4.01.2014

Remaja dan Asmara

Masih segar dalam ingatan, bulan lalu terjadi pembunuhan Ade Sara Suroto (19) yang dilakukan oleh Ahmad Imam al Hafitd (19) dan Assyifa Ramadhani (19) yang ternyata mantan pacar dan teman korban. Alasannya klise, hubungan percintaan yang rumit. Tak perlu saya ceritakan lagi kronologisnya karena teman-teman pasti sudah tahu. Mungkin bisa dikatakan berita yang cukup menggegerkan karena orang seperti kami yang tidak punya televisi pun bisa tahu tentang berita ini. Berita yang memprihatinkan sekaligus mengerikan. Apalagi setelah melihat foto akun sosmed mereka yang berpura-pura berbelasungkawa atas kematian Ade Sara dan saat sang pembunuh wanita terlihat tersenyum dan santai ketika diciduk polisi. Psiko... :(


Kasus kedua, hampir serupa dengan kasus yang menimpa Ade Sara. Motifnya sama, masalah cinta. Korban kali ini bernama Mia Nuraini (16), pelaku utamanya berinisial A yang merupakan mantan pacar korban, dibantu oleh teman-teman tongkrongan A, termasuk kekasih A bernama Yeti Heriyani. Ah sudahlah, kita skip ya..

Nah, baru saja hari ini teman-teman facebook saya yang berdomisili di Pontianak ramai memperbincangkan kasus pembunuhan di kota kami yang menimpa seorang gadis remaja yang bernama Putri Wulandari (16). Diduga pelakunya adalah pacar sang gadis sendiri, Nanang Supriyadi, dengan motif asmara. Masih terduga sih, tapi cukup meyakinkan karena status di akun facebooknya yang ~ckckck. Bahkan dia menerima pertemanan baru hari ini, padahal statusnya adalah buron. (-_-)

Prihatin sekali melihat pergaulan remaja jaman sekarang. Bayangkan, usianya masih belasan, tapi sudah punya mantan banyak sekali. Apa mungkin ini efek paparan pacaran yang terlalu dini pada anak-anak?

Menurut saya, hubungan seperti itu di usia remaja bukanlah cerminan fase dewasa dini. Justru karena kekanakan tapi terlalu cepat dihadapkan dengan masalah pelik yang belum terjangkau kedewasaan lah yang membuat mereka menjadi seperti itu. Labil. Tapi bisa juga karena kelainan jiwa sih, entah karena bawaan genetik atau pengaruh lingkungan seperti tontonan. Intinya, psiko. Faktor asal-muasal harta keluarga juga berpengaruh penting, karena di salah satu kasus kriminal di atas, pelakunya adalah anak dokter aborsi. Naudzubillah..

Maka saya berpikir dan berdoa, mudah-mudahan nanti jika Allah memberikan amanah keturunan, saya dan Kanda diberikan kemampuan untuk menjaga keturunan kami dari paparan negatif semacam itu. Dikaruniai keturunan yang sholeh-sholeha. Aamiin..
*Doa yang serupa untuk teman-teman pembaca juga.

Akhir kata, semoga kita semua dilindungi Allah dari kejahatan dan semoga kasus-kasus tersebut tidak terulang kembali... :'/  Aamiin