2.25.2015

Jalan-Jalan Ke Istiqlal dan Monas (2)

Setelah keluar dari Masjid Istiqlal, kami jalan menuju arah yang kami yakini mengarah ke Monas. Menyeberang 2 kali. Satu kali melalui zebra cross yang lampu jalannya bisa kita tekan agar lampu merah menyala (menghentikan kendaraan yang lewat), dan satu kalinya lagi melalui jembatan penyeberangan yang tinggi.

Monumen Nasional (Monas)

Oh ya, waktu menyeberang dengan bantuan lampu merah, hati-hati ya, teman. Soalnya pas saya dan keluarga saya menyeberang, ada kendaraan yang kencang sekali hampir menabrak kami, padahal kendaraan yang lain berhenti memberi jalan. Kayaknya sih si supir itu tidak melihat lampu merah, jadi dia mengklakson dan meneriaki kami, terus kami tunjuk lampu merah, si supir langsung menjalankan kendaraannya pura-pura tidak melihat kami. Astagfirullah.. Untung saja Allah masih melindungi kami. Buat kendaraan yang berhenti memberi jalan, makasih yaa. Buat yang malah mengebut dan tidak mau memberi jalan kepada pejalan kaki, yah, mudah-mudahan segera sadar. Kalau tidak sadar, semoga mereka sendiri yang kena batunya dan tidak sampai mencelakai pengguna jalan yang lain. Aamiin. Ngeri. Jadi ingat kasus Afriani deh. Naudzubillah.

Balik ke cerita jalan-jalannya... Hehe..

di jembatan penyeberangan
menyeberang lewat jembatan penyeberangan

Setelah menyeberang dan salah masuk gerbang masuk, akhirnya kami sampai di gerbang masuk yang bisa dimasuki pejalan kaki. Alhamdulillah. Tapi sebelumnya, makan dulu!

Di dekat gerbang masuk pejalan kaki ini, banyak penjual makanan dan minuman serta tukang delman. Ada beberapa spot yang baunya, heuheu, bikin selera makan hilang. Awalnya kami kira bau amoniak dari orang yang pipis sembarangan, tapi kalau dilihat lagi sih, sepertinya dari bau kuda yang menarik delman. Baunya bung, amboi sangat laa.. x_x

Setelah mengintari deretan warung makan, kami berhenti di salah satu warung makan yang menyediakan menu soto dan mie goreng. Pas Bapak bertanya menjual soto apa (kan soto ada banyak macamnya tuh), si penjual menjawab "soto ayam dan soto daging, Pak". Lalu Bapak nanya lagi, "maksud saya, soto asli mana?". Si penjual bisik-bisik dengan temannya lalu menjawab, "Soto Betawi, Pak". Kami berempat hanya senyum sambil pandang-pandangan. Soalnya lucu sih, si penjual logatnya jauuuuh dari Betawi tapi ngakunya jual Soto Betawi. Buat yang pernah ke Monas, pasti tahu yang saya maksud. Hehe

Setelah pikir-pikir, Bapak dan Kanda pesan soto sedangkan saya dan Mama' pesan mie goreng. Sotonya seharga 20.000 sedangkan mie goreng seharga 15.000. Eh, tapi soto betawi-nya enak lho. Mak nyus. Rasa sotonya nggak malu-maluin nama Betawi. Cuma mie gorengnya, kebanyakan garam. Demi mengurangi rasa garam yang kuat, Mama' menambahkan kecap yang banyak di mie-nya sedangkan saya (yang tidak suka kecap), menambahkan jeruk dan cabai yang tersedia di depan saya sebanyak-banyaknya ke dalam mie saya. Untung kuah soto masih ada sedikit di mangkuk Kanda, jadi kami berdua bisa menghibur lidah dengan kenikmatan kuah soto betawi yang jelas tidak dijual oleh orang betawi tersebut...

Cabe itu pedas, garam itu asin, kecap itu manis, Jendral!
Cabe itu pedas, garam itu asin, kecap itu manis, Jendral!

Setelah membayar makanan, kami masuk ke kawasan Monas lewat pintu masuk. Tidak ada biaya masuk alias gratis. Sepanjang jalan masuk banyak sekali pedagang menggelar barang dagangannya. Ada juga jasa peminjaman skuter mini untuk keliling Monas, juga manusia patung yang bisa dijadikan teman berfoto.

Kami melangkah terus mendekati Monas, tapi tidak ada jalan masuk. Waduh, lewat mana nih. Ternyata jalan masuknya kami lewati, jadi balik lagi. Tidak terlalu jauh sih. Sayangnya karena kesiangan, tiket naik sampai puncak Monas habis. Rupanya pakai kuota harian. Baru tahu. Jadi pengunjung hanya bisa sampai Museum dan Cawan Monas saja..

Oh ya, FYI, harga tiket ke Puncak untuk anak-anak atau pelajar sebesar Rp 4.000/orang, untuk mahasiswa sebesar Rp 8.000/orang, dan untuk dewasa atau umum sebesar Rp 15.000/orang. Sedangkan harga tiket masuk ke Museum dan Cawan Monas relatif murah yaitu Rp 2.000/orang untuk anak-anak atau pelajar, Rp 3.000/orang untuk mahasiswa, dan Rp 5.000/orang untuk dewasa atau umum.

Kecewa? Ah, nggak lah. Namanya juga rejeki. Kami malah senang bisa lihat-lihat diorama tentang sejarah nasional RI di Museum Sejarah Nasional.

Diorama Sejarah Indonesia

Diorama Sejarah Indonesia

Museum Sejarah Nasional

Lalu kami ke Cawan Monas, ditiup angin sepoi-sepoi. Aduduh, serasa dewi angin-angin... :D haha

Mama' keren

Difoto dan ditiup angin

Setelah cukup beristirahat, duduk-duduk nge-gembel sambil makan cemilan (Mama' bahkan tidur-tiduran), kami memutuskan untuk pulang. Eh, pas keluar dari pintu masuk yang tadi, tiba-tiba perut saya mules. Mungkin karena kebanyakan makan cabe sebelumnya, heuheu. Syukuuuur di dekat tangga naik ada toilet yang bersih dan gratisan. Sepi pula. Puas lah rasa hati ini. Alhamdulillah.. :D

Kembali ke Stasiun Juanda dengan berjalan kaki. Lumayan, tapi tidak sejauh waktu pergi tadi. Kami bahkan hanya menyeberang jalan satu kali. Di Stasiun ini ada eskalator dan tangga, jadi buat yang kelelahan jalan, terutama orang tua seperti Mama' dan Bapak, bisa pakai eskalator. Oh ya, di stasiun Juanda masih banyak ruko kosong. Buat yang punya usaha, mungkin bisa buka di sini.. Ih, kok jadi promosi yak. :D

Naa, di Stasiun Juanda, kami baru naik kereta kedua arah Bogor, soalnya kereta pertama penuh sumpek. Widih, mau nyelip di mana kan.. Oh ya, walaupun Bogor menjadi stasiun terakhir, kami tetap satu gerbong, yaitu di gerbong umum. Soalnya pikir-pikir lagi, kalau naik dari stasiun pertengahan (bukan stasiun awal) biasanya malah gerbong wanita (yang hanya 2) yang lebih ramai. Plus, di gerbong wanita ini kemungkinan kursi prioritas sudah penuh. Memikirkan Mama' yang kemungkinan tidak dibagi kursi oleh wanita muda yang lelah pulang dari bekerja, terlalu berisiko. Makanya Kanda menyarankan kami masuk ke gerbong umum saja. Siapa tahu ada pria gentlement yang mau berbagi kursi untuk Mama'. Saya skeptis sih, soalnya dulu pernah ada pria kekar besar tinggi pakai kacamata hitam duduk di dekat saya dan Nhepa. Pas ada wanita bawa anak bayi masuk gerbang dan berdiri di dekatnya, si laki-laki itu malah tetap diam saja di kursinya. Nhepa yang sigap berdiri memberikan tempat duduknya. Si pria kekar berlagak tidur dengan tegap dan gagah. Iyaa, itulah gunanya kacamata hitam di dalam kereta ya.. :p

Untunglah prasangka buruk saya tertepis, walaupun agak lama. Kami berdiri di sisi kanan, tapi tidak ada satupun pria muda yang duduk di depan kami menawarkan kursi untuk Mama'. Yang menawarkan kursi untuk Mama' malah pria yang ada di kursi seberang. Semoga pria tersebut dibalas dengan kebaikan yang berlipat ganda. Aamiin.

Sampai di stasiun, kami ke pasar jembatan merah lagi. Kali ini makan di tempat. Awalnya sih mau makan di food court-nya Plaza Jembatan Merah, eh food court-nya kosong melompong. Jadi pindah haluan ke lamongan tepat di depannya. Menunya nasi uduk, ikan lele bakar dan goreng, dan ayam penyet. Alhamdulillah, kenyang. Eh tapi ada kejadian lucu di warung makan tersebut. Ceritanya ada pengamen yang sebenarnya unik, tapi asli, lagunya benar-benar nggak asyik! Buat yang di Bogor, mungkin pernah ketemu pengamen ini: pengamen dengan biola. Cuman bisa ngelus-ngelus dada. Aduh, kok bisa pede main biola sok berkelas gitu ya. Boro-boro menghibur. Yang ada malah bikin yang dengar sakit telinga dan esmosi. Memang pengamen itu ada 2 jenis. Yang pertama, pengamen abal-abal yang berorientasi uang: siksa telinganya supaya dapat duit. Makin jelek suara, makin banyak uang yang didapat. Jenis pengamen kedua, pengamen profesional: hibur telinganya, masalah duit belakangan. Duitnya mungkin nggak beda dengan pengamen tipe pertama, tapi mukanya lebih cerah karena kerja dengan bahagia. Beda dengan pengamen yang kerjaannya nyiksa telinga orang, suram.

Duh, kenapa di postingan ini banyak ngelanturnya ya? Hehe. Balik ke cerita jalan-jalan. Kami sampai di rumah malam hari. Turun dari angkot, Mama' dan Bapak belanja buah di toko buah depan gang sedangkan saya dan Kanda membelikan pesanan Mama' dan tali rafia untuk mengikat barang-barang yang akan dibawa besok menggunakan motor. Benar-benar perjalanan panjang..

Gitu deh cerita jalan-jalan tanggal 21 Februari lalu. Perasaan senang setelah jalan-jalan bersama keluarga ingin saya ingat selalu. Semoga yang baca ikut senang yaa.. Salaam!

[Cerita sebelumnya]