4.11.2014

My Unforgettable Journey : Berdua Mengejar Cita

Bagi teman-teman yang sudah terbiasa merantau sejak kecil mungkin menilai cerita saya ini agak berlebihan, tapi masing-masing orang punya sudut pandang yaa. Untuk saya yang baru belajar merantau setelah menikah, perasaan merantau itu bikin galau. :D

Ceritanya, sebelum menikah dulu saya dan beberapa teman termasuk suami saya yang waktu itu berstatus calon suami *sudah dilamar* hehe mendaftar program beasiswa dari DIKTI. Bulan demi bulan berlalu. Saya dan Kanda menikah. Kelulusan gelombang  pertama dan kedua kemudian diumumkan selang beberapa waktu. Waktu di pengumuman gelombang kedua, entah kebetulan apa, saya dan teman-teman seangkatan yang mendaftar tidak ada satupun yang lolos, tapi tidak juga terdepak. Istilahnya, masih digantung. Entah sampai kapan.

Akhirnya jadwal kuliah di semua universitas dimulai. Semangat kuliah yang berkobar akhirnya harus kami pedam dulu dalam-dalam di dalam hati. Semua harus tetap berjalan seperti biasa. Saya yang sebelumnya mengajar les privat di rumah kembali mengajar. Suami yang saat itu bekerja sebagai laboran lepas di sebuah SMA di kota kami juga tidak lagi terlalu memikirkan masalah beasiswa, demikian juga dua teman saya yang lain. Semuanya kembali menata hati, mengalihkan pikiran dari keinginan hati yang ingin sekolah lagi. Toh semua universitas sudah memulai kegiatan belajar-mengajar. Kami harus kembali menjalani hidup. Biar nanti ikut di tahun depan saja, begitu kami menghibur satu sama lain.

Tak disangka, ternyata ada pengumuman gelombang terakhir. Pengumuman kelulusan tersebut saya ketahui dari dosen kimia saya dulu saat S1, Pak Ari namanya. Beliau tiba-tiba mengirimi saya pesan, mengucapkan selamat atas beasiswa saya dan suami. Katanya kami berdua lulus. Saya bingung, tapi setelah mengecek ternyata saya, Kanda, dan dua teman angkatan saya lulus. Kami harus segera berangkat agar tidak ketinggalan materi terlalu banyak karena seperti yang saya katakan tadi, proses belajar-mengajar telah berlangsung beberapa pekan. Kami sudah ketinggalan.

Akhirnya dengan persiapan dadakan kami berangkat ke universitas tujuan. Saya dan Kanda ke Bogor, Aini dan Jumi (dua teman saya yang juga lulus) berangkat ke Purwokerto. Hanya selang beberapa hari dari pengumuman, kami harus segera berangkat meninggalkan kampung halaman, Pontianak, yang konon dapat selalu membuat kangen jika sudah minum air sungainya. Kapuas.. ^_^

Saya ingat betul, hari itu hari Kamis pagi. Mata saya agak sembab karena semalaman tidak bisa tidur dan kadang menangis. Menangis karena grogi dengan kehidupan baru di kota baru dengan status baru dan rutinitas baru, sedih karena harus meninggalkan keluarga terutama Mama dan Bapak apalagi Kakak saat itu tinggal di luar kota, sedih karena harus meninggalkan adik-adik didik yang selalu bisa menghibur saya dengan polah yang aneh-aneh, dan kekhawatiran-kekhawatiran lain di tanah rantau. Saya memang sudah mendaftar beasiswa dan tahu resikonya, tapi dengan segala hal yang begitu tiba-tiba dan tanpa persiapan, rasanya berat sekali.

Dalam hati saya berkata, inilah kehidupan. Kadang kita merasa telah memilih dan berencana, namun Allah juga yang menentukan waktu, tempat dan caranya. Dengan bismillah, kami akhirnya berangkat dengan pesawat pagi pukul 8 dengan harapan masih dapat mengurus verifikasi di kampus baru kami.

