3.19.2016

The Forest [Movie]

Suka film drama-misteri-horor? Saya sih sebenarnya tidak suka menonton genre ini, soalnya penakut sih. Hihihi. Eh tapi karena kemarin saya memberanikan diri nonton film horor terbaru, jadi mau sekalian cerita di sini deh. Siapa tahu ada yang nyari resensinya. Ya kan ya kan? *maksa :p

Oh ya, judul film yang saya tonton adalah The Forest. Ada yang sudah nonton?

Disclaimer: tulisan ini mengandung spoiler



Di film The Forest ini dikisahkan, ada seorang perempuan Amerika bernama Sara Price yang mencari Jess Price, saudari kembar identiknya yang dikabarkan hilang di Hutan Aokigahara, Jepang. Sara sangat mempercayai insting dan hubungan batin antara ia dan saudari kembarnya. Ia sangat yakin bahwa Jess masih hidup, tersesat di suatu tempat di Hutan Aokigahara yang terletak di sebelah barat laut kaki Gunung Fuji. Dengan bekal keyakinan itu, ia pun bertekad menjemput saudarinya Jess secepatnya. Ia pun terbang dari Amerika menuju Jepang, meskipun sebelumnya tunangannya, Rob, menyatakan keberatan atas keberangkatannya.

Sesampainya di Jepang, Sara memastikan diri bahwa jasad yang ditemukan di hutan, yang sebelumnya diperkirakan sebagai Jess, adalah bukan Jess. Ia lega sekaligus tak sabar ingin bertemu saudarinya. Karena itu, ia berencana untuk mencari Jess sendiri ke hutan. Ia sangat yakin Jess masih hidup dan membutuhkan pertolongannya sesegera mungkin agar tetap selamat.

Sayangnya, niatnya masuk ke hutan sendirian dilarang keras oleh masyarakat setempat. Ia mendapati info bahwa ternyata Hutan Aokigahara terkenal sebagai lokasi favorit untuk bunuh diri. Uhuk! Iya, bunuh diri.. Menurut masyarakat setempat, hutan ini dianggap memiliki yurei atau roh yang dapat memikat seseorang untuk memasuki hutan, membuat mereka tersesat, putus asa, lalu mendorong mereka untuk membunuh diri mereka sendiri. Agar selamat waktu mengunjungi hutan, masyarakat berpesan kepadanya untuk tidak pergi ke hutan sendirian dan tidak meninggalkan jalur hutan. Follow the path..

Karena tidak ada yang mau menjadi pemandu ke hutan, Sara pergi ke hotel tempat Jess menginap, untuk mengumpulkan info. Siapa tahu ada yang mengetahui keberadaan Jess sebelumnya. Saat minum, Sara berkenalan dengan Aiden, seorang reporter pria dari Australia yang cukup fasih berbahasa Jepang. Aiden mengaku sudah berkali-kali masuk ke Hutan Aokigahara, ditemani oleh teman Jepangnya yang seorang pemandu sekaligus pengamat fenomena bunuh diri di hutan tersebut. Sara pun meminta agar ia diantarkan mencari Jess. Aiden mengiyakan, sekaligus meminta izin agar ia boleh memasukkan berita reportase tentang Sara dan Jess dalam tulisannya nanti. Sara mengiyakan. Ia pun berbagi kenangan memilukan tentang kematian orang tua mereka saat mereka masih 6 tahun.

Esok harinya, Sara, Aiden, dan Michi (teman Aiden yang pemandu, orang Jepang yang cukup fasih berbahasa Inggris) memasuki Hutan Aokigahara dalam misi mencari Jess yang hilang. Sebelum masuk hutan, Michi berpesan agar berhati-hati di hutan tersebut, bahwa mereka mungkin melihat atau mendengar hal-hal yang tidak masuk akal karena yurei, jadi mereka harus ingat, jika itu terjadi kepada mereka, berarti itu hanya ada di dalam kepala mereka (berhalusinasi).

Sebenarnya Michi keberatan membawa Sarah ke dalam hutan karena ia melihat Sara memiliki hati yang sedih, tapi Sara menganggap itu alasan yang aneh. Ia pun tetap ikut masuk hutan bersama 2 lelaki yang baru dikenalnya itu untuk mencari kembarannya. Di dalam hutan, Sara dibawa masuk ke luar jalur hutan. Di luar jalur penelusuran itu, kompas tidak berfungsi. Tidak ada penjelasan berarti di film, tapi dari info yang saya baca, kemungkinan Hutan Aokigahara sulit ditembus oleh peralatan logam (seperti beliung, sekop) dan mengganggu kerja kompas karena hutan gelap dan sepi ini mengandung batuan vulkanik dan kandungan logam yang besar di kawasan tersebut, makanya orang bisa tersesat kalau keluar jalur penjelajahan.

Dan tempat yang menyesatkan merupakan tempat yang ideal untuk memenuhi keinginan bunuh diri...

Michi yang bolak-balik masuk Hutan Aokigahara sangat hafal dengan seluk beluk hutan serta perilaku pelaku bunuh diri di hutan. Ia mengatakan kepada Sara dan Aiden bahwa ada 2 alasan yang mungkin dari perilaku meninggalkan jejak berupa tali atau penanda lain (selotip plastik, dsb) di hutan itu. Yang pertama adalah agar tidak tersesat dan dapat kembali pulang dengan selamat. Yang kedua adalah agar jasad pelaku bunuh diri ditemukan orang lain sewaktu-waktu. Michi juga berteori (berdasarkan pengalamannya) bahwa tidak semua orang yang masuk zona terlarang itu benar-benar ingin bunuh diri. Kadang mereka hanya butuh waktu untuk sendiri sebelum kemudian memutuskan melakukannya. Jika mereka membawa tenda, kemungkinan besar mereka hanya ingin bermalam dan menyendiri dari keramaian, bukan untuk bunuh diri.

Setelah beberapa kali menemukan jasad orang bunuh diri di zona bunuh diri, di sore harinya akhirnya mereka bertiga menemukan sebuah tenda, yang setelah dikonfirmasi oleh Sara, positif merupakan tenda milik Jess. Ada buku hadiah ulang tahun dari Sara untuk Jess, beberapa baju tergantung di luar tenda, menandakan bahwa Jess berniat untuk kembali ke tempat itu, tapi entah bagaimana, tidak berada di tempat itu.

Berhubung hari sudah petang, Michi mengajak Sara kembali ke penginapan sebelum gelap datang, kembali ke tempat itu keesokan harinya dengan bantuan tim penyelamat untuk mencari Jess. Jika mereka tidak bergegas, mereka bisa tersesat. Tapi dengan keras kepala, Sara menolak bujukan Michi. Ia bersikeras untuk tetap tinggal di tenda, menunggu Jess kembali. Karena kasihan melihat Sara sendirian di hutan, Aiden menawarkan diri untuk tinggal dan menemaninya. Dengan berat hati, Michi meninggalkan mereka berdua. Ia berjanji akan kembali ke tempat itu bersama tim penyelamat, jadi mereka berdua dilarang meninggalkan tenda sebelum Michi tiba.

Tapi dasar cerita sih ya, tokohnya bandel. Ya, tapi kalau tidak bandel, tidak ada cerita, hihihi.. *life is never flat

Di malam hari, Sara keluar tenda karena mendengar bunyi gemerisik daun di sekitar tendanya, lalu mengejar seorang anak gadis jepang yang mengenakan seragam sekolah, bernama Hochiko. Gadis sekolahan itu mengatakan kepada Sara bahwa ia mengenal Miss Jess dan memperingatkan Sara untuk tidak mempercayai orang itu, don't trust him.

Esok paginya, Aiden menyarankan agar mereka segera meninggalkan tenda pagi-pagi sekali karena ia mengkhawatirkan tangan Sara yang terluka cukup parah waktu terjatuh saat mengejar Hochiko. Padahal Michi belum datang. Berhubung mereka tidak tahu jalan, Aiden mengusulkan agar berjalan menyusuri sungai, menuju hilir. Di hilir pasti mereka akan menemukan permukiman atau kampung.

Sara mengikuti Aiden dengan perasaan antara percaya dan tidak percaya kepadanya. Ia merasa ada yang aneh dengan Aiden yang begitu terlalu bermurah hati. Ia curiga kepada Aiden, lalu memeriksa ponsel Aiden dan menemukan foto Jess. Ia lalu menghapus file wawancaranya dan menarik izinnya untuk reportase Aiden tentang ia dan Jess. Aiden marah dan mereka bertengkar. Karena ketakutan, Sara melarikan diri dari Aiden, yang berarti tersesat lebih jauh ke dalam hutan..

Bagaimana akhirnya? Yah, baiknya tonton sendiri deh. Kalau menurut saya, ceritanya sih cukup menarik. Cuma ada beberapa scene di film ini yang menurut saya agak kurang gigit, klise tapi kurang penting, dan terkesan hanya berupa tambahan buat menakut-nakuti penonton saja. Tapi buat yang suka ditakut-takuti, boleh lah ya jadi ajang teriak-teriak melepas penat. :D  *abis ngaca

Oke. Cukup spoiler-nya sampai di sini. Hehe.

Oh ya. Kalau di budaya di tempat saya, cerita Sara dan Jess ini mirip kejadian ditapo'kan antu atau disembunyikan roh halus. Teman main masa kecil Mama' saya ada lho yang pernah mengalaminya. Kata Mama', yang nyari teman Mama' waktu itu sampai satu kampung, tapi tidak ketemu. Besoknya ia baru ditemukan sedang duduk di dekat pohon besar, kebingungan. Padahal pohon itu dilewati oleh orang kampung yang mencarinya. Menurut pengakuannya, ia melihat orang-orang yang berteriak-teriak memanggil namanya, tapi ia tak kuasa menjawab. Seperti beda dimensi, gitu. Makanya dulu kecil, kami dilarang main tapok-tapo'an (permainan petak umpet atau hide-and-seek) di sore hari menjelang maghrib. Selain khawatir diisengi makhluk halus, jelang petang juga kan sebaiknya digunakan untuk mempersiapkan diri beribadah sholat maghrib, minta perlindungan Allah supaya tidak diisengi oleh makhluk halus.

Tapi kalau sekarang anak-anak mah mainnya gadget ya, bukan petak umpet lagi.. :p

Baiklah, sepertinya cukup sekian review film The Forest versi saya. Selamat menonton tapi jangan sampai melalaikan dari sholat yaa.. Ciaw
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

1 comment:

  1. Aku nonton film ini baru seperempatnya belum selesai nonton, nonton sendirian malah makin serem nih :(

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungannya yaa. Salam kenal!

**Komentar dimoderasi karena banyak spam. Ihik!