari, Mbak. :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lari juga kok keren, mbak... :D

      Malah menurut saya, semua olahraga itu punya kekerenan-nya sendiri2.. Yang penting dilakuin aja supaya tetap bugar ^_*

      Delete
  2. Panahan dimana mbak? Sayangnya aktivitas panahan ini masih jarang, masih jauh buat dijangkau.

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungannya yaa. Salam kenal!

**Komentar dimoderasi karena banyak spam. Ihik!