6.19.2016

Paradoks "Jadilah Dirimu Sendiri"

Okeey. Di pagi hari ahad nan sejuk ini, saya mau berbagi sedikit hasil lamunan tentang istilah menjadi diri sendiri. Kalau orang Inggris bilang, be yourself.

Be yourself!


Jadilah diri sendiri. Sebenarnya ini topik yang agak telat untuk saya yang sudah melewati masa-masa remaja. Masalahnya, belajar kan tak pernah berhenti, ya. Apalagi memang saya masih suka bingung, apa wujud konkrit seseorang sudah menjadi dirinya sendiri?

Untuk orang-orang ekstrovert, menjadi diri sendiri itu cukup mudah. Pribadi mereka yang sangat mudah tersetrum energi lingkungan kalau berjumpa dengan orang lain membuat mereka cenderung bisa tahan berlama-lama bersenang-senang versi kebanyakan orang. Kalau bahasa anak sekarang, tipe seperti ini tuh seru, asyik, tidak jaim (jaga image, alias sudah jadi diri sendiri).

Beda dengan introvert. Bagi introvert, sebebas apapun berekspresi, mereka bisa merasa cepat capek dan tiba-tiba terdiam, lalu menyendiri untuk mengisi ulang kewarasannya. Menurut kebanyakan orang (yang kurang paham) orang seperti ini dianggap sebagai pribadi yang jaim, nggak asyik, nggak seru, nggak jadi diri sendiri.

Belum lagi kalau buat yang introvert sekaligus punya sifat patuh akan peraturan (judging). Mau berbuat atau berkata apapun, mikir dulu karena memang tidak suka melanggar aturan yang diyakininya. Akibatnya, menahan diri dalam menampilkan emosi atau berkata-kata. Di mata orang lain, sikap seperti ini bisa dianggap sangat kaku. Mudah sekali mencap yang seperti ini sebagai pribadi yang palsu, tidak jadi diri sendiri. Padahal kalau memang aslinya kaku, gimana? Masak mau dipaksakan, kan? Bukannya kalau dipaksakan malah nggak jadi diri sendiri?

Pada akhirnya ucapan "jadi diri sendiri" pun hanya jadi ucapan yang memaksa orang untuk menjadi pribadi yang diinginkan publik, bukan oleh sendiri. Padahal standar be yourself seseorang bisa berbeda dengan yang lain. Paradoks.

Bagaimana dengan teman-teman blog saya ini, sudah jadi diri sendiri? Berkenan berdiskusi tentang ini? Tulis di kolom komentar yaa.. :)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

6 comments:

  1. kalau menurut uda bukan paradoks, menjadi diri sendiri adalah berhenti terlalu mendengarkan publik... kalau masih memikirkan kata orang lain, pun kata orang lain untuk menjadi diri sendiri, berarti belum jadi diri sendiri. Fokus pada apa yang kita inginkan, bukan apa yang orang katakan...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jadi walaupun orangnya kelihatan asyik, gaul, ndak jaim, lucu, menyenangkan, dsb, tapi rupanya bentukan publik (maksudnya orang tersebut melakukan itu berdasarkan keinginan publik, bukan dari dirinya sendiri) itu masih belum "be yourself" ye da?..

      Delete
    2. kalau menurut uda gitu dind, seperti artis2 misalnye, kadang ade yang stress kan? karena dia dipaksa untuk menjadi orang lain, orang yang diinginkan publik, bukan dirinya sendiri... ade kan beberapa contoh yang kita tahu...

      Delete
  2. jadi introvert ataupun jadi ekstrovert tetaplah tidak menjadikan diri kita menjadi diri sendiri, maka alangkah lebih baik dan semakin merasa sempurna jika kita mampu menjadi diri sendiri.... dong ah

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungannya yaa. Salam kenal!

**Komentar dimoderasi karena banyak spam. Ihik!