8.11.2015

Sup Daging Bestari

Hari itu hari keenam lebaran. Kami sekeluarga sedang dalam perjalanan menuju Sambas. Di tengah perjalanan, perut kriuk~kriuk tanda minta diisi. Kami memang sengaja tidak makan kenyang saat sarapan karena rencananya akan singgah makan di kantin yang terletak di pinggir sungai, dekat Pelabuhan Kuala, Mempawah. Eh tapii, kantinnya masih tutup. Mungkin pemiliknya masih berlebaran. Karena itu kami pun banting stir ke tempat makan lain. Pilihan jatuh pada Kantin Bestari yang terletak dekat dengan Keraton Bestari.


Saya pernah satu kali ke kantin ini. Dulu, entah tahun berapa, saya pernah diajak ke kantin ini bersama keluarga besar oleh kakak sepupu. Kabarnya mie tiau di kantin tersebut enak, jadi dulu saya memesan mie tiau goreng. Tapi berhubung mie tiau-nya (waktu itu) ternyata berisi jeroan dalam jumlah banyak sedangkan saya tidak suka jeroan, jadi saya tidak berminat memesan mie tiau lagi di kantin ini. Hehe..

Awalnya saya ingin memesan bakso di kesempatan kedua ini, tapi urung karena tergoda dengan Kanda yang berkata kalau sup dagingnya enak, jadi saya ikut-ikutan memeesan sup daging juga. Pun saat itu saya sedang perlu makanan berkuah hangat untuk mengurangi rasa mual akibat hampir mabuk perjalanan. Baik bakso maupun sup toh sama-sama makanan berkuah hangat, jadi tak ada salahnya.


Inilah pesanan saya, seporsi sup daging nyam~nyam dengan nasi putih. Jujur ya, tampilannya kurang menarik dan terlalu minimalis. Tidak ada bawang goreng di atas nasi, atau tumpukan kecil daun sop dan daun bawang di mangkuk sop. Untung kuahnya memenuhi ekspektasi saya, enak dan menghibur lidah. Makan nasi putih biasa pun jadi berselera. Hanya saja dagingnya kurang empuk dan ternyata dicampur dengan sedikit jeroan. Huhu. Sekali lagi, karena saya tidak suka jeroan, ini cukup mengganggu.

Sebenarnya tergantung selera sih, yaa. Kebetulan karena kakak saya suka jeroan, ia justru senang waktu saya kasih jatah jeroan ekstra dari sup saya. Dulu waktu saya makan mie tiau di kantin ini juga begitu. Kakak malah senang saya hibahi jeroan sedemikian banyak. :p Intinya, kantin ini bisa lah jadi pilihan buat pencinta makanan berjeroan seperti kakak saya.

Dari sekian banyak kesan yang saya dapati, kantin ini adalah pelayanan yang jauh dari kata memuaskan. Rasa makanan memang enak, tapi pelayanannya, aduh, kacau balau. Saya dan keluarga cukup maklum sih, karena waktu itu keadaannya ramai sekali. Tapi kalau dipikir lagi, pengunjung yang ramai mengindikasikan kantin ini cukup terkenal. Apalagi sudah ada sejak lama. Harusnya kan pelayanannya juga lebih matang. Sayangnya tidak seperti itu.

Sejak awal tiba dan mencari tempat duduk, saya sudah punya firasat kurang baik. Pertama, tidak ada nomor meja. Dengan sekian banyak meja dan pengunjung, cara seperti itu cukup mengkhawatirkan. Yang kedua, beberapa kali pelayan (yang berbeda) menanyakan apakah yang dibawanya adalah pesanan kami. Kalau mau ambil saja, seperti itu. Tapi karena kami merasa belum memesan apapun dan itu berarti makanan yang siap santap itu pesanan orang lain, jadi kami tidak mengambil tawaran tersebut meskipun perut sebenarnya sudah lapar.

Dan benarlah. Setelah menulis pesanan di secarik kertas yang diberikan, kami menunggu dan menunggu. Setelah lamaa menunggu, akhirnya pesanan datang juga. Itupun dengan cara ditagih-tagih. Bete deh. Mana perut lapar. Apalagi saya perhatikan, orang-orang yang datang belakangan dari kami (tapi pesannya teriak-teriak) sudah dapat lebih dulu, dilayani lebih dulu, sedangkan menunya sama dengan kami. Kan aneh. Ternyata setelah diamati, kami perkirakan kertas pesanan yang diberikan sepertinya memang tidak berguna sama sekali. Dan sepertinya itu tidak hanya terjadi pada kami melainkan juga pada pengunjung selain kami. Miris. Untuk nama besar dan ternama, serta makanannya yang lezat, pelayanan yang kurang profesional sedikit banyak mungkin bisa mengecewakan pelanggan cerewet seperti saya. Hehe.

Memang sih saya bukan pelanggan tetap, tapi saya harap ke depannya kantin ini bisa membenahi pelayanannya lebih baik lagi supaya pengunjung tidak kapok. Kan saya belum kesampaian mencoba baksonya! :D


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

3 comments:

  1. Sekarang postingnya makanan melulu nih.. rajin wiskul ya? Hehe

    Urusan perut memang harus didukung dengan pelayanan ya Mbak^^

    ReplyDelete
  2. Kayaknya, kao di Indonesia, kalo makin rame, banyak yang pelayanannya seadanya :)
    \Untung enak ya Mak jadi mayanlah ...

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungannya yaa. Salam kenal!

**Komentar dimoderasi karena banyak spam. Ihik!