Oh iya, sebelum berangkat, sempat foto-foto dulu, difotokan +Irsyad Maulana :) Makasih dek..









my partner in life :)

Di bandara Supadio bukan masalah karena kami tahu jalan pulang ke rumah, tapi begitu tiba di Bandara Soekarno-Hatta rasa grogi langsung muncul. Apalagi mendengar berita kriminal yang banyak terjadi di ibukota, ya Allah.. Untung bisa segera naik ke bis Damri jurusan Soeta-Bogor. Kami tiba di Bogor siang. Bogor macet dan kami yang anak kampung bingung dengan nomor angkot yang harus diambil jika ingin ke kampus, selain itu juga karena barang bawaan yang lumayan banyak, akhirnya kami naik taxi gelap yang biayanya bikin mata gelap. :p

Bogor macet *oke tadi sudah saya bilang dan kami tiba di kampus sekitar pukul satu. Setelah check in di salah satu penginapan kampus untuk menyimpan barang-barang kami, saya dan Kanda langsung cus ke rektorat kampus, mengurus yang perlu diurus. Setelah lama menunggu, akhirnya dapat kejelasan bahwa isu tentang verifikasi mahasiswa baru harus dilakukan secepatnya ternyata tidak sepenuhnya benar. Maba baru diminta berkumpul pada hari Senin untuk melengkapi segala persyaratan, dan itu berarti masih 4 hari lagi.

Sebenarnya sesak juga rasanya mendengar pengumuman dari rektorat saat itu. Bayangkan, 4 hari di Bogor, dimana kami akan menginap? Penginapan kampus memang nyaman, tapi mahal. Sangat tidak ramah kantong mahasiswa yang ditopang beasiswa seperti kami. Tahu diri, kami merasa harus segera mencari penginapan murah, secepatnya. Setidaknya yang masuk akal harganya, jadi kami pun menghubungi seorang teman yang sudah duluan kuliah di sini, lalu pulang ke penginapan. Jalan kaki.

Yeah, jalan kaki, kesalahan yang cukup fatal. Awalnya karena berfikir bahwa kami setidaknya dapat keliling kampus sebentar sambil menghibur diri dengan pemandangan pepohonan segar yang ada di kampus hijau, juga menghemat biaya ojek yang kecepatannya keterlaluan di jalan naik turun yang mengerikan. Tak dinyana, kami tersesat. :p

Sampai di penginapan, kepala saya sakit dan langsung rebahan di tempat tidur, tertidur pulas. Kanda lebih ngenes, karena harus pergi lagi dengan teman yang mau membantu menemankan mencari kontrakan. Sore hari menjelang magrib Kanda baru pulang. Isi kantongnya pas-pasan karena lupa bawa dompet yang ada di dalam tas yang saya bawa masuk ke kamar saat berpisah di depan penginapan. Kanda tidak bisa membeli makanan, hanya membawa pulang sekantong plastik berisi satu minuman botol isotonik. Saya baru ingat, kami belum makan dari siang. Lapar sekali.

Akhirnya malam itu kami makan nasi goreng di depan penginapan. Lumayan mengurangi sakit kepala walaupun rasanya biasa saja. Malam itu juga kami dapat pinjaman motor dari seorang teman se-almamater di Pontianak yang sudah lulus kuliah duluan di kampus ini. Walau masih ada masalah penginapan, saya sangat bersyukur atas apa yang terjadi. Alhamdulillah.. ^_^

Itulah salah satu pengalaman perjalanan saya yang berkesan dan tidak ingin saya lupakan. It's not a great story but it's a sweet memory for me, momento dulce! ^0^
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

8 comments:

  1. Hihihi....sama kok Mak...
    pertama kali merantau untuk kuliah di Surabaya, saya merasakan hal yang sama.
    Apalagi sejak TK hingga kuliah D3 selalu dekat dengan ortu. Hampir 1 tahun pertama, setiap 3 bulan dirikuw pulkam.....Merantau pertama kali memang bisa bikin galau....hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahaha, saya waktu itu nggak bisa bolak-balik krn biayanya menguras kantong, Mak... Jadi dulu kerjaan saya selain belajar, kerja kelompok, ya mewek kalo rindu rumah.. Dan itu hampir rutin setiap hari.. Hahaha... Untung berdua suami, nggak kebayang mak, klo sendirian...

      Alhamdulillah sekarang saya udah lebih tenang karena Kakak saya juga udah pindah lagi ke Pontianak, jadi ada yang jagain ortu... ^_^

      Delete
  2. Keren dong bisa dapat beasiswa barengan suami. Banyak pengalaman pastinya :))

    ReplyDelete
  3. Mbak Delya, blognya so dulce kyk orangnya.. salam kenal jg ya mbak *hugs

    ReplyDelete
    Replies
    1. ^_^ salam kenal juga Mbaa.. Makasih ya udah singgah *hug

      Delete

Terima kasih atas kunjungannya yaa. Salam kenal!

**Komentar dimoderasi karena banyak spam. Ihik!