3.26.2020

Nikmat yang Tercabut

Kamis, 26 Maret 2020.
Hari ke-11 kami mengarantina diri, sekaligus hari pertama bulan Sha'ban 1441 H.

Sha'ban kali ini terasa berbeda. Baru tadi siang kami mendapat edaran resmi dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi tentang Penyelenggaraan Ibadah di Masjid Selama Situasi Darurat COVID-19, sore ini masjid-masjid di sekitar rumah mulai mengumumkan keputusan MUI untuk menunaikan sholat di rumah kepada masyarakat dengan pengeras suara.


Sejak karantina mandiri, suami terpaksa tidak sholat di masjid dulu. Awalnya ia merasa berat hati dan ragu karena terbiasa sholat wajib berjama'ah di masjid, tapi mengingat betapa cepat dan mudahnya virus tersebut menyebar, saya menguatkannya. Yang penting niatnya diluruskan dan tetap sholat di awal waktu dan tidak lalai, insyaAllah akan dianggap seperti sholat berjama'ah seperti biasanya. Saya pernah baca tentang ini. Entah di hari ke berapa, dapat kiriman dari Mama tentang ceramah ustadz yang intinya juga seperti itu. Jadi insyaAllah benar. Bismillah..

Hari berganti hari. Pasca kemarin kota kami dinyatakan mengalami kejadian luar biasa (KLB), akhirnya himbauan resmi dari MUI provinsi untuk tidak sholat berjama'ah untuk sementara waktu, keluar. Ada kelegaan sekaligus juga kesedihan mendalam. Lega karena dengan begini potensi penularan COVID-19 mungkin dapat ditekan. Saya benar-benar berharap semua orang sehat wal'afiat. Saya berdoa orang-orang baik berumur panjang agar dunia ini lebih cerah dan bahagia. Di sisi lain, rasanya sedih. Sediiiih sekali, sampai-sampai sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata. Mungkin ini sedih karena kehilangan. Mungkin juga karena takut tidak bisa lagi mendengar adzan lagi. Naudzubilllah.. :'

Suara adzan isya berkumandang di masjid dekat rumah. Malam ini adzan terasa lebih merdu dari biasanya, lebih khusyuk dari biasanya. Lebih menyayat. Air mata pun tak dapat dibendung, mengalir begitu saja. Bagaimana mungkin makhluk sekecil virus memporakporandakan dunia?

Allah Mahabesar.. Allah Mahabesar

Makhluk kecil itu mungkin ditakdirkan untuk mengingatkan manusia agar selalu bersabar dan bersyukur. Tidak hanya bersyukur atas nikmat dan hal-hal besar tapi terutama atas nikmat-nikmat yang terkesan remeh namun sangat berharga, hal-hal yang selama ini begitu gampang didapatkan sampai-sampai lupa disyukuri. 

Begitulah. ketika kenikmatan itu Allah cabut, kita pun baru tersadar dan menangisinya.. :