10.23.2013

Selamat Ulang Tahun, Pontianak!

Kemarin sepupu datang ke rumah untuk meminjam baju telo' belanga' milik Bapak, untuk dipakai oleh anaknya ke sekolah hari ini. Menurut keterangan dari sepupu saya itu, dalam rangka memperingati ulang tahun kota Pontianak ke-242 hari ini, para siswa dan guru dihimbau untuk menggunakan pakaian adat Melayu, baju telo' belanga' bagi para pria dan baju kurung bagi para wanita. Wah... :D

Bayangkan kalau anak-anak sekolah seluruh Kota Pontianak kompak menggunakan pakaian adat Melayu dalam satu hari: Hari Ulang Tahun Kota Pontianak... Kalau perlu pawai besar-besaran.. Widiih.. Pasti seru tuh!  Hmm, kalau benar kejadian, bisa-bisa Pontianak bisa memecahkan rekor MURI kategori "Pemakaian pakaian adat terbanyak". *mulai deh mengkhayal* :D

Memang sih kalau kita dalam posisi tidak (atau tepatnya, belum) memiliki pakaian adat pribadi, ide itu jadi cukup memberatkan ya. Saya sendiri belum punya baju kurung dan suami belum punya baju telo' belanga'. Tapi terus terang, setelah semalam bertemu dengan sepupu saya itu saya jadi kepingin punya baju adat Melayu pribadi lo(kalau nanti bisa menyisihkan uang). Pengennya sih corak dan warnanya kompak satu keluarga, biar seru. Saya yakin pasti berguna, paling tidak ketika acara keluarga atau pertetanggaan, asal tidak kekecilan saja... Hehehe  *iya nih, badanku duluuu tak begini* #nyanyi dengan sepenuh hati..  :p

Lagipula kalau bukan kita, siapa lagi yang diharapkan menghargai budaya sendiri? Tetangga? ~ha?

Oke, saya yakin perasaan kita sama. Miris kan kalau setiap kali negara tetangga mengklaim hak paten budaya duluan, kita baru heboh-hebohan protes.. Padahal kadang kitanya yang lupa sama budaya sendiri (ini ngomong sama diri sendiri juga).. Saya senang Pak Walikota Pontianak menghimbau penggunaan pakaian adat untuk memperingati hari ulang tahun kota Pontianak tahun ini. Semoga tahun-tahun berikutnya juga bisa tetap dilakukan. Banyak kota lain di Indonesia berhasil menguatkan ciri khas kotanya terutama karena andil pemerintahnya. Kalau baik tidak ada salahnya ditiru kan? :)

Bayangkan bila setiap daerah di Indonesia melestarikan kekhasannya, paling tidak saat kota atau daerahnya memperingati hari spesial --seperti ulang tahun kota, atau gawai, atau pesta rakyat--, minimal satu kali dalam setahun dan rutin, masyarakat pasti akan lebih mengenal budaya daerah tempat tinggalnya, dan lama-lama akan merasa memiliki dan bangga.

Pokoknya intinya, jangan sampai generasi muda lupa dengan budaya sendiri. Budaya kita banyak, sebagaimana banyak suku dan luasnya bentangan wilayah Indonesia. Masing-masing memiliki kekhasan yang harus dilestarikan. Contoh sederhana, artefak budaya Indonesia bukan hanya kain batik, kain tenun juga banyak, dengan pola yang khas di tiap daerah pula. Dan harusnya ini juga dilestarikan dan tidak dipaksakan sama untuk setiap daerah. Terus terang, saya agak keberatan mendengar ada yang mengklaim produk "batik khas daerah X" hanya karena produsen batik tersebut "meminjam POLA" kain tenun daerah tersebut. Sah-sah saja sih ya, untuk urusan bisnis, tapi untuk kepentingan budaya jadinya malah ambigu. Ujung-ujungnya nanti kain tenun yang khas malah hilang lenyap. Kalau menurut saya sih, supaya tidak ambigu ada baiknya dinamai "batik berpola khas daerah X". Bedanya sedikit, tapi berarti. Jadi selain jualan, misi melestarikan budaya batik dan budaya daerah yang dipinjam polanya sama-sama terangkat. Jayalah Indonesia. Gimana gimanaa? *angkat alis 2 kali* :D  -->berharap produsen batiknya baca saran ini  ^^

Kita memang harus ingat dan paham bahwa budaya itu tidak hanya yang berbentuk fisik dan konkret (seperti rumah, pakaian, perhiasan, bahasa, alat musik, tarian, lagu, kuliner, dan sebagainya) karena budaya juga tercakup dalam hal yang bersifat abstrak (seperti nilai-nilai, ideologi, kepercayaan, dan sebagainya). Tapi yang paling mudah digunakan untuk menggambarkan budaya ya yang bersifat fisik dan konkret itu, jadi mengapa tidak mulai dari yang mudah..

Saya setuju bahwa tidak semua budaya tradisional dapat dipertahankan karena kesesuaian masa/zaman. Perlu penyesuaian atau lenyap bersama waktu. Tapi asal baik dan tidak melanggar norma, kan lebih baik diperkenalkan sebelum hilang. Masalah apakah bisa dipertahankan atau tidak, tergantung manusianya, dan uang, dan kepentingan, sepertinya. *sekedar hipotesis*  Setidaknya sudah usaha dengan niat baik..

Oh iya, dalam rangka ulang tahun kota Pontianak juga, alun-alun kota disemarakkan dengan meriam karbit yang besar-besar. Semalam suara dentumnya terdengar sampai ke rumah saya lo. Padahal jaraknya jauh itu! Kalau orang Pontianak bilang: "balee, mantap e!" :D

Akhir kata, Selamat Ulang Tahun, Pontianak! Semoga pelayanan fasum semakin baik, jalanan bebas macet dan ramah pejalan kaki, penduduknya makin tertib, dan jadi kota yang bebas asap dan bebas banjir, listrik tidak byar-pret, air bersih lancar jaya. Makin oke lah pokoknya. Aamiin..
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

2 comments:

  1. Mantapnye... cume sempat liat meriamnye di angkat dari aer, ndak sempat liat dentumannye...
    Aamiin... mudah2n terlaksana... :D

    ReplyDelete
  2. ndak kalah ramai dengan dentuman pas mau lebaran idul fitri da... lebih jauh sih, tapi suara meriamnya masih jelas.. tapi semalam udah ndak kedengaran. hujan lebat soalnya...

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungannya yaa. Salam kenal!

**Komentar dimoderasi karena banyak spam. Ihik!