6.02.2014

Hikmah Pertemuan Hari Ini

Hari ini Bu Nunung, dosbing saya, mengadakan pertemuan dengan anak-anak bimbingannya, termasuk saya. Dari 25 yang diundang, 17 yang hadir. Pertemuannya singkat, tapi memberikan arti bagi saya.

Yang hadir.. :)
Tidak dapat dipungkiri,
pertemuan-pertemuan berbau akademis seperti tadi bisa menularkan semangat akademis. Padahal hanya perkenalan, makan nasi kotak bersama, mendengar sedikit wajengan dari Ibu, foto bersama, setelah itu bubar. Semuanya dilakukan kurang lebih sekitar satu jam, dari jam 12-1 siang. Tapi efeknya sangat positif. Saya memang agak down karena yang angkatan 2011 cuma saya yang hadir, tapi setelah itu justru memberi semangat agar segera memperbaiki draft.

Betul lah kata orang, berteman dengan penjual parfum bisa membuat kita berbau harum, berteman dengan penjual ikan bisa membuat kita berbau amis.
#Ditulis dengan tanpa mendeskriditkan profesi penjual ikan. Saya suka makan ikan kok! *gagal fokus, hehe

Usai pertemuan, Bu Nunung sempat mengingatkan kami para bimbingannya untuk selalu menjaga kebersihan dan memilah sampah. Terdengar simpel dan remeh, tapi sangat penting. Tadi malah langsung praktek memilah sampah nasi bungkus makan siang. Benar-benar cara yang efektif untuk mengajarkan membuang sampah pada tempatnya, daripada sekedar bicara. Pendidikan moral dan etika memang tanpa batasan usia dan bukan sekadar teori, melainkan teladan dan praktek nyata juga.

Ide memilah sampah dan membangun sistim pengolahan sampah di kampus kami terbilang baik dimana sampah organik masukkan ke lubang biopori sedang sampah kertas dan plastik untuk didaur ulang sesuai jenisnya. Semoga hal ini dapat menular pada sistim masyarakat yang lebih luas. :)

Selain masalah sampah, Bu Nunung juga mengingatkan kami untuk mengurangi konsumsi produk luar negeri dan mulai membiasakan diri menggunakan produksi dalam negeri. Terutama pangan seperti gandum, buah impor, dan sebagainya. Hal ini dapat menolong para petani lokal dan pada akhirnya menolong diri kita sendiri juga.

Bayangkan, Indonesia merupakan importir besar bagi pasar gandum dunia. Saat ini kita sangat terbiasa makan mie, roti, dan makanan lain yang berbahan dasar gandum. Tidak salah, sih. Namanya juga kebiasaan. Tapi kebiasaan ini menjadikan kita lupa bahwa gandum tidak dapat tumbuh di Indonesia. Alhasil, impor gandum jalan terus, padahal petani lokal kebat-kebit menanam tanaman yang cocok dengan lanskap masing-masing daerah. Ujungnya harga jual menurun karena permintaan pasar tidak sesuai dengan persediaan. Minat masyarakat menjadi petani (produsen pangan) pun menurun. Petani banyak yang miskin dan pekerjaan sebagai petani dipandang sebagai pekerjaan rendah, kotor, dan tidak keren.

Lama-kelamaan petani bisa-bisa menyerah dan jual tanah demi kehidupan keluarga yang lebih baik. Tanah yang dijual umumnya dibeli orang kota yang mampu dan biasanya berorientasi ekonomi. Akhirnya terjadi perubahan tata guna lahan. Perubahan yang paling mungkin terjadi adalah ke arah pengembangan ekonomi dan biasanya mengesampingkan (bahkan melupakan) faktor lingkungan dan kesesuaian dengan sosial budaya masyarakat, dan ini sangat destruktif. Apalagi ketika terjadi secara besar-besaran. Akhirnya areal sawah yang subur berubah menjadi permukiman modern, industri dan perdagangan, perkebunan monokultur yang merusak lingkungan, dan sebagainya.

Perubahan tata guna lahan yang tidak sesuai jelas akan menuai bencana. Ibarat meletakkan orang yang tidak tepat di tempat yang tidak tepat. Tunggulah kehancurannya. Begitu Rasulullah pernah bersabda.

Saya jadi teringat kembali dengan nasihat Paulo Coelho berikut ini:



Saya merasa, Allah ingin saya mengingat ini lewat wajengan Bu Nunung tadi, supaya saya semakin termotivasi. Alhamdulillah.

Terakhir, yang tidak kalah penting, benar kata Rasul: silaturahmi memanjangkan rejeki. Sepulang pertemuan saya dibekali tambahan nasi kotak lebih untuk Kanda. Alhamdulillah. Saya juga sempat berbincang dengan beberapa teman pasca angkatan 2012 yang berbagi cerita tentang pengalaman mereka saat kunjungan singkat di Jepang. Keceriaan mereka tertular kepada saya. Sekali lagi, alhamdulillah...

Terima kasih, Allah.. :)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

4 comments:

  1. wow, bener-bener dipilih sampahnya ya, mba? salut sama kampusnya dan para penghuninya. sistem seperti ini kalo udah dibiasakan juga akan membuat perubahan di lingkungan rumah kita sendiri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya dipisah, mba.. Sudah dimulai sejak beberapa semester lalu. Tempat sampahnya juga disediakan. Cuma kadang sistem di luar itu (misalnya petugas kebersihan ilegal alias pemulung) suka sembarangan. Saya dengar masih sering juga mencampur sampah2 yang sudah dipisah... *tepok jidat

      Aammiin, semoga bisa jadi contoh, Mba... :)

      Delete

Terima kasih atas kunjungannya yaa. Salam kenal!

**Komentar dimoderasi karena banyak spam. Ihik!