9.23.2017

Pengalaman Terbang Bersama Kalstar dari Pontianak ke Putussibau

Mumpung masih segar di ingatan, kali ini saya mau mengulas pengalaman saya terbang dari Pontianak ke Putussibau beberapa hari lalu. Bagi yang belum pernah ke Pontianak maupun Putussibau, fyi saja ya, Pontianak dan Putussibau itu masih sama-sama terletak di 1 provinsi, yaitu Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia. Putussibau terletak di hulu Sungai Kapuas sementara Pontianak terletak di hilir Sungai Kapuas. Jarak antara kedua kota ini sekitar 570-an km. Kalau menggunakan kendaraan darat, bisa memakan waktu 12 jam, tapi syukurlah sekarang sudah ada pesawat dengan rute tersebut. Waktu tempuh jadi bisa dipangkas banyak. Sampai saya menulis artikel ini, baru ada 2 maskapai penerbangan yang melayani rute Pnk-Pts, masing-masing maskapai melakukan 1 kali penerbangan dalam 1 hari. Untuk keberangkatan saya menuju Putussibau kali ini, saya menggunakan Kalstar.

*Non-sponsored review, please read my disclosure policy for more information


Kalstar, Pontianak, Putussibau
Walaupun sudah pernah beberapa kali terbang dari atau ke Putussibau, ini adalah kali pertama saya menggunakan pelayanan maskapai Kalstar. Salah satu alasan saya memilih Kalstar untuk keberangkatan saya kali ini adalah karena saya penasaran mencoba hal baru, sekalian buat bahan tulisan di blog kan, hihi ^^ *dasar blogger!!  Selain itu juga pada tanggal tersebut harga tiket Kalstar lebih murah 100 ribuan dari maskapai satunya. Lumayan bisa ditabung. Hehe.

Seperti biasa, saya memesan tiket pesat lewat layanan online. Maklum, malas jalan, panas, macet. Banyak alasan yak. Hihi. Sayangnya belakangan saya baru tahu kalau maskapai ini belum melayani check-in online, alhasil saya harus check-in langsung di loket check-in bandara. Ini berarti harus teliti hitung-hitungan waktu supaya tidak terlambat.

Di tiket yang saya beli online tertulis, "check-in at least 90 minutes before departure" , artinya penumpang harus sudah check-in paling tidak 90 menit sebelum keberangkatan. Karena jadwal pesawat saya berangkat pukul 7.45 dari Bandara Supadio (Pontianak) dan sampai sekitar pukul 8.45 di Bandara Pangsuma (Putussibau), artinya saya harus sampai di Bandara setidaknya pukul 6.15 pagi, dan itu juga berarti harus turun sekitar sekitar 20-30 menit lebih awal dari rumah. Maka dari itu target saya adalah turun dari rumah paling lambat pukul 5.45 pagi. Dan supaya lebih tenang, segala macam barang harus sudah beres dikemaskan semalam sebelumnya. Sungguh rencana yang matang bukan?!

Setelah pamit dengan kedua orang tua tercinta, saya kemudian diantar oleh Kakak dan Abang. Kami menggunakan 2 motor karena barang yang saya bawa lumayan banyak. Di tengah perjalanan, saya baru ingat dengan jaket, jaket saya ketinggalan. Nahlo! Untungnya itu masih belum keluar komplek perumahan, jadi sempat berbalik. Tapi tentu saja itu makan waktu.

Di sepanjang jalan, Saya jadi lumayan tegang karena khawatir ketinggalan barang lagi dan telat. Biasa lah, namanya juga berangkat sendiri kan. Ada saja yang dikhawatirkan. Untunglah Kakak dan Abang mengantar sampai gerbang keberangkatan, jadi ada teman ngobrol dari tempat parkir sampai gerbang keberangkatan, sekadar melepas ketegangan. Sempat ketawa-ketiwi sebentar sebelum akhirnya saya babai-babai (maksudnya pamitan, hihi). Di dalam gerbang keberangkatan, saya sempat bingung nyari loket check-in maskapai Kalstar. Bukan karena lokasinya yang sulit ditemukan tapi karena mata saya rabun jauh. Kalau sudah begini baru deh rasanya pengen pakai kacamata, hhihi. Antrian mulai mengular, saya yakin saya tidak terlambat. Alhamdulillah.

Di ruang tunggu, panggilan kepada penumpang Kalstar Putussibau baru terdengar sekitar pukul 7.45. Ini berarti waktu keberangkatan mundur juga (mungkin sekitar 20-30 menitan). Kami --para penumpang-- menuju pesawat dengan berjalan kaki saja karena dekat. Saya termasuk penumpang yang awal masuk ke pesawat. Saya senang mengetahui bahwa saya dapat kursi di dekat jendela, yaitu di kursi nomor 9A. Tapi aw aw, ada seseorang yang duduk di kursi saya. Ada apa ini?

**Sampai di sini silakan di-skip sampai bintang berikutnya untuk membaca lanjutan review. Saya menulis ini hanya sebagai catatan kejadian di luar dugaan yang mungkin akan jarang terulang di lain waktu, tapi penting untuk pelajaran bersama. ;)

Saya sempat ragu. Saya cek lagi boarding pass di tangan saya, betul 9A, lalu mencocokkannya dengan nomor kursi yang terletak di bagasi kabin, betul kok. Tapi kenapa ada orang? Akhirnya saya menyapa embak-embak yang duduk di kursi saya tersebut. "Maaf, itu 9A kan ya? itu kursi saya kak" kata saya singkat, berharap ia segera beranjak. Eh si embak yang saya tegur malah marah. Doi bilang dengan percaya diri, "Ini kursi saya. Dari tadi saya duduk di sini".

Ngomong apa ini orang, batin saya. Apa yang dimaksudnya dengan "dari tadi". Emang dia penunggu pesawat? (-_-"")

Agar tidak berlarut-larut karena sudah banyak penumpang berdiri di belakang saya, saya segera memanggil pramugari terdekat sambil menunjukkan boarding pass yang saya miliki. 9A. Tapi bukannya menegaskan kalau itu kursi saya, pramugari nya malah bilang, "Mbak mau duduk dekat jendela yah? Ya sudah kalau begitu". Pramugari pun langsung meminta embak yang duduk di kursi saya untuk mengalah dan bergeser ke samping, ke 9B. Mak jleb!

Jujur saya agak sensi mendengar tanggapan pramugarinya. Emang dipikirnya saya kemaruk mau duduk di dekat jendela, apa? Enak saja. Biarpun gaya saya agak kampungan, gini-gini saya tahu adat kok, dan saya sudah pernah naik pesawat walau tidak sering. Saya tidak akan memaksa mengambil sesuatu yang bukan hak saya. Saya yakin 9A itu memang tempat duduk saya karena tertulis jelas di boarding pass. Karena itu saya bilang ke pramugarinya, "Ini bukan masalah mau atau nggak mau nya mbak, tapi itu MEMANG kursi saya". Sudah sih, itu saja. Saya cuma mau menegaskan dengan singkat dan sopan mengenai pendirian saya. Saya pun segera duduk dengan cantik di kursi 9A walaupun embak di samping saya tetap pasang wajah jutek. Kak atinye lah.. (baca: sesuka hatinya lah)

Tak lama berselang, seorang perempuan muda berdiri di lorong deretan kursi no 9, bertanya kepada saya, ini kursi nomor 9 kan? Saya jawab, ya. Dan begitulah, ia mengaku sebagai penumpang di kursi sebelah saya, 9B. Kejadian pun kembali terulang. Embak jutek di samping saya kembali keukeuh bahwa dia terpaksa duduk di kursi no 9B itu karena dia dipaksa oleh saya yang menginginkan tempat duduknya. Intinya, dia menyalahkan saya. Iih..

Saya lalu bilang ke cewek yang berdiri itu untuk memanggil pramugari saja supaya ada penengah. Dari pernyataan embak jutek, saya baru ngeh kalau rupanya yang dimaksudnya dengan "dari tadi" adalah penerbangan pertamanya dengan pesawat tersebut. Doi rupanya penumpang dari Ketapang yang mau ke Putussibau, sengaja tidak turun transit di Pontianak karena memang tidak ganti pesawat (maksudnya pesawat dari Ketapang itulah yang akan lanjut terbang ke Putussibau).

Pramugari terlihat bingung tapi tidak bisa berbuat banyak. Mereka berkata bahwa baru kali ini ada kasus nomor kursi dobel seperti ini. Jarang ada penumpang transit yang duduk di kursi yang sama. Mendengar penjelasan pramugari itu, barulah sepertinya si embak yang duduk di samping saya tersadar. Diam-diam ia mengecek kertas boarding pass-nya, dan jeng~jeng, ternyata benar. Doi itu pada penerbangan pertama (rute Ketapang-Pontianak) memang kebagian duduk di kursi 9A tapi untuk penerbangan kedua (rute Pontianak-Putussibau) harusnya pindah duduk di kursi 8F. Nah lho nah lho nah lhooo. Doi pun akhirnya pindah dan cewek tadi duduk di samping saya. Beres.

Kenapa saya menceritakan ini? Simpel sih. Menurut saya cerita ini bisa bermanfaat buat pelajaran bersama: teliti lah dengan boarding pass. Serius. Perilaku seperti ini kurang menyenangkan, terutama jika dibarengi dengan sikap yang jutek dan tidak bersahabat seperti embak yang saya ceritakan. Pelajaran juga buat flight attendant atau cabin crue wannabe, kalau ada 2 penumpang yang mengklaim tempat duduk yang sama, cobalah segera cek boarding pass-nya, mungkin ada salah satu yang kurang teliti. Siapa yang tahu, kan. Tapi ya sud lah. Pokoknya gitu deh ya. No offense to anybody.

** lanjut!

Untuk tempat duduk, menurut saya nyaman. Standar lah untuk kelas ekonomi. Ruang kaki cukup lapang untuk saya yang bertinggi badan antara 155-160 cm.

Kalstar Pontianak Putussibau

Pesawat baru take-off sekitar pukul 8 lewat, terlambat 20 menitan dari jadwal keberangkatan yang tertera di tiket. Sebagaimana biasanya, sebelum pesawat take-off, para awak kabin memberikan pengarahan singkat mengenai prosedur keselamatan kepada penumpang. Selebihnya, bisa dilihat di kartu petunjuk keselamatan yang tersedia di setiap kursi. Mirisnya, kondisi kartu petunjuk keselamatannya agak memprihatinkan, laminatingnya sudah rusak. Demikian juga kondisi majalahnya. Saya sih sudah biasa melihat maskapai penerbangan yang menyediakan majalah terbitan bulan lalu, tapi baru kali ini saya ketemu majalah yang sobek dan kehilangan beberapa halaman. Masih bisa dibaca sih, cuma berhubung smartphone saya sering nge-drop, saya jadi agak lebih perhatian dengan majalah dan kartu petunjuk keselamatan.

Kalstar Pontianak Putussibau
Tuh, koyak. Beberapa halaman juga ada yang hilang.
Untung info penerbangan maskapai Kalstar-nya masih terbaca

Kalstar  Pontianak Putussibau
Mohon kepada sesama penumpang. Tolong jaga ketertiban dan fasilitas pesawat. Jangan dirusak. 

Hal lain yang menarik untuk dibahas adalah urusan perut di udara alias konsumsi selama di pesawat. Terus terang saya tidak menyangka pesawat kecil ini menyediakan konsumsi untuk para penumpang. Memang sih jenis makanan dan cara penyajiannya sangat sederhana, yaitu segelas air mineral dan sebungkus wafer coklat yang diberikan tanpa kotak makanan. Meski begitu, saya sangat menghargainya terutama karena pramugarinya memberikan sambil tersenyum manis.

Kalstar Pontianak Putussibau

Pelayanan seperti ini jauuuuuh lebih manusiawi daripada ada tuh satu maskapai penerbangan yang sudah lah penumpang dikurung di dalam pesawat selama hampir 2 jam, eeh boro-boro dikasih kompensasi keterlambatan, dikasih minum air putih pun tidak! Amit-amit deh naik pesawat itu lagi, naudzubillah. Saking sebelnya saya dengan maskapai tersebut, saya sampai ogah me-review bahkan menyebutkan nama maskapainya di blog ini. Hehe

Dalam perjalanan kali ini, langit berawan tebal. Pemandangan di luar sering tertutup awan, terang. Kami beberapa kali mengalami turbulensi kecil dan ada satu kali pemberitahuan agar penumpang kembali ke tempat duduk dan memasang sabuk keselamatan untuk keamanan, tapi selebihnya normal.

Ini pemandangan waktu baru take-off

Pesawat sukses landing di Bandara Pangsuma, Putussibau, sekitar pukul 9.28. Dari jadwal tiket, ini molor hampir 45 menit. Karena ada bawaan saya yang masuk bagasi, jadi harus menunggu. Kalau urusan mengantri bagasi sih, untung-untungan ya. Saya kebetulan dapat giliran belakangan, heuheu. Tapi alhamdulillah tas yang masuk bagasi aman.

Kalstar Pontianak Putussibau
Ini pesawat Kalstar setelah landing di Bandara Pangsuma, Putussibau

Selain dari ketiadaan layanan check-in online, saya merasa penerbangan dengan Kalstar kali ini lumayan. Tidak sempurna tapi masih oke lah. Saya tidak keberatan kalau lain kali naik maskapai ini lagi. Harapan saya semoga pelayanannya semakin baik di kemudian hari.

[Baca juga Pengalaman Terbang Pontianak - Jogja Bersama Xpress Air]

Oke deh teman-teman, sampai di sini dulu ya. Semoga ulasan ini bermanfaat. Sampai nanti, bye!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

2 comments:

  1. ya ampun mau ngakak ngakak miris baca tragedi nomer bangku di pesawat, mba. ��

    Kayanya si emba udah terlanjur pewe deh jadi ga mau disuruh pindah

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungannya yaa. Salam kenal!

**Komentar dimoderasi karena banyak spam. Ihik!