8.13.2015

Putu Buluh

Sore ini kami sekeluarga sibuk membolak-balik album-album foto berisi foto-foto lama. Gara-gara kemarin saya iseng mengirimi Kakak beberapa foto masa kecilnya yang lucu via bbm dan pamer beberapa foto kecil saya sendiri, Kakak jadi terilhami untuk meregenerasi foto lama yang negatif atau klisenya entah ada di mana. Kami melihat foto di teras karena penerangannya lebih alami. Sip lah. ^^




Nah, pas asyik ketawa-ketiwi di teras itulah, dari jauh terdengar suara sempiong yang mirip bunyi siulan panjang ceret air yang isinya sedang mendidih. Ini adalah ciri khas penjual putu buloh/putu buluh alias putu bambu. Karena suata jeritan sempiong yang unik itu juga lah, putu buluh juga dikenal dengan sebutan kueh sempiong di kota saya, Pontianak. Kurang tahu kalau di tempat lain.

Kue tradisional ini sepupuan dengan kelepon atau klepon pancit, dan saudaraan dengan putu piring atau putu mangkok: sama-sama ada isi gula merah di dalamnya dan kelapa gurih di luarnya. Bedanya, kalau kelepon terbuat dari tepung beras ketan yang direbus, sedangkan kue putu (baik putu piring maupun putu buluh) terbuat dari tepung beras yang diuapi sampai matang, alias dikukus. Kelepon berbentuk bulat sedangkan putu sesuai bentuk cetakannya. Putu buluh berbentuk tabung karena dicetak di ruas bambu atau buluh.

Oh ya, waktu di Bogor, kami sempat kangen sekali mencicip kue manis gurih ini. Kebetulan ada mamang-mamang penjual putu buluh. Entah apakah buluh kecil seukuran putu buluh susah ditemukan di sana atau bagaimana, tapi saya kecewa karena beberapa kali beli putu buluh, ternyata putunya dicetak di pipa paralon. Duh.. Saya tidak menyamaratakan semua penjual putu buluh atas kelakuan penjual putu paralon sih, karena kami hanya beli beberapa kali, jadi itu belum tentu merepresentasikan kan. Saya hanya prihatin karena paralon kan plastik bukan untuk makanan, tidak baik untuk kesehatan.

Eh, Saya tiba-tiba teringat dengan kebiasaan mamang putu buloh. Kalau di rumah orang tua saya, biasanya mamang lewat tiap petang, menjelang maghrib seperti kemarin. Rasa-rasanya tidak pernah lewat di pagi atau siang hari, tak pernah juga lepas isya. Memang sih ini hanya di kompleks rumah kami saja jadwalnya seperti itu, tapi tetap saja berkesan. Soalnya dari kecil sih. Kata orang  kenangan masa kecil memang mengesankan. Ya kan? ;)


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

1 comment:

Terima kasih atas kunjungannya yaa. Salam kenal!

**Komentar dimoderasi karena banyak spam. Ihik